Friday, January 2, 2015

My Lovely Rival

Hari ini pengumuman murid teladan di sekolahku, SMA Harapan I. Acara yang diadakan setiap semester ini bertujuan  untuk memberikan apresiasi kepada murid yang memiliki prestasi baik, dan mungkin untuk memotivasi murid lainnya, begitulah menurutku. Aku sedang menyusun buku-buku pelajaran ketika ibu memanggilku dari dapur untuk sarapan. “ Ratih!!! Ayo sarapan dulu.” seru ibu “Iyaaa bu.” jawabku, aku pun bergegas ke meja makan untuk sarapan bersama ibu. “ Ratih, uang bulanan kamu masih ada? Ibu Retno belum bayar jahitan janjinya hari ini mau dilunasi, kamu masih ada uang kan?.” tanya ibu “Iya bu, uangnya masih ada kok ibu gak usah khawatir. “ ucapku “Maaf ya Tih, kamu jadi susah gini tinggal sama ibu.” ibu terdiam sambil menatapku sedih.“Bu, udahlah kita udah bahas ini ribuan kali, aku gak pernah nyesel tinggal sama ibu kalaupun kita kekurangan ini bukan salah ibu, ibu jangan salahin diri ibu sendiri.” ucapku sambil memeluk ibuku yang mulai menangis. Rasanya aku pun ingin menangis jika mengingat susahnya kehidupanku dengan ibu, tapi aku harus kuat demi ibuku.“Udah ya bu, Ratih berangkat ke sekolah dulu ibu jangan sedih lagi.” ucapku sambil mencium tangan ibu.“Iya Tih, kamu hati-hati ya di jalan.” ucap ibu. Aku pun berangkat ke halte di depan gang rumahku, bus tiba dan aku pun langsung naik kedalamnya. Kenangan enam tahun lalu kembali berputar di kepalaku, kenangan paling pahit untuk keluargaku. Enam tahun lalu saat aku masih duduk di kelas 7 , kedua orang tuaku berpisah karna ayah tergoda oleh janda beranak 3 yang menggodanya. Janda itu membujuk ayahku untuk menceraikan ibu dan menikahinya. Dan bodohnya ayahku, ia benar-benar menceraikan ibuku dan memilih hidup bersama janda itu. Dulu ayah mengajakku untuk tinggal bersama keluarga barunya itu, tapi aku sudah cukup pintar untuk memilih mana yang baik untukku. Itulah yang membuat ibu merasa bersalah hingga saat ini karna menurutnya aku hidup menderita dalam kemiskinan dengannya. Padahal belum tentu aku akan hidup bahagia dengan ayah dan keluarga barunya itu mengingat aku adalah ‘anak tiri’ disana.
Aku sedang membaca buku tentang politik Amerika Serikat yang kupinjam dari perpustakaan saat Mita datang menghampiriku dengan sangat bersemangat seperti memenangkan undian. “ Ratihhhh!!! Gimana udah siap buat nerima penghargaan murid terbaik ‘lagi’?.” menekankan kata ‘lagi’ dalam pertanyaannya itu. Dia adalah sahabatku sekaligus teman sebangku-ku sejak aku kelas 10. “Pagi- pagi udah berisik banget lo Mit, lagian belum tentu semester ini gue yang dapet penghargaannya, sok tau dasar.” ucapku mengejeknya.“Terus kalo bukan lo siapa lagi tih, lo udah jadi murid teladan dari kelas 10. Mana ada yang nandingin lagi sih. oh iya nanti kalo pidato jangan lupa sebut nama gue ya tih hehe.” ucapnya sambil cengengesan. “Hahaha iya kalo itu sih gak bakal lupa, udah ritual setiap semester sebut nama lo dipidato gue.”  “Hehe thanks ya tih, sorry numpang eksis gitu.” “Iya gapapa, emang lo udah bantu gue banyak kok mit jadi emang nama lo pantes ada dipidato gue.” “Haha iya kita sama-sama saling bantu kok, eh udah yuk kita ke aula kayaknya acaranya udah mau dimulai deh.” ucapnya sambil menarik tanganku. Kami pun menuju ruang aula yang sudah mulai ramai dengan murid-murid lainnya, dan menemukan deretan bangku yang masih kosong dan memutuskan untuk duduk disana. Acara pun dimulai dengan sambutan bapak Kepala Sekolah, dilanjutkan dengan sambutan guru bidang kurikulum dan setelah itu baru diumumkan siapa murid teladan semester ini.
Setelah penantian yang cukup lama, akhirnya guru bidang kurikulum menyelesaikan sambutannya kemudian bapak Kepala Sekolah kembali naik ke podium untuk mengumumkan siapa yang menjadi murid teladan semester ini. “Bapak akan langsung umumkan siapa murid teladan di sekolah kita semester ini, dan yang menjadi murid teladan semester ini adalah…..”katanya sambil membuka amplop. Murid-murid kelas 10 dan 11 nampak sangat tertarik dengan pengumuman ini, berbeda dengan kelas 12 yang tidak tertarik sedikit pun tentang ini. “dan murid teladan semester ini adalah…. Raihan Rahman dari kelas 12 IPA 2, kepada Raihan silahkan naik keatas podium.” Aku terdiam, belum mampu mencerna kata-kata kepala sekolah tadi.”Tih…Ratih!!!.” ucap mita sambil menggoncangkan tubuhku “Bukan lo murid teladan semester ini, kok bisa sih?kok si raihan bisa jadi murid teladan sih?.” ucap mita gusar. Aku melihatnya laki-laki yang baru saja merebut gelar murid teladanku, ia naik ke atas podium mengucapkan terima kasih kepada guru-guru dan teman-temannya, sebelum ia turun dari podium dia melihat kearahku, pandangan kami bertemu dan dia tersenyum kepadaku bukan senyuman yang menyenangkan, lebih tepatnya senyuman yang menunjukan kemenangannya kepadaku, senyum penghinaan. Aku hanya bisa diam tidak tahu harus bereaksi apa.
“Tih….Ratih..”ucapan mita menyadarkanku dari lamunan.” Lo masih kepikiran penghargaan itu ya?udahlah jangan sedih gitu.” “Enggak kok mit gue gak sedih cuma rada bingung aja, Raihan itu siapa sih? Kok gue familiar banget liat muka dia.“ucapku pada mita yang langsung memasang ekspresi kaget di wajahnya “Ratih!!! Lo amnesia apa gimana sih? Raihan kan satu kelas sama kita pas kelas 10 sama 11 masa lo lupa sih?.”ucap Mita tidak percaya “Hah serius lo?masa sih?.”Tanyaku tidak percaya dengan kata-kata Mita barusan .“Iya Ratih! Dia duduk sama Bayu pas kelas 10 sama 11 yang suka nyanyi di belakang kelas kalo pas pelajaran kosong itu, udah inget belum?.” “Oh iya iya, gue baru inget, yang dulu lo suka kan? Kok dia bisa jadi murid teladan ya?.”ucapku masih tidak percaya, anak yang kerjanya hanya bercanda dengan teman-temannya saat jam kosong, yang sering keluar masuk kesiswaan karna kenakalannya bersama teman-temannya itu, benar-benar sulit dipercaya.
“Tih gak usah disebut lagi itu kan jaman dulu, sekarang juga udah gak suka kok.”ucapnya dengan wajah cemberut. ”Tapi dulu pas kelas 10 sama 11 dia lumayan kok nilainya gak jelek-jelek banget, cuma karna dia bandel jadi guru-guru gak suka sama dia.”tambahnya lagi. “Iya kali ya, gue gak pernah merhatiin dia jadi gue gak tau apa-apa.”ucapku dengan nada mengejek pada Mita. “Ratih! ih ngeselin banget sih.”ucapnya sambil mencubit lenganku.
Liburan tengah semester pun dimulai, saat liburan yang kulakukan hanyalah membaca buku yang kupinjam dari perpustakaan, membantu ibu membersihkan rumah, dan mengerjakan tugas-tugas liburanku. Entah mengapa saat aku sedang membaca aku teringat acara pengumuman murid teladan itu, saat Raihan melihat kearahku dan memberikan senyum menyebalkan itu kepadaku “Huh, dia pikir dia siapa berani meledekku seperti itu, lihat saja semester depan aku akan mengambil kembali gelar yang dia rebut itu.” janjiku dalam hati, tapi kalau Mita tidak memberi tahu bahwa kami sekelas dengannya selama 2 tahun aku tidak akan sadar. Aku kembali mengingat-ingat kejadian-kejadian di kelas 10 dan 11 mungkin aku bisa mengingatnya, tapi nihil aku tetap tidak bisa mengingat apapun tentang Raihan mungkin memang benar aku tidak pernah memperhatikannya.Saat itu kami selesai pelajaran olahraga, aku dan Mita pergi ke kamar mandi untuk mengganti baju olahraga kami selama perjalanan kekamar mandi Mita sangat sibuk dengan handphonenya aku tidak tahu apa yang dia lakukan jadi aku memutuskan untuk tetap diam dan berjalan disampingnya, perhatianku teralihkan saat kami akan melewati kelas 12 IPA 2 mengingat bahwa si “pencuri gelar”-ku ada dikelas itu, aku penasaran bagaimana dia kalau dikelas jadi untuk memastikannya aku berjalan lebih lambat dan mengintip dari jendela untuk melihatnya, saat itu sedang pelajaran fisika. Aku berusaha mencari tapi tidak menemukannya tapi saat aku melihat kebangku paling belakang dia disana dengan tenangnya tidur dimeja. Mita yang sudah sadar bahwa ia meninggalkanku dibelakang kemudian menghampiriku. “Tih,lo ngapain disini?Ayo ganti baju nanti keburu bel masuk.”ucapnya sambil menarikku ke kamar mandi. “Tadi lo ngapain sih di depan kelas 12 IPA 2.?”Tanya Mita saat kami selesai ganti baju. “Liat Raihan Mit, masa dia tidur pas pelajarann fisika.”ucapku “Serius?ah aneh tuh anak udah gak usah dipikirin.”ucap mita kepadaku, aku pun mengangguk. Mita terlihat kembali sibuk dengan handphonenya “Mit lo ngapain sih?dari tadi sibuk banget meganging Hp” ucapku sedikit kesal.”Hehe, gue lagi sms-an Tih.” “Sama siapa?.” “Sama Jordi”ucapnya sambil tersenyum malu.”Jordi siapa?.” “Anak SMA tetangga, gue ketemu dia pas liburan ganteng banget Tih.” “Oh ya?jadi ceritanya lagi PDKT nih?.”“Hehe, iya Tih, anaknya baik banget, nanti deh gue kenalin.” “Sip, janji ya.”ucapku senang. Suatu hari sepulang sekolah, aku dipanggil oleh pak Surya guru matematika kami ke ruangan beliau, jadi aku kesana dan begitu melihatku pak Surya terlihat begitu senang. “Ratih, akhirnya kamu datang juga. Bapak mau minta tolong sama kamu, kamu bisa tolong bapak?.” “Minta tolong apa pak?kalo saya bisa pasti saya bantu pak.” “Begini, anak bapak masuk rumah sakit dia nangis-nangis minta bapak temani, tapi bapak harus bikin soal untuk ulangan harian adik kelas kamu, kamu bisa bantu bapak bikin soal untuk mereka?Tolong ya nak bapak gak tau minta bantuan ke siapa lagi selain sama kalian.” “Oh iya pak gapapa nanti saya bantu.”ucapku tidak segan jika menolak permintaan pak Surya. “Terima kasih ya nak, kamu kerjakan di ruang bapak, 50 soal saja gak usah banyak-banyak, nanti bapak bilang ke penjaga sekolah biar jangan dikunci dulu, oh iya itu buku kelas 11 buat contoh-contoh soalnya ya.“kata pak Surya. Aku mengangguk dan tiba-tiba ada seseorang yang masuk ke ruangan pak Surya, dia Raihan. Aku sedikit kaget apa yang dia lakukan disini pikirku. “ Ah Raihan akhirnya kamu datang juga, kamu sudah tau kan tugas kamu, sekarang kamu kerjakan yang sama Ratih, kamu buat soal untuk kelas 10 . Bapak tinggal dulu ya kalian”ucap pak Surya sambil keluar dari ruangannya.Untuk beberapa saat aku hanya diam menatapnya dan memutuskan untuk langsung menyelesaikan tugasku secepat mungkin begitupula dengannya dia langsung duduk disampingku dan mulai membuat soal. Aku tak tahu berada di ruangan ini bersamanya membuatku merasa aneh, aku merasa gugup. Aku melihat kearahnya dan melihat soal yang dia buat, dia sudah membuat 19 soal sedangkan aku baru membuat 3 soal aku memutuskan untuk kembali fokus ke pekerjaanku. Membuat soal jauh lebih sulit daripada mengerjakan soal, aku sudah membaca buku yang diberikan pak Surya tapi tetap tidak memiliki gambaran soal yang harus kubuat, tiba-tiba Raihan yang duduk disampingku berdiri dan melihat kearahku.“Gue udah selesai, lo udah selesai belum?.”tanyanya kepadaku. “Belum.”jawabku gugup “Yaudah, gue pulang duluan ya udah malem, bye.”ucapnya cuek. Aku baru sadar kalau ini sudah jam setengah tujuh malam saat dia bilang seperti itu, tiba-tiba terbayang dipikiranku aku disini sendirian dan ini sudah malam, aku merasa sedikit takut. “Han, tungguin gue dong.”ucapku sedikit takut saat dia sedang merapikan tasnya, dia melihat kearah kertasku lalu melihat kearahku.“30 menit bisa selesai gak sisanya?.”tanyanya “mmm…bisa kok bisa.” jawabku. Dia kemudian kembali duduk dan aku kembali mengerjakan tugasku itu, tapi tak lama kemudian aku kembali diam, bingung harus membuat soal seperti apa lagi. “Kok berenti? bingung?.”Tanyanya kepadaku. Aku pun mengangguk kemudian dia mengambil kertasku dan mengerjakannya. Dia benar-benar hebat, mungkin dia memang pintar aku salah menilainya pikirku.“Lo pasti benci sama gue?.” ucapnya tiba-tiba sambil tetap melihat kearah kertasnya. “Hah?enggak kok, gue gak benci sama lo.”jawabku bingung “Yakin?gue kan udah ngerebut gelar “murid teladan”-lo?.” ucapnya sambil melihat kearahku. “Oh itu, awalnya emang iya tapi sekarang liat lo yang ngerjain tugas gue dari pak Surya ini gue percaya kok kalo lo emang pantes dapet gelar itu”ucapku tulus “Tapi lo beneran hebat deh, padahal dulu lo kan biasa aja, pasti lo rajin banget belajar”ucapku sedikit menyindirnya. Dia melihatku kemudian tersenyum yang membuatku sedikit bingung. “Gue cuma beruntung kok, Tuhan ngasih gue otak yang lumayan encer.”ucapnya sedikit sombong. “Pinter maksudnya? Kalo gitu harusnya lo bisa jadi murid teladan dari dulu dong.”tanyaku sewot. “Gue bosen jadi anak baik , pengen coba jadi anak bandel”ucapnya sambil tersenyum. “Terus kenapa sekarang jadi anak baik lagi?”tanyaku penasaran “Karna kalo gue jadi bandel ada seseorang yang gak pernah liat gue tapi saat gue jadi anak baik,orang itu ngeliat gue bahkan perhatiin gue banget”jawabnya sambil tertawa kecil. “Lo kan kapten basket, jago lagi mainnya,mana ada yang gak kenal sama lo?.”ucapku terbawa suasana. “Ada kok.” “Siapa?.” Tanyaku penasaran. “Lo, tih, lo orangnya.” katanya sambil melihatku. “Kok gue?”tanyaku sedikit ragu. “Ya karena lo beda dari semua cewek di sekolah ini, disaat cewek-cewek lain cari cara buat dapet perhatian dari gue, lo malah sibuk sama buku-buku lo itu. Itu yang buat gue suka sama lo, tapi nyatanya lo gak pernah liat gue”ucapnya. Aku hanya terdiam, Raihan laki-laki yang banyak di idolakan teman-temanku ini bisa menyukaiku gadis yang bisa dibilang sangat biasa sepertiku.”Lo pasti kaget, tenang aja gue gak maksud nembak lo kok, gue cuma pengen lo tau aja tentang perasaan gue.”ucapnya sambil melihat kearahku dengan tatapan yang membuatku terpesona. “Udah selesai nih tugasnya, pulang yuk.” ajaknya kepadaku, aku pun mengangguk. Malam itu dia mengantarkanku pulang kerumah.
Sejak saat itu kami mulai mengenal dengan baik, sifatnya yang sebenarnya sangat jauh berbeda dengan yang aku kira selama ini. Mita yang awalnya bingung dengan kedekatanku dengan Raihan akhirnya mengerti setelah aku menceritakannya. Dia bahkan sangat mendukungku dengan Raihan.

Suatu hari setelah pulang sekolah, saat itu aku pulang sendiri karena Raihan harus mengawasi anggota basket yang sedang latihan untuk turnamen minggu depan. Saat aku melewati lapangan basket sebuah bola basket menggelinding kearahku, aku pun mengambilnya dan bermaksud untuk mengembalikannya tapi ketika aku melihat kearah lapangan, Disana Raihan sudah berdiri dengan teman-teman basketnya ia melihatku sambil tersenyum, sesaat kemudian dia memberikan aba-aba kepada teman-temannya yang serentak langsung berbaris dan menghadap kebelakang yang langsung memperlihatkan serangkaian kata. “Ratih! Lo mau gak jadi pacar gue?.” Raihan berteriak kepadaku sambil memegang bunga mawar merah. Seketika suasana menjadi ramai karena para siswa yang melihat kejadian itu langsung bersorak “Terima!!! Terima!!.” Aku pun langsung mengangguk menjawab pertanyaan Raihan itu, Raihan yang melihat jawabanku langsung berlari kearahku dan memberikan bunga yang ia bawa kepadaku. “Thanks Tih, Gue sayang banget sama lo.” Ucapnya sambil tersenyum “Gue juga Han” jawabku. Dan sekarang dia menjadi saingan sekaligus kekasihku.

Karya : Siti Chairani
Note : saya mempublikasi cerpen ini karena menurut saya hasil karya sahabat saya bagus.Tidak ada maksud untuk copycat atau penjiplakan  karena saya sudah meminta izin kepada pihak yang bersangkutan.

No comments:

Post a Comment