Sinar
mentari menembus jendela kamarku. Burung-burung benyanyi menyambut pagi yang
indah. “KRING..KRING..KRING..” suara jam weker yang keras membangunkan ku dari
mimpi indah ku. “ HAH.. udah jam 6. Gawat gue bisa telat nih.” Batinku. Tak
lama terdengar teriakan ibuku memanggil. “ TANIAAAA, cepat turun. Clara sudah
menunggu.” “ iya mah, sebentar lagi Tania turun.” Jawabku. Aku segera mandi dan
bersiap-siap pergi ke sekolah. Setelah merasa semua sudah beres aku pun turun.
“ pagi semua. Maaf Ra, lo jadi nunggu lama.” Ucapku sambil cengengesan. “
iya-iya udah biasa. Lo kan kebo susah banget buat bangun pagi.” Jawab nya
dengan muka cemberut. “ aduh jangan ngambek dong. Besok gue bangun pagi deh.
Yaudah yuk berangkat nanti telat.” Kata ku sambil menarik tangannya agar kita
cepat berangkat ke sekolah.
****
Nama
ku Tania. Aku adalah gadis yang baru berusia 17 tahun. Kata orang-orang sih aku
adalah gadis ceroboh. Ya tapi harus ku akui itu memang benar. Aku memang sering
sekali membuat kekacauan mulai dari sering menjatuhkan barang, tidak teliti,
selalu terjatuh dan masih banyak lagi. Aku juga cuek pada penampilanku. Karna
bagi ku abstrak adalah seni. Nah beda lagi cerita nya dengan teman ku yang satu
itu. Nama nya Clara. Dia adalah teman sebangku ku sekaligus sahabatku. Karna
hanya dia satu-satu nya yang tahan dengan sikap-sikap ku itu. Beda sekali
denganku Clara adalah gadis cantik yang sangat menjaga penampilannya. Badannya
yang langsing dan rambut nya yang lurus sebahu itu serta senyumnya yang
mempesona membuat ia menjadi perempuan idaman disekolahku. Tapi bagiku Clara
adalah gadis cerewet yang sangat setia mendampingiku dalam suka maupun duka.
Teman-teman disekolah pun heran kepada kami berdua. Kenapa kami berdua yang
mempunyai karakter berlawanan bisa akrab. Tapi itu lah persahabatan, menerima
apa adanya dirimu.
****
“
TENG..TONG..TENG..TONG..” Bunyi bel masuk pun berbunyi. Anak-anak yang mesih
berada di luar berduyun-duyun masuk ke kelasnya. “ Tan, lo inget gak hari ini
ada tugas Pak Jono?” tanya Clara kepadaku. “ hah, tugas apaan? Perasaan gak ada
tugas deh.” Jawabku dengan santai. “ kan, kan lo lupa lagi. Pak Jono nyuruh
kita bawa cacing buat praktek.” Ucap Clara menjelaskan. “Aduh gimana dong? Ah
pelajaran pertama lagi ya gimana dong? “ kata ku yang mulai panik. “ Udah tenang, gue bawa banyak. Ini bisa buat
kita berdua. Tapi masalah nya...” Clara menghentikan ucapannya dan mulai
kelihatan agak gelisah. “ Kenapa? Lo gak mau ngasih?” tanyaku penasaran. “
bukan.. Tapi gue jijik ngambil nya.” Jawab Clara sambil mengeluarkan kantung
plastik dari tas nya dengan menggunakan sapu tangan. “ Yaampun, gue kira apaan
Ra. Yaudah nanti gue deh yang ambil.” Kataku sambil tertawa terbahak-bahak
karna melihat muka Clara yang ketakutan dengan cacing. Ya itulah yang sering
kami berdua lakukan. Saling mengisi satu sama lain. Menghibur saat salah satu
dari kami ada yang bersedih. Tertawa bersama. Menangis bersama. Aku selalu
menceritakan semua hal yang terjadi pada Clara, begitu juga dengannya. Namun
ada satu hal yang tak pernah aku ceritakan pada nya. Dan mungkin tak akan
pernah aku ungkapkan.
****
Bel
tanda pelajaran usai pun berbunyi. Aku dan Clara lapar sekali. Jadi kami
memutuskan untuk pergi kekantin. “ TAN.. TAN.. TAN.. Liat tuh liat. Yaampun
ganteng banget.” Kata Clara setengah histeris. “ Siapa? Kok gue gak liat ada
yang ganteng disini.” Ucapku sambil memakan tahu isi dan pisang goreng yang
barusan ku beli. “ Itu si Dery. Liat deh dia, dia abis olahraga. Cool banget.”
Kata Clara menerangkan. “ Oh si Dery. Enggak ah, biasa aja. Udah yuk ke kelas.
Lo udah kelar kan makannya” Ucap ku dan beranjak pergi. Dery adalah ketua osis
di sekolahku. Dia juga kapten tim futsal sekolah kami yang selalu memenangkan
kejuaraan. Sehingga ia sangat populer di kalangan perempuan di sekolah kami.
Wajah nya yang putih dan senyumannya yang manis itu membuat para gadis
disekolah ini tergila-gila pada nya termasuk Clara, sahabatku.
****
Bel
pulang pun akhir nya berdering. Bel yang sangat dinantikan murid-murid termasuk
aku tentu nya. Mereka yang sudah jenuh berada di sekolah pun bergegas pulang. “
Tan, lo hari ini ada acara gak?” tanya Clara. “ Gak tau deh, gue belom liat
jadwal nih. Gue kan orang sibuk.” Jawabku sambil merapikan barang-barang yang
ada di mejaku. “ Anterin gue dong ke toko buku. Ada novel terbaru Tan. Kata
orang-orang itu bagus banget ceritanya.” Ajak nya dengan nada manja. “ eh maaf
Ra gak bisa. Hari ini itu hari pertama gue masuk les musik.” Jawab ku. “ Ah
Tania, ayo dong anterin. Masa gue sendiri. Forever alone dong.” Kata Clara
dengan wajah memelas agar aku menaminya. “ Maaf Ra, ini hari pertama. Nanti ibu
gue bisa ngamuk kalo hari pertama gue udah bolos.” Ucapku memberi penjelaskan
kepada nya agar dapat mengerti. “ Yaudah deh, gue sendiri aja. Gue duluan ya.”
Ucap nya yang kemudian pergi meninggalkanku. “ Hati-hati ya Ra, maaf gue gak
bisa.” Kata ku agak keras karna Clara mulai menjauh.
****
Hari
pun semakin sore aku memutuskan untuk langsung pergi di tempat les agar tidak
terlambat. Ternyata aku adalah orang yang paling awal datang. “ Kalo tau gini
sih, tadi mending gue pulang dulu aja.” Batin ku. Untuk menghilangkan rasa
bosan yang mulai datang. Aku memutuskan untuk membaca novel yang baru ku pinjam
dari Clara tadi pagi. Tiba-tiba seseorang datang dan mengejutkan ku. “ Hey, lo
anak baru ya. Gue duduk sebelah lo ya” Ucap seorang pemuda didepanku. Aku segera
menutup buku ku dan melihat kearah pemuda yang tiba-tiba duduk disampingku
tanpa izin dari ku. “ HAH DERY...” ucap ku dalam hati. Aku sungguh-sungguh tak
menyangka bahwa yang duduk disebelahku adalah Dery laki-laki idaman di
sekolahku. “ Lo Dery kan? Anak kelas 12 IPA 3?” Tanya ku dengan sedikit gugup.
“ Iya, lo Tania kan?” jawabnya sambil tersenyum lembut kepada ku. “ Loh kok lo
tau gue?” tanya ku heran. “ Iya lah siapa yang gak tau lo. Lo kan salah satu
siswi berprestasi disekolah.” Jawabnya dengan penuh semangat. “ Ah lo bisa aja
Der.” Kata ku dengan muka memerah.
****
Semenjak
hari itu, kini aku dan Dery semakin dekat. Kami sering mengerjakan tugas
bersama, menceritakan hal-hal lucu, pergi bersama dan masih banyak lagi. Sudah
hampir sebulan aku dekat dengan Dery. Tapi aku belum menceritakan ini pada
Clara. Aku takut ia marah. Kedekatan antara aku dan Dery pun akhir nya
diketahui oleh Clara. “ Tan lo kok gak pernah cerita ke gue kalo lo deket sama
Dery?” tanya nya dengan muka sedih. Aku sangat tidak tega melihat wajah Clara
yang seperti ingin menangis itu. “ Maaf Ra, gue takut lo marah sama gue.” Jawab
ku. “ Ya ampun Tan, gue emang suka sama Dery. Tapi gue gak akan marah ke elo
cuman gara-gara lo deket ama dia. Lo kan sahabat gue.” Ucap Clara sambil tersenyum
dan memeluk ku. Ucapan Clara barusan sangat menyentuh hati ku. “ Maafin gue ya
Ra. Hmmm, sebagai permintaan maaf gue, gimana kalo gue buat lo deket dengan
Dery.” ucapku dengan penuh semangat. “ Serius Tan?” tanya Clara Terkejut. “
Iya, lo mau kan?” tanyaku. “ Iya gue mau.” Jawabnya.
Aku
pun mulai mendekat mereka berdua. Setiap Dery mengajak ku pergi pasti Clara
akan ku ajak, dengan alasan bahwa aku tak enak hati jika Clara sahabatku itu
tidak ikut. Jika Dery menolak untuk mengajk Clara aku tidak mau pergi
dengannya. Akhirnya kami bertiga sering menghabiskan waktu bersama.
****
Tiba
pada suatu hari Dery mengirimi pesan kepadaku agar aku menemui nya di taman.
Sesampainya disana, aku melihat Dery duduk di kursi tua didekat air mancur. Aku
duduk disampingnya. “ Tan, menurut lo, Clara orang nya gimana? Lo kan
sahabatnya.” Tanya Dery kepada ku. “ hmm Clara ya. Dia itu cantik, baik,
trendy. Tapi kadang sedikit bawel.” Jawabku santai. “ Oh gitu ya.” Ucapnya “
Emang kenapa? Tumben lo nanyain dia?” tanya ku. Tapi Dery tak menjawab
pertanyaanku. “ DER LO DENGERIN GUE GAK SIH.” Aku berteriak di kuping nya.
Teriakan ku tadi membangunkan dia dari lamunannya. “ Eh maaf maaf apa tadi
ulang gue gak denger.” Kata nya dengan gugup. “ Ah lo sih mikirin gue mulu.”
Kata ku sambil tertawa. “ Ya enggak lah, masa gue mikirin cewek absurd kaya elo
sih. Gini Tan gue suka deh sama Clara. Gue mau nayatain perasaan gue.” Ucap
Dery, muka memerah karena malu. “ DEG..DEG..DEG..” jantungku berdetak cepat
seperti ada yang menganjal di hati ku tapi aku tidak mengubrisnya. “
Ciee..ciee.. ada yang jatuh cinta nih.” Ledek ku pada Dery. Muka Dery makin
memerah setelah aku meledeknya. Lalu ia pamit kepada ku. Dia bilang dia akan
menemui Clara dan minta aku untuk mendoakannya berhasil.
****
Sekarang
Clara dan Dery pun menjadi sepasang kekasih. Clara menceritakan bagaimana
perasaannya saat Dery menyatakan isi hatinya. Tiba-tiba rasa itu datang lagi.
Perasaan yang aku sendiri tak tahu apa arti nya. Tapi lagi-lagi aku tidak
mengubrisnya. “ Tan, gue seneng banget. Coba lo ada disana.” kata Clara. “
Hahaha.. gue ikut seneng kok Ra kalo lo seneng.” Ucapku tersenyum.
****
Empat
bulan tlah berlalu, kemarin saat upacara bendera kami diberitahu bahwa kami
lulus 100%. Dan hari ini kami akan melaksanakan wisuda. Lagi-lagi aku terlambat
bangun pagi. Sehingga aku terlamabat datang kesekolah. Ponsel ku berdering. Aku
melihat ponselku, ada 12 panggilan tak terjawab dan 50 pesan masuk. Tak lama
ponsel ku berdering lagi. “ hmm Clara ya.” Gumamku. Aku segera mengangkat
telepon masuk itu. “ Halo, Tania lo dimana? Acara udah mau mulai.” Sahut nya
dengan nada tinggi. “ Iya ini gue, udah mau jalan. Tadi gue kesiangan.” Ucap ku
menjelaskan. “ Yaudah buruan ya, acara nya udah mau mulai nih. Jangan lupa pake
baju yang kita beli ya.” Ucap nya kemudian mematikan telpon nya. kami memang
sudah mempersiapkan semua untuk acara ini. Bahkan kami membeli baju yang sama
untuk acara ini.
****
aku
segera mengendarai sepeda motorku. Karena aku takut terlambat aku memacu
kendaraan ku lebih cepat. Tak sadar bahwa didepan ada orang yang akan
menyebrang aku terkejut dan langsung membelokan ke arah kanan jalan. Kendaraan
ku menabrak sisi kanan jalan. Aku terjatuh, aku mencoba untuk bangkit. Tapi
badanku terasa sangat sakit sekali. Ku lihat tanganku penuh dengan darah. Orang-orang
mulai datang mengelilingi ku tapi lama-kelamaan pandangan ku mulai buram dan perlahan
semua menjadi gelap.
****
Clara
masih menunggu sahabat nya. Tapi orang yang tunggu tak kunjung datang. Kini
hati nya mulai gelisah. “ Kring.. Kring..” bunyi ponsel Clara. Dilihat nya
telepon itu. “ Tania Calling..” begitu tulisan di layar ponselnya itu. Dengan
cepat Clara mengangkat nya. Baru saja Clara ingin memarahi sahabatnya itu,
terdengar suara ibu Tania sambil terisak-isak. “ Ra, Tania Ra.” Suara ibu Tania
pelan. “ Tania kenapa bu?” tanya Clara yang mulai panik. “ Tania meninggal
dunia Ra.” Ucap ibu Tania sambil menangis. Mendengar berita itu, seketika lutut
Clara menjadi lemas. Clara terjatuh. Tangisannya tak bisa ia tahan lagi. Ia
menangis histeris.
****
Setelah tenang Clara langsung menuju rumah
Tania. Dilihat sahabat nya itu terbaring lemah tak berdaya. Ia mencoba untuk
menahan tangis nya tapi tetap saja ia tak bisa menahannya. Rasa kehilangan yang
mendalam yang kini ia rasakan. Tania dimakamkan tak jauh dari rumah nya.
Selesai acara pemakaman, Clara pergi menuju rumah pohon tempat biasa dia dan
Tania menghabiskan waktu bersama. Teringat oleh nya kenangan bersama Tania. Air
mata nya kembali mengalir. Tiba-tiba ia menemukan buku biru yang selalu Tania
bawa. Ia heran kenapa buku itu ada disana. dibuka nya buku itu selembar demi
selembar. Dan pada lembar terakhir Clara sangat terkejut. Isi lembar itu adalah
:
Dear
Deary,
Tadi
Dery menelfonku ia berkata ingin bertemu denganku. Aku segera menghampirinya
tapi aku tak menyangka bahwa ia akan berkata bahwa ia menyukai sahabatku.
Hatiku sakit sekali mendengar perkataannya tapi aku tak mau mengacaukannya.
Jadi aku mengabaikan perasaan ini. Tapi kenapa setiap aku melihat mereka
bersama perasaan ini selalu menyelimuti hatiku. Apa jangan-jangan aku tlah
jatuh cinta dengannya? Tapi bagaimana dengan Clara, aku tak mau ia tersakiti.
Ia sangat mencintai Dery. Ia akan bahagia bersama nya. Biarlah ini menjadi
rahasiaku.
Clara
menangis sejadi-jadi nya. hati nya sangat sakit melihat tulisan dikertas itu.
Andai ia tau bahwa sahabat nya juga menyukai Dery mungkin ia akan mengalah
karena dari Tania lah sekarang Clara bisa dekat dengan Dery. Tapi semua sudah
terlambat tak ada yang bisa dilakukan Clara. “ Tan kenapa lo gak pernah cerita
soal ini. Kenapa Tan.” Batin Clara.
****
Seminggu
lebih Clara mengurung diri dikamar. Ia sangat merasa bersalah pada Tania. Dery
yang melihat kejadian ini sangat bingung. Karena ia tidak tahu apa-apa.
Akhirnya ia memaksa Clara untuk bercerita. Setelah mengetahui semua yang
terjadi Dery berusaha menghibur Clara. “ Ra, ini semua bukan salah lo kok. Dia
pergi karena memang udah takdir. Lo jangan kaya gini. Sama aja lo gak
berterimah kasih pada pengorbanan Tania. Ini yang dia mau. Tania mau kita
bahagia bersama. Jadi berenti buat nyalahin diri lo Ra.” Ucap Dery mencoba
menenangkan Clara. Tapi Clara hanya diam. Ia tak berkata apa-apa.
****
Seiringin
berjalannya waktu pun Clara bisa menerima kenyataan bahwa ini semua memang
sudah takdir yang digariskan Tuhan Yang Maha Esa. Walaupun kini Tania tak ada
disisi nya tapi Tania selalu ada di hati Clara. Ya sahabat terbaik yang pernah
dimiliki Clara.
*TAMAT*
Karya : Desy Dwi Jayanty
Note : saya mempublikasi cerpen ini karena menurut saya hasil karya sahabat saya bagus.Tidak ada maksud untuk copycat atau penjiplakan karena saya sudah meminta izin kepada pihak yang bersangkutan.
No comments:
Post a Comment