Wednesday, April 22, 2015

Pengantar Kreativitas dan Keberbakatan

Tokoh- Tokoh yang Berpengaruh Dalam Dunia Internasional maupun Nasional 


  1. Tokoh Kreatif : Christian Dior


Legenda Perancang Busana Perancis

Christian Dior merupakan salah satu perancang busana paling berpengaruh di dunia. Selama karirnya, dia bertanggung jawab untuk sebagian besar penyebaran desain fashion Perancis ke seluruh dunia. Dior lahir pada 21 Januari 1905 di kota tepi laut Granville di Normandy, Perancis. Christian Dior berasal dari keluarga kaya dan dibesarkan bersama dengan empat saudara lainnya di sebuah rumah dengan pemandangan laut. Ketika Dior berusia sekitar lima tahun, keluarganya pindah ke Paris, tapi secara teratur masih kembali ke pantai Normandia untuk liburan musim panas.
Dior mempelajari ilmu politik untuk menyenangkan orang tuanya meskipun sebenarnya dia berkeinginan menjadi seorang arsitek. Meskipun orang tua Christian Dior berharap anak mereka kelak menjadi seorang diplomat, ayahnya akhirnya bersedia membiayai pembukaan galeri seni milik Dior pada tahun 1928. Galeri seni itu ternyata cukup sukses dan memamerkan berbagai karya seniman besar seperti Pablo Picasso.
Tiga tahun kemudian, setelah kematian ibu dan kakaknya serta akibat terjadinya penurunan bisnis pupuk yang digeluti keluarga Dior, galeri seni tersebut harus ditutup. Seiring penutupan galeri, Christian Dior menghidupi dirinya dengan menjual sketsa busana untuk rumah adibusana. Selanjutnya, dia menjadi asisten desainer Robert Piguet. Dior pernah membuat gaun untuk istri perwira Nazi selama Perang Dunia II. Dia bekerja untuk perusahaan fashion cukup besar yang dimiliki oleh Lucien Lelong pada tahun 1940-1945 sebelum beralih ke bisnis serupa milik Marcel Boussac. Boussac, disebut The King of Cotton, memiliki sebuah perusahaan pakaian bernama Phillipe di Gaston. Boussac membantu membiayai pendirian The House of Dior di sebuah rumah besar dengan delapan karyawan.
Pada tahun 1947, label New Look milik Christian Dior telah sangat mempengaruhi mode di seluruh dunia. Istilah New Look diberikan kepada desain Dior karena dianggap memiliki tampilan berbeda dari gaya busana pada waktu itu. Gaun rancangan Dior terkenal menarik seperti misalnya rancangan dengan bentuk jam pasir yang menjadi tren pada akhir 1940-an hingga awal 1950-an. Christian Dior menjadi sukses dan kaya sebagai perancang busana terkenal dunia. Christian Dior adalah seorang desainer yang ahli dalam memainkan bentuk dan siluet. Karya-karyanya sangat luar biasa. Lihat saja karya-karyanya yang dipajang di The Metropolitan Museum of Arts berikut ini:
1946
1947
1948
1949
1950
1951
1952
1953
1954
1955
1956
1957
Dia meninggal di Italia pada tahun 1957 setelah tersedak tulang ikan dan kemudian mengalami serangan jantung. Yves Saint Laurent, asisten Dior selama empat tahun, menjadi kepala desainer Dior setelah kematian sang pendiri.

sumber : http://www.metmuseum.org

http://id.wikipedia.org/wiki/Christian_Dior

http://www.amazine.co/28161/siapakah-christian-dior-legenda-perancang-busana-perancis/



2. Tokoh yang Bertalenta : Raisa Andriana

Raisa Andriana yang lahir di Jakarta, 6 Juni 1990, cewek cantik ini berprofesi sebagai model dan penyanyi. Awalnya Raisa terjun di dunia hiburan di tahun 2008 bersama band Andante yang di bentuk oleh Kevin Aprilio, Andante ini merupakan awal mula dari berdirinya band Vierra, band ini memiliki 5 personil yaitu Raisa Andriana, Widi Soediro, Raka Cyril, Satrianda Widjanarko, dan Kevin Aprilio. Band Andante terpaksa mengeliminasi 1 anggotanya yaitu Raisa karena keinginan label untuk meminta berganti konsep yang baru, namun ia mulai di kenal masyarakat saat menjadi penyanyi solo dengan membawakan lagu berjudul Serba Salah.
Raisa mengeluarkan album pertamanya yang dirilis pada tahun 2011 bertajuk namanya sendiri (RAISA) oleh lebel Solid Records dan Universal Music Indonesia. album tersebut diproduseri oleh 3 musisi yaitu Asta Andoko (RAN), Ramadhan Handy (Soulvibe), dan Adrianto Ario Seto (Soulvibe), dan didukung oleh Executive Producer untuk Solid Records yaitu Nanda Oka dan Asta Andoko. Dan lewat single yang berjudul Serba Salah yang berada di album tersebut, membawanya mendapatkan penghargaan dari Anugerah Planet Muzik 2012 sebagai Best New Female Artiste.
Setelah resmi keluar dari band Andante Raisa sempat bernyayi dari kafe ke kafe, hal ini yang membuatnya lebih banyak mendapatkan peluang dalam menunjang keberhasilan di karirnya, dengan melalui jaringan pertemanan yang luas, sehingga Raisa memiliki link yang tepat sebagai salah satu penentu keberhasilan dalam karirnya. Kini, Raisa lebih nyaman menjadi penyanyi solo. Sebenarnya bakat menyayi Raisa sudah terlihat sejak ia masih kecil, yaitu saat berusia tiga tahunan. saat itu Raisa cilik sering berdandan layaknya penyanyi sungguhan dan tampil di atas panggung.
Dalam karir menyayinya, Musik Raisa terinpirasi dari beberapa musisi terkenal mancanegara seprti Alicia Keys, Brian Mcknight, dan juga Joss Stone, salah satu pengalaman yang paling mengesankan dalam karirnya sebagai penyanyi ialah pada saat dirinya digandeng oleh musisi kenamaan asal Amerika David Foster di Jakarta beberapa waktu yang lalu. Nama Raisa mulai dikenal saat ia membawakan lagu yang berjudul Serba Salah, ketika itu ia menjadi salah satu tamu di ajang Java Jazz Festival 2011. Dari sanalah karir Raisa menjadi semakin menanjak yang mengantarkannya untuk mendapatkan penghargaan sebagai pendatang baru terbaik di Anugerah Musik Indonesia.
Setelah berhasil di album pertama, pada tahun 2013 tepatnya bulan november Raisa kembali merilis album keduanya yaitu Heart to Heart. Album tersebut berisikan 9 lagu antara lain lagu Bersinar, Hari Bahagia, Pemeran Utama, Teka-teki, Let Me be(I Do), Katakan!, LDR, Bye-bye dan Mantan Terindah. Semua single di album tersebut diyakini Raisa memiliki kualitas dan bisa diterima oleh para pendengarnya, karena selama menggarap album ini Raisa melakukan seluruh persiapan dengan matang mulai dari musikalitas sampai tekhnik vokal yang diakuinya lebih dewasa dari pad album sebelumnya, karena ia ongin menujukan kalau ia bukan bukan sekedar penyanyi aji mungpung.
Launching album kedua Raisa yang berjudul Heart to Heart berlokasi di Soehana Hall, Gedung Energy Jakarta Selatan, yang disulap menjadi ruangan yang menyenangkan dengan tema gembira versi Raisa. Di acara tersebut juga, Raisa mengadakan konser showcase Heart to Heart album secara khusus untuk media/wartawan dan yang terpenting untuk 300 yourraisa (sebutan fans Raisa) yang telah terpilih lewat pre-order Box Set Raisa di raisa.flagig.com.
Di tahun 2014, Raisa di percaya sebagai juri tamu Indonesian Idol 2014 untuk audisi Yogyakarta, dan sesekali menjadi juri tamu pengganti di ajang konser Indonesian Idol 2014 yang waktu itu ditayangkan secara live. Hal tersebut menjadi kebanggaan tersendiri buat dara cantik berambut panjang ini, karena tidak semua penyanyi bisa didapuk sebagai juri di ajang sebesar Indonesian Idol. Berarti nama Raisa sudah diakui di belantika musik tanah air karena sudah disejajarkan dengan para juri dan musisi senior yang lebih hebat.
sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Raisa
http://www.profilpedia.com/2014/04/profil-dan-biografi-lengkap-raisa-andriana-penyanyi-indonesia.html
3. Tokoh Berbakat : Ludwig Van Beethoven

Ludwig van Beethoven lahir pada tahun 1770 di kota Bonn, Jerman. Semasa kanak-kanak sudah tampak jelas bakat musiknya yang luar biasa dan buku musik ciptaannya muncul pertama kali tahun 1783. Di usia remaja dia berkunjung ke Wina dan diperkenalkan kepada Mozart tetapi perjumpaan keduanya berlangsung singkat. Tahun 1792 Beethoven kembali ke Wina dan sebentar dia belajar musik dengan Haydn yang kala itu pencipta musik Wina kesohor (Mozart mati setahun sebelumnya).


Beethoven menetap di Wina, Mekkahnya musik waktu itu, selama sisa hidupnya. Rasa musik Beethoven yang tinggi selaku pemain piano mengesankan tiap pendengamya dan dia berhasil baik selaku pemain maupun guru. Segera dia menjadi pencipta musik yang produktif juga. Karyanya dapat sambutan baik. Sejak umur pertengahan dua puluhan ke atas, dia sudah mampu menerbitkan dan menjual buku ciptaan musiknya tanpa kesulitan apa pun.


42. LUDWIG VAN BEETHOVEN (1770-1827)
Ketika Beethoven berumur di ujung dua puluhan, tanda-tanda ketuliannya mulai tampak. Tak pelak lagi gejala ini amat merisaukan si komponis muda. Tuli buat seorang pencipta musik betul-betul suatu malapetaka. Suatu ketika timbul keinginannya mau bunuh diri saja.



Tahun-tahun antara 1802-1815 sering dianggap masa pertengahan karier Beethoven. Pada masa istirahat itu, akibat ketuliannya menghebat, dia mulai mundur dari pergaulan masyarakat. Ketunarunguannya ini membuat orang punya kesan tidak yakin bahwa Beethoven memang betul-betul anti manusia, anti masyarakat, benci bergaul. Dia terlibat dengan percintaan yang kerap dengan gadis-gadis muda tetapi tampaknya semua hubungan ini berakhir tak bahagia dan tak pernah beristeri.

Karya musik Beethoven sendiri menggila produktifnya. Tahun-tahun terus berjalan namun perhatian yang diterimanya makin lama makin susut yang mestinya populer buat seorang komponis seperti dia di jaman itu. Tetapi, kesuksesannya menanjak terus.

Pada usia empat puluhan Beethoven menjadi seratus persen pekak. Akibatnya, dia tak pernah lagi tampil di muka umum dan semakin menjauhi masyarakat. Hasil karyanya semakin sedikit dan semakin sulit di fahami. Sejak itu dia mencipta terutama buat dirinya sendiri dan beberapa pendengar yang punya ideal masa depan. Dia pernah bilang kepada seorang kritikus musik, "Ciptaanku ini bukanlah untukmu tetapi untuk masa sesudahmu."

Ini merupakan ironi yang kejam dari sebuah nasib bahwa seorang komponis paling berbakat sepanjang jaman harus tertimpa musibah ketulian semacam itu. Kalau saja Beethoven dengan kekuatan tekad non-manusiawi -- dalam ketuliannya itu-- terus tetap menjaga mutu komposisi musiknya, ini akan merupakan hal yang memukau dan brilian.



Tetapi, kenyataan lebih mengherankan lagi ketimbang yang dibayangkan dalam masa tahun-tahun ketulian totalnya, Beethoven melakukan ciptaan tidak sekedar setarap dengan apa yang dihasilkan sebelumnya, melainkan umumnya dianggap merupakan hasil karya terbesarnya. Dia meninggal di Wina tahun 1827 pada usia lima puluh tujuh tahun.

Karya Beethoven yang banyak itu termasuk 9 simfoni, 32 sonata piano, 5 piano concerto, 10 sonata untuk piano dan biola, serangkaian kuartet gesek yang menakjubkan, musik vokal, musik teater, dan banyak lagi. Tetapi, yang lebih penting dari jumlah ciptaannya adalah segi kualitasnya. Karyanya merupakan kombinasi luar biasa dari kedalaman perasaan dengan kesempurnaan tata rencana. Beethoven memperagakan bahwa musik instrumental tak bisa lagi dianggap cuma punya nilai seni nomor dua. Ini dibuktikan dari komposisi yang disusunnya yang telah mengangkat musik instrumental itu ke tingkat nilai seni yang amat tinggi.
Beethoven benar-benar seorang pencipta orisinal yang jempolan dan banyak perubahan-perubahan yang dilakukan dan diperkenalkannya mempunyai pengaruh yang abadi. Dia memperluas ukuran sebuah orkestra. Dia menambah panjangnya simfoni dan memperluas daya jangkaunya. Dengan mendemonstrasikan kemungkinan yang hampir tak terbatas yang bisa dihasilkan oleh piano, dia membantu menjadikan piano itu instrumen musik yang paling terkemuka. Beethoven membuka babak transisi dari musik klasik ke musik bergaya romantik dan karyanya merupakan sumber ilham untuk gaya romantik.

Dia menanamkan daya pengaruh yang menghunjam pada diri komponis-komponis yang muncul belakangan, termasuk tokoh-tokoh yang memiliki gaya berbeda seperti Brahms, Wagner, Schubert dan Tchaikovsky. Dia juga merintis jalan buat Berlioz, Gustav Mahler, Richard Strauss dan banyak lagi lainnya.

Nyata benar, Beethoven mesti ditempatkan di atas musikus mana pun dalam daftar urutan buku ini. Meski Johann Sebastian Bach nyaris punya keistimewaan setara, karya Beethoven lebih luas dan lebih sering didengar ketimbang ciptaan Bach. Lebih dari itu, sejumlah penyempurnaan yang dilakukan Beethoven lebih punya pengaruh mendalam terhadap perkembangan musik selanjutnya ketimbang hasil karya Bach.

Secara umum, ide etik dan politik lebih gampang dijabarkan dengan kata-kata daripada musik dan kesusasteraan. Punya ruang lingkup pengaruh yang lebih luas dari pada musik. Atas dasar pertimbangan inilah Beethoven --meski tokoh jempolan dalam sejarah musik-- ditempatkan dalam urutan lebih rendah ketimbang Shakespeare. Dalam hal membandingkan antara Beethoven dan Michelangelo, saya amat terpengaruh dengan kenyataan bahwa umumnya orang lebih banyak gunakan waktu mendengarkan musik daripada memandang lukisan atau patung pahatan, dan atas dasar alasan ini pula saya pikir komponis-komponis musik umumnya lebih berpengaruh dibanding pelukis atau pemahat yang kemasyhurannya dalam lapangan masing-masing setara. Walhasil, tampaknya cukup layak menempatkan Beethoven pada urutan antara Shakespeare dan Michelangelo.

sumber : http://media.isnet.org/iptek/100/index.html

Saturday, January 3, 2015

Hidupku

Hidup,
Aku tau aku berbeda
Tak tak seperti dirinya yang sempurna
Aku berbeda dengan dirinya yang cantik
Bukan, bukan karena aku tak cantik

Hidup,
Katamu hidup itu adil?
Bagiku tidak
Bagiku hidup penuh dengan tangisan

Kala semua orang menyayanginya
Kala Semua orang mengagungkannya
Kala aku hanyalah debu
Kala aku tidak terlihat

Bukan kah semua orang punya hati?
Kau tidak
Kau pemilih
Aku tersakiti

by : Heny Kurniati

Demi Mendapatkan Sebuah Tiket

25 Maret 2015 rencanannya One Direction bakal ngadain konser perdananya di Indonesia. Buat para directioners pasti hal ini yang di tunggu - tunggu kan haha. Gue sama Tiyas salah satunya. Kita berdua sengaja dateng jam 6 pagi untuk mengantre tiket. Ternyata prediksi kita salah, gue sama Tiyas mikir kalau datang pagi pasti masih sepi.. EH TERNYATA...............salah banget guys!!! Disana udah ada ribuan orang yang udah mulai mengantre sampai - sampai parkiran mobil di Kota Kasablanka isinya ribuan orang. Gue sama Tiyas langsung mengantre dan kami terdesak desak. Disana banyak anak - anak remaja dan juga dewasa ikut mengantre. Gue sama Tiyas nunggu dapet nomor antrian agar bisa di tukar di Hall atas Kokas , hmm tapi panitia mengumumkan untuk membatalkan penjualan tiket karena terlalu banyaknya Directioners. Para Directioners pun sempat kesal dan marah dengan kebijakan tersebut. Mereka tetap nekat mengantri disana padahal pihak panitia dan polisi sudah mengumumkan pembatalan penjualan tiket hari itu.

Gue sama Tiyas langsung masuk ke dalam Mall untuk mencari makan dan beristirahat. Kami berkeliling Mall dan ternyata di lantai 2 Mall sudah banyak para directioners yang masih tetapi mengantri disana. Mereka kesal karena sudah menunggu tetapi malah dibatalkan. Mereka berteriak agar promotor tetap mengadakan penjualan tiket. Gue dan Tiyas sempat ikut dalam demo tersebut tetapi kami lelah dan akhirnya memutuskan untuk mencari makan sebentar.

Setelah kurang lebih 1 jam kita makan ternyata di lantai 2 masih banyak para Directioners yang ber demo. jumlahnya semakin banyak. Kami pun ikut antusias agar penjualan tiket tetap di buka kembali. setelah perjuangan directioners yang cukup panjang ternyata promotor mau melanjutkan sistem penjualan tiket. WAHHH senang dengan kabar tersebut akhirnya kami pun berebut masuk, walau sempat rusuh tetapi akhirnya berjalan lancar. 

Setelah menunggu sangat amat lama, gue dan Tiyas berhasil masuk ke Hall penjualan tiket. Sangat senang bisa masuk ke Hall tersebut. Kami mendapatkan nomor antrian 4000an saat itu. Sungguh antrian yang panjang. 
Setelah seharian berjuang akhirnya kami mendapatkan tiket dan memutuskan untuk pulang. Hari itu adalah hari yang cukup melelahkan dan menyenangkan sekaligus karena mendapat banyak teman dan juga pengalaman yang seru.

Now Is Good review

Jadi, apakah obat cinta bekerja dengan keajaibannya?

Itu adalah pertanyaan yang dilontarkan Phillipa, perawat pribadi Tessagadis remaja yang tengah sekarat karena Leukemia, sadar hidupnya tak akan lama, dia membuat beberapa daftar hal gila yang akan dia lakukan sebelum dia meninggal; dari mencoba narkoba hingga melepas keperawanannya. Kebandelan dan pemberontakan Tessa terhenti setelah kedatangan Adam, cowok tetangga sebelah, yang jatuh cinta padanya sejak pertama berjumpa. Dan apakah cinta mampu menyelamatkan Tessa dari kematian?
          Diangkat dari novel  karya Jenny Downham; Before I Die. Diperankan dengan sangat memukau oleh Dakota Fanning sebagai Tessa dan Jeremy Irvine sebagai Adam. Sebenarnya jika kita mempertimbangkan ide cerita tentang gadis yang sekarat, memang Now Is Good bukanlah yang pertama kali menawarkan kisah seperti ini, sebelumnya ada beberapa kisah serupa dan juga yang diangkat dari novel ke layar lebar; sebut saja A Walk To Remember-nya Nicholas Sparks atau My Sister Keeper-nya Jodi Picoult.
          Namun, Now Is Good menawarkan perbedaan pandangan dari sudut pandang gadis muda yang berada dalam keluarga disfungsional, jika dalam A Walk To Remember Jamie tumbuh dalam pendidikan nilai agama dan memiliki pribadi tak tercela, maka Tess adalah kebalikannya, jika Cathy mendapat kasih sayang dan dukungan penuh dari keluarganya, sayang sekali ibunda Tess nyaris tak peduli dengan penyakit yang diderita putrinya. Jika, baik Jamie ataupun Cathy tak memiliki seorang sahabat, maka Tess bergaul dengan Zoey, gadis pemberontak lainnya, yang hamil di usia muda.
          Akan sangat menyebalkan jika aku menceritakan keselurahan plot dalam reviewku, jadi aku memilih untuk membahas beberapa hal yang membuatku tertarik.
Gadis muda yang sekarat, karena aku sangat menyadari bahwa kematian jauh lebih pasti dibanding kehidupan, maka secara tidak langsung, aku dan seharusnya kita semua belajar dari mereka. Bagaimana untuk menghadapi mati, mereka jauh lebih beruntung, dengan prediksi dari sang ahli yang walau belum pasti, tapi setidaknya akan membuat mereka lebih siap.
Aku masih ingat apa yang dikatakan Tessa tentang kematian yang sudah mendekatinya. Tess, merasa bahwa dia seperti dibuntuti psikopat yang siap menembakkan peluru kepadanya, kapan saja. Gadis sekarat yang diperankan Tess jauh lebih realistis dan lebih siap dengan kemunginan terburuknya, Tess menolak kemo, Tess tak mau bersikap manis menunggu malaikat maut datang, Tess memberontak, Tess belajar untuk bertahan dan mengatasi ketakutannya, tapi pada dasarnya Tess memang ketakutan, takut akan kehilangan moment-moment indah dimasa depan yang tak akan bisa dirasakannya.
Sangat menyentuh saat Tess berkata tentang “Sahabatku akan melahirkan di bulan April, apa aku dapat melihat bayinya?” atau saat Tess merasa dibohongi, ketika Adam tanpa memberitahunya pergi menghadadiri upacara jelang masuk universitasnya, sangat tragis tapi manis mendengar apa yang mereka katakan.
Tessa: “Aku akan datang kembali sebagai orang lain, menjadi gadis berambut indah yang akan mendekatimu di hari pertama dan bertanya apa yang sedang kau pelajari.”
Adam: “Dan aku akan jatuh cinta padamu pada pandangan pertama…lagi…”

2.      Dukungan keluarga, tak seperti dibanyak kisah dimana ibu yang biasanya sering kali berperan dalam mendampingi anaknya yang sakit, tapi di sini ayahnyalah yang berperan dalam figur seorang ibu. Sebagai anak yang berada di bawah perwalian ayahnya, Tessa dan adik lelakinya Cal, tinggal bersama ayah mereka yang dulunya seorang akuntan, yang memutuskan untuk tak lagi bekerja karena dia memilih untuk merawat Tess. Kedua orang tua Tess digambarkan dengan; ayah yang terobsesi dengan kanker dan ibu yang tak peduli.
Bagaimana ayahnya yang bahkan menemani Tess dalam wawancara radio sampai mendampingi Tess disaat penyakitnya kian menyiksa, dan merasakan kemarahan dan gemas melihat kepanikan dan ketidaktahuan ibu Tess terhadap kondisi putrinya yang tiba-tiba saja kumat. Sungguh tak biasa, dan tak seharusnya aku melupakan Cal, saudara laki-laki Tess yang berusia 9 tahun, yang tergila-gila pada sulap dan dia mempelajari mantera dan meletakkan bawang putih diseantero rumah yang dipercayanya dapat menangkal kematian, sungguh membuat terharu, kalimat konyol yang diucapkannya pada Tess “Kamu boleh menghantuiku kapanpun kau mau”
3.      Kisah cinta remaja yang tak dangkal, di dalam dongeng mungkin kita akan menemukan pangeran yang akan mencium sang putri dan kutukan akan terpatahkan. Walau Adam setampan sang pangeran tapi jelas, penggambaran Adam sebagai remaja sangatlah realistis, dibutuhkan komitmen besar saat seorang remaja harus mencintai gadis yang tak bisa bersama dengannya selamanya. Aku merasakan kepanikan, ketakutan, dan penyesalan disaat yang sama saat Adam melihat Tessa mimisan hebat, alih-alih menenangkan Tessa atau membantunya menuju ambulance, Adam hanya berdiri mematung., tapi Adam sangat manis saat membayar kekecewaan Tessa akibat sikap kebingungannya dengan menuliskan nama Tessa di seluruh penjuru kota.
4.  Banyak moment menyentuh. Aku ingat sekali saat Adam panik melihat Tessa berada di atas pohon yang tinggi dan bermaksud membantunya untuk turun, tapi apa yang terjadi saat dia berada di dekat Tess, dengan mata berbinar Tess menceritakan rahasianya Aku tidak sakit saat berada di sini, aku tidak sakit lagi, aku hanya ingin hidup di hutan ini, aku ingin menjauh dari dunia modern dan semua gadget itu, kemudian aku takkan sakit.”
Saat Zoey mengatakan bahwa dia akan mempertahankan bayi yang sebelumnya ingin digugurkannya, saat pertemuan pertama Adam dan ayah Tess secara resmi, dimana ayah Tess mengatakan tentang “Adalah hari buruk bagi setiap ayah, saat putrinya membawa seorang pemuda untuk menemui ayahnya.”yeah, ayah Tess sangat menyayanginya.
Ada beberapa moment favoriteku antara Tess dan ayahnya; saat ayahnya marah lalu menangis, ketika Tess bersikap seperti monster di depan tembok penuh daftar keinginan Tess sebelum meninggal.Kau ingin meninggalkan aku dengan omong kosong ini? Apakah ini daftarnya? Ini sudah lama ada, kenapa kau tak memberitahukan ayah?Kau seharusnya menunjukkan pada ayah! Beberapa dari ini ayah bisa membantumu untuk mewujudkannya. Ayah cuma ingin menolongmu, ayah tak bisa membantumu, ayah tak bisa membantumu. Ayah tak ingin kau pergi…ayah tak ingin kau pergi. Ayah tak bisa menghadapinya, bawa ayah bersamamu.”juga ketika Tess dan ayahnya bertengkar saat ayahnya tahu bahwa Adam menginap di kamarnya.
Ayah    : “Dia ada di dalam kan?”
Tess     : “Ya”
Ayah    : “Sudah ayah katakan, ayah tak menyetujuinya!”
Tess     : “Aku tahu itu”
Ayah    : “Kau tahu kenapa?”
Tess     : “Aku pikir begitu”
Ayah    : “Dia pemuda yang baik Tessa, tapi dia masih anak-anak, kau tidak bisa bergantung   padanya, dia mungkin saja akan mengecewakanmu.”
Tess     : “Tidak akan”
Ayah    : “Bagaimana jika benar?”
Tess     : “Aku masih memiliki ayah…seperti biasanya.”
                 Dan Tess mengecup pipi ayahnya.
Tak hanya Tess dan ayahnya, tapi juga antara Tess dan Adam, di malam bersalju, mereka duduk dibangu taman dan berbicara.


      Adam   : “Apa yang kau inginkan dariku?”
            Tess     : “Saat malam, tidur bersama, bangun bersama, dan sarapan.”
            Adam   : “Apa yang benar-benar kau inginkan?”
          Tess     : “ Aku ingin kau bersamaku dikegelapanuntuk memelukku, untuk terus mencintaiku, untuk menolongku ketika aku ketakutan, datang ke tepi jurang, untuk melihat apa yang ada di sana.”
            Adam   : “Bagaimana jika aku salah?”
            Tess     :”Tak mungkin bisa salah”

      Adam kehabisan kata dan memilih berbaring ditanah bersalju, seakan beterbangan lalu bangkit, yeah dia mencetak malaikat salju untuk Tess.

1.       Akting Dakota Fanning,aku mulai jatuh dengan akting Dakota Fanning setelah dia menjadi Lucy Diamond Dawson di I am Sam, setelahnya aku nyaris tak melewatkan semua film yang dibintanginya, hanya merasa…kurang suka actingnya di epic Twilight (kapan-kapan akan aku beritahukan alasannya). Melihat aktingnya sebagai gadis muda dengan harapan hidup tipis membuatku merasa miris tapi kadang juga membuatku  merasa bahwa Tess yang diperankannya begitu sangat tak tahu diuntung, tapi semua itu adalah caranya dalam memproses masalahnya caranya dalam menghadapi ketakutannya. Akting Fanning seperti mengajak penonton merasakan kemarahan, ketakutan dan kesakitannya, sementara Jeremy Irvine, menurutku, tidak sulit baginya memerankan tokoh pacar nyaris sempurna, dan yeah aksen Britishnya seksi punya.


Dan pada akhirnya aku harus bilang, pelajaran dari film ini adalah tentang berani menghadapi kematian, berani kehilangan, berani merasakan ketakutan, berani merelakan, dan waktu bukan tentang durasi yang kita miliki tapi bagaimana cara membuat setiap moment itu berarti.
     

Friday, January 2, 2015

Perjuangan Masa Depan

Hai teman - teman disini gue mau membagi kisah gue yang cukup membuat gue galau tahun 2014 kemarin. Gue mau membagi kisah perjuangan gue untuk mendapatkan Universitas impian gue dengan jurusan impian gue juga tentunya.
Setelah Ujian Nasional (UN), Gue intensif bimbel di  salah satu bimbel yang cukup bergensi. Gue memutuskan untuk mengambil intensif IPS murni karena gue mau mengejar jurusan psikologi di Universitas Indonesia. Kampus tersebut adalah kampus impian gue selama ini. Kampus dimana gue dan orangtua gue impikan. Gue bertekad untuk masuk dan menjadi bagian dari mahasiswi Universitas Indonesia.

Selama bimbel intensif , gue mendapatkan teman teman baru yang juga ternyata banyak dari siswa IPA. Kebanyakan dari mereka mengejar jurusan Hukum dan Akuntansi. Gue nyaman dan enjoy belajar di bimbel tersebut karena teman temanya baik dan pengajarnya juga seru. Setelah beberapa bulan berlalu hari pengumuman SNMPTN Undangan semakin dekat dan gue berdoa agar di luluskan dan bisa mengejar cita cita gue selama ini. Setelah hari H pengumuman ternyata gue belum beruntung mendapatkan apa yang gue mau. Perasaan yang gue rasain saat itu sedih tetapi hal tersebut membuat gue termotivasi untuk mengerjakan SBMPTN gue yang udah di depan mata. 
Banyak temen temen gue yang berhasil lolos dalam SNMPTN Undangan dan kami harus berpisah.
Tidak mau larut dalam sedih, gue pun semakin memfokuskan apa yang ingin gue raih saat itu, hanya Makara Biru Muda, yaitu simbol dari Psikologi Universitas Indonesia.

Saat hari ujian SBMPTN berlangsung, gak gue pungkirin ada rasa takut dan sedih saat mengerjakannya. Gue takut kecewa, gue takut gak lolos... tapi perasaan itu gue tangkis dengan impian gue yang kuat. setelah kurang lebih 90 menit gue ada di ruangan mengerjakan soal soal SBMPTN, gue langsung mencari nyokap dan minta doa agar hasilnya yang terbaik. 
Setelah 2 minggu gue test SBMPTN, gue langsung Ujian Mandiri UI atau biasa disebut SIMAK UI. Soalnya lebih sulit dan daya tampung semakin tipis. gue semakin pesimis dengan hal tersebut. tapi apa daya semua harus gue lalui dan berusaha semaksimal mungkin agar bisa lolos.

Satu bulan berlalu dan hasil pengumuman SBMPTN sudah keluar. gue bener bener takut saat ingin "log-in". Akhirnya gue log in terakhir dan membaca surat Al-Fatihah. tetapi,.....Gue dinyatakan tidak lulus untuk kedua kalinya. Entah harus gimana dan harus marah atau kecewa. Gue langsung pergi ke Kamar dan gak bicara ke orang tua gue. Mereka memaklumi karena gue sedang sedih.

Selain mencoba UI, gue juga mencoba ujian masuk universitas Undip dan UNJ tetapi hasilnya nihil. Gue akhirnya masuk ke salah satu Universitas swasta yang cukup bagus dan berniat mencoba peruntungan tahun depan.

Kasih Tak Sampai

Sinar mentari menembus jendela kamarku. Burung-burung benyanyi menyambut pagi yang indah. “KRING..KRING..KRING..” suara jam weker yang keras membangunkan ku dari mimpi indah ku. “ HAH.. udah jam 6. Gawat gue bisa telat nih.” Batinku. Tak lama terdengar teriakan ibuku memanggil. “ TANIAAAA, cepat turun. Clara sudah menunggu.” “ iya mah, sebentar lagi Tania turun.” Jawabku. Aku segera mandi dan bersiap-siap pergi ke sekolah. Setelah merasa semua sudah beres aku pun turun. “ pagi semua. Maaf Ra, lo jadi nunggu lama.” Ucapku sambil cengengesan. “ iya-iya udah biasa. Lo kan kebo susah banget buat bangun pagi.” Jawab nya dengan muka cemberut. “ aduh jangan ngambek dong. Besok gue bangun pagi deh. Yaudah yuk berangkat nanti telat.” Kata ku sambil menarik tangannya agar kita cepat berangkat ke sekolah.
****
Nama ku Tania. Aku adalah gadis yang baru berusia 17 tahun. Kata orang-orang sih aku adalah gadis ceroboh. Ya tapi harus ku akui itu memang benar. Aku memang sering sekali membuat kekacauan mulai dari sering menjatuhkan barang, tidak teliti, selalu terjatuh dan masih banyak lagi. Aku juga cuek pada penampilanku. Karna bagi ku abstrak adalah seni. Nah beda lagi cerita nya dengan teman ku yang satu itu. Nama nya Clara. Dia adalah teman sebangku ku sekaligus sahabatku. Karna hanya dia satu-satu nya yang tahan dengan sikap-sikap ku itu. Beda sekali denganku Clara adalah gadis cantik yang sangat menjaga penampilannya. Badannya yang langsing dan rambut nya yang lurus sebahu itu serta senyumnya yang mempesona membuat ia menjadi perempuan idaman disekolahku. Tapi bagiku Clara adalah gadis cerewet yang sangat setia mendampingiku dalam suka maupun duka. Teman-teman disekolah pun heran kepada kami berdua. Kenapa kami berdua yang mempunyai karakter berlawanan bisa akrab. Tapi itu lah persahabatan, menerima apa adanya dirimu.
****
“ TENG..TONG..TENG..TONG..” Bunyi bel masuk pun berbunyi. Anak-anak yang mesih berada di luar berduyun-duyun masuk ke kelasnya. “ Tan, lo inget gak hari ini ada tugas Pak Jono?” tanya Clara kepadaku. “ hah, tugas apaan? Perasaan gak ada tugas deh.” Jawabku dengan santai. “ kan, kan lo lupa lagi. Pak Jono nyuruh kita bawa cacing buat praktek.” Ucap Clara menjelaskan. “Aduh gimana dong? Ah pelajaran pertama lagi ya gimana dong? “ kata ku yang mulai panik.  “ Udah tenang, gue bawa banyak. Ini bisa buat kita berdua. Tapi masalah nya...” Clara menghentikan ucapannya dan mulai kelihatan agak gelisah. “ Kenapa? Lo gak mau ngasih?” tanyaku penasaran. “ bukan.. Tapi gue jijik ngambil nya.” Jawab Clara sambil mengeluarkan kantung plastik dari tas nya dengan menggunakan sapu tangan. “ Yaampun, gue kira apaan Ra. Yaudah nanti gue deh yang ambil.” Kataku sambil tertawa terbahak-bahak karna melihat muka Clara yang ketakutan dengan cacing. Ya itulah yang sering kami berdua lakukan. Saling mengisi satu sama lain. Menghibur saat salah satu dari kami ada yang bersedih. Tertawa bersama. Menangis bersama. Aku selalu menceritakan semua hal yang terjadi pada Clara, begitu juga dengannya. Namun ada satu hal yang tak pernah aku ceritakan pada nya. Dan mungkin tak akan pernah aku ungkapkan.
****
Bel tanda pelajaran usai pun berbunyi. Aku dan Clara lapar sekali. Jadi kami memutuskan untuk pergi kekantin. “ TAN.. TAN.. TAN.. Liat tuh liat. Yaampun ganteng banget.” Kata Clara setengah histeris. “ Siapa? Kok gue gak liat ada yang ganteng disini.” Ucapku sambil memakan tahu isi dan pisang goreng yang barusan ku beli. “ Itu si Dery. Liat deh dia, dia abis olahraga. Cool banget.” Kata Clara menerangkan. “ Oh si Dery. Enggak ah, biasa aja. Udah yuk ke kelas. Lo udah kelar kan makannya” Ucap ku dan beranjak pergi. Dery adalah ketua osis di sekolahku. Dia juga kapten tim futsal sekolah kami yang selalu memenangkan kejuaraan. Sehingga ia sangat populer di kalangan perempuan di sekolah kami. Wajah nya yang putih dan senyumannya yang manis itu membuat para gadis disekolah ini tergila-gila pada nya termasuk Clara, sahabatku.
****
Bel pulang pun akhir nya berdering. Bel yang sangat dinantikan murid-murid termasuk aku tentu nya. Mereka yang sudah jenuh berada di sekolah pun bergegas pulang. “ Tan, lo hari ini ada acara gak?” tanya Clara. “ Gak tau deh, gue belom liat jadwal nih. Gue kan orang sibuk.” Jawabku sambil merapikan barang-barang yang ada di mejaku. “ Anterin gue dong ke toko buku. Ada novel terbaru Tan. Kata orang-orang itu bagus banget ceritanya.” Ajak nya dengan nada manja. “ eh maaf Ra gak bisa. Hari ini itu hari pertama gue masuk les musik.” Jawab ku. “ Ah Tania, ayo dong anterin. Masa gue sendiri. Forever alone dong.” Kata Clara dengan wajah memelas agar aku menaminya. “ Maaf Ra, ini hari pertama. Nanti ibu gue bisa ngamuk kalo hari pertama gue udah bolos.” Ucapku memberi penjelaskan kepada nya agar dapat mengerti. “ Yaudah deh, gue sendiri aja. Gue duluan ya.” Ucap nya yang kemudian pergi meninggalkanku. “ Hati-hati ya Ra, maaf gue gak bisa.” Kata ku agak keras karna Clara mulai menjauh.
****
Hari pun semakin sore aku memutuskan untuk langsung pergi di tempat les agar tidak terlambat. Ternyata aku adalah orang yang paling awal datang. “ Kalo tau gini sih, tadi mending gue pulang dulu aja.” Batin ku. Untuk menghilangkan rasa bosan yang mulai datang. Aku memutuskan untuk membaca novel yang baru ku pinjam dari Clara tadi pagi. Tiba-tiba seseorang datang dan mengejutkan ku. “ Hey, lo anak baru ya. Gue duduk sebelah lo ya” Ucap seorang pemuda didepanku. Aku segera menutup buku ku dan melihat kearah pemuda yang tiba-tiba duduk disampingku tanpa izin dari ku. “ HAH DERY...” ucap ku dalam hati. Aku sungguh-sungguh tak menyangka bahwa yang duduk disebelahku adalah Dery laki-laki idaman di sekolahku. “ Lo Dery kan? Anak kelas 12 IPA 3?” Tanya ku dengan sedikit gugup. “ Iya, lo Tania kan?” jawabnya sambil tersenyum lembut kepada ku. “ Loh kok lo tau gue?” tanya ku heran. “ Iya lah siapa yang gak tau lo. Lo kan salah satu siswi berprestasi disekolah.” Jawabnya dengan penuh semangat. “ Ah lo bisa aja Der.” Kata ku dengan muka memerah.
****
Semenjak hari itu, kini aku dan Dery semakin dekat. Kami sering mengerjakan tugas bersama, menceritakan hal-hal lucu, pergi bersama dan masih banyak lagi. Sudah hampir sebulan aku dekat dengan Dery. Tapi aku belum menceritakan ini pada Clara. Aku takut ia marah. Kedekatan antara aku dan Dery pun akhir nya diketahui oleh Clara. “ Tan lo kok gak pernah cerita ke gue kalo lo deket sama Dery?” tanya nya dengan muka sedih. Aku sangat tidak tega melihat wajah Clara yang seperti ingin menangis itu. “ Maaf Ra, gue takut lo marah sama gue.” Jawab ku. “ Ya ampun Tan, gue emang suka sama Dery. Tapi gue gak akan marah ke elo cuman gara-gara lo deket ama dia. Lo kan sahabat gue.” Ucap Clara sambil tersenyum dan memeluk ku. Ucapan Clara barusan sangat menyentuh hati ku. “ Maafin gue ya Ra. Hmmm, sebagai permintaan maaf gue, gimana kalo gue buat lo deket dengan Dery.” ucapku dengan penuh semangat. “ Serius Tan?” tanya Clara Terkejut. “ Iya, lo mau kan?” tanyaku. “ Iya gue mau.” Jawabnya.
Aku pun mulai mendekat mereka berdua. Setiap Dery mengajak ku pergi pasti Clara akan ku ajak, dengan alasan bahwa aku tak enak hati jika Clara sahabatku itu tidak ikut. Jika Dery menolak untuk mengajk Clara aku tidak mau pergi dengannya. Akhirnya kami bertiga sering menghabiskan waktu bersama.
****
Tiba pada suatu hari Dery mengirimi pesan kepadaku agar aku menemui nya di taman. Sesampainya disana, aku melihat Dery duduk di kursi tua didekat air mancur. Aku duduk disampingnya. “ Tan, menurut lo, Clara orang nya gimana? Lo kan sahabatnya.” Tanya Dery kepada ku. “ hmm Clara ya. Dia itu cantik, baik, trendy. Tapi kadang sedikit bawel.” Jawabku santai. “ Oh gitu ya.” Ucapnya “ Emang kenapa? Tumben lo nanyain dia?” tanya ku. Tapi Dery tak menjawab pertanyaanku. “ DER LO DENGERIN GUE GAK SIH.” Aku berteriak di kuping nya. Teriakan ku tadi membangunkan dia dari lamunannya. “ Eh maaf maaf apa tadi ulang gue gak denger.” Kata nya dengan gugup. “ Ah lo sih mikirin gue mulu.” Kata ku sambil tertawa. “ Ya enggak lah, masa gue mikirin cewek absurd kaya elo sih. Gini Tan gue suka deh sama Clara. Gue mau nayatain perasaan gue.” Ucap Dery, muka memerah karena malu. “ DEG..DEG..DEG..” jantungku berdetak cepat seperti ada yang menganjal di hati ku tapi aku tidak mengubrisnya. “ Ciee..ciee.. ada yang jatuh cinta nih.” Ledek ku pada Dery. Muka Dery makin memerah setelah aku meledeknya. Lalu ia pamit kepada ku. Dia bilang dia akan menemui Clara dan minta aku untuk mendoakannya berhasil.
****
Sekarang Clara dan Dery pun menjadi sepasang kekasih. Clara menceritakan bagaimana perasaannya saat Dery menyatakan isi hatinya. Tiba-tiba rasa itu datang lagi. Perasaan yang aku sendiri tak tahu apa arti nya. Tapi lagi-lagi aku tidak mengubrisnya. “ Tan, gue seneng banget. Coba lo ada disana.” kata Clara. “ Hahaha.. gue ikut seneng kok Ra kalo lo seneng.” Ucapku tersenyum.
****
Empat bulan tlah berlalu, kemarin saat upacara bendera kami diberitahu bahwa kami lulus 100%. Dan hari ini kami akan melaksanakan wisuda. Lagi-lagi aku terlambat bangun pagi. Sehingga aku terlamabat datang kesekolah. Ponsel ku berdering. Aku melihat ponselku, ada 12 panggilan tak terjawab dan 50 pesan masuk. Tak lama ponsel ku berdering lagi. “ hmm Clara ya.” Gumamku. Aku segera mengangkat telepon masuk itu. “ Halo, Tania lo dimana? Acara udah mau mulai.” Sahut nya dengan nada tinggi. “ Iya ini gue, udah mau jalan. Tadi gue kesiangan.” Ucap ku menjelaskan. “ Yaudah buruan ya, acara nya udah mau mulai nih. Jangan lupa pake baju yang kita beli ya.” Ucap nya kemudian mematikan telpon nya. kami memang sudah mempersiapkan semua untuk acara ini. Bahkan kami membeli baju yang sama untuk acara ini.
****
aku segera mengendarai sepeda motorku. Karena aku takut terlambat aku memacu kendaraan ku lebih cepat. Tak sadar bahwa didepan ada orang yang akan menyebrang aku terkejut dan langsung membelokan ke arah kanan jalan. Kendaraan ku menabrak sisi kanan jalan. Aku terjatuh, aku mencoba untuk bangkit. Tapi badanku terasa sangat sakit sekali. Ku lihat tanganku penuh dengan darah. Orang-orang mulai datang mengelilingi ku tapi lama-kelamaan pandangan ku mulai buram dan perlahan semua menjadi gelap.
****
Clara masih menunggu sahabat nya. Tapi orang yang tunggu tak kunjung datang. Kini hati nya mulai gelisah. “ Kring.. Kring..” bunyi ponsel Clara. Dilihat nya telepon itu. “ Tania Calling..” begitu tulisan di layar ponselnya itu. Dengan cepat Clara mengangkat nya. Baru saja Clara ingin memarahi sahabatnya itu, terdengar suara ibu Tania sambil terisak-isak. “ Ra, Tania Ra.” Suara ibu Tania pelan. “ Tania kenapa bu?” tanya Clara yang mulai panik. “ Tania meninggal dunia Ra.” Ucap ibu Tania sambil menangis. Mendengar berita itu, seketika lutut Clara menjadi lemas. Clara terjatuh. Tangisannya tak bisa ia tahan lagi. Ia menangis histeris.
****
 Setelah tenang Clara langsung menuju rumah Tania. Dilihat sahabat nya itu terbaring lemah tak berdaya. Ia mencoba untuk menahan tangis nya tapi tetap saja ia tak bisa menahannya. Rasa kehilangan yang mendalam yang kini ia rasakan. Tania dimakamkan tak jauh dari rumah nya. Selesai acara pemakaman, Clara pergi menuju rumah pohon tempat biasa dia dan Tania menghabiskan waktu bersama. Teringat oleh nya kenangan bersama Tania. Air mata nya kembali mengalir. Tiba-tiba ia menemukan buku biru yang selalu Tania bawa. Ia heran kenapa buku itu ada disana. dibuka nya buku itu selembar demi selembar. Dan pada lembar terakhir Clara sangat terkejut. Isi lembar itu adalah :
Dear Deary,
Tadi Dery menelfonku ia berkata ingin bertemu denganku. Aku segera menghampirinya tapi aku tak menyangka bahwa ia akan berkata bahwa ia menyukai sahabatku. Hatiku sakit sekali mendengar perkataannya tapi aku tak mau mengacaukannya. Jadi aku mengabaikan perasaan ini. Tapi kenapa setiap aku melihat mereka bersama perasaan ini selalu menyelimuti hatiku. Apa jangan-jangan aku tlah jatuh cinta dengannya? Tapi bagaimana dengan Clara, aku tak mau ia tersakiti. Ia sangat mencintai Dery. Ia akan bahagia bersama nya. Biarlah ini menjadi rahasiaku.
Clara menangis sejadi-jadi nya. hati nya sangat sakit melihat tulisan dikertas itu. Andai ia tau bahwa sahabat nya juga menyukai Dery mungkin ia akan mengalah karena dari Tania lah sekarang Clara bisa dekat dengan Dery. Tapi semua sudah terlambat tak ada yang bisa dilakukan Clara. “ Tan kenapa lo gak pernah cerita soal ini. Kenapa Tan.” Batin Clara.
****
Seminggu lebih Clara mengurung diri dikamar. Ia sangat merasa bersalah pada Tania. Dery yang melihat kejadian ini sangat bingung. Karena ia tidak tahu apa-apa. Akhirnya ia memaksa Clara untuk bercerita. Setelah mengetahui semua yang terjadi Dery berusaha menghibur Clara. “ Ra, ini semua bukan salah lo kok. Dia pergi karena memang udah takdir. Lo jangan kaya gini. Sama aja lo gak berterimah kasih pada pengorbanan Tania. Ini yang dia mau. Tania mau kita bahagia bersama. Jadi berenti buat nyalahin diri lo Ra.” Ucap Dery mencoba menenangkan Clara. Tapi Clara hanya diam. Ia tak berkata apa-apa.
****
Seiringin berjalannya waktu pun Clara bisa menerima kenyataan bahwa ini semua memang sudah takdir yang digariskan Tuhan Yang Maha Esa. Walaupun kini Tania tak ada disisi nya tapi Tania selalu ada di hati Clara. Ya sahabat terbaik yang pernah dimiliki Clara.

*TAMAT*

Karya : Desy Dwi Jayanty
Note : saya mempublikasi cerpen ini karena menurut saya hasil karya sahabat saya bagus.Tidak ada maksud untuk copycat atau penjiplakan  karena saya sudah meminta izin kepada pihak yang bersangkutan.

My Lovely Rival

Hari ini pengumuman murid teladan di sekolahku, SMA Harapan I. Acara yang diadakan setiap semester ini bertujuan  untuk memberikan apresiasi kepada murid yang memiliki prestasi baik, dan mungkin untuk memotivasi murid lainnya, begitulah menurutku. Aku sedang menyusun buku-buku pelajaran ketika ibu memanggilku dari dapur untuk sarapan. “ Ratih!!! Ayo sarapan dulu.” seru ibu “Iyaaa bu.” jawabku, aku pun bergegas ke meja makan untuk sarapan bersama ibu. “ Ratih, uang bulanan kamu masih ada? Ibu Retno belum bayar jahitan janjinya hari ini mau dilunasi, kamu masih ada uang kan?.” tanya ibu “Iya bu, uangnya masih ada kok ibu gak usah khawatir. “ ucapku “Maaf ya Tih, kamu jadi susah gini tinggal sama ibu.” ibu terdiam sambil menatapku sedih.“Bu, udahlah kita udah bahas ini ribuan kali, aku gak pernah nyesel tinggal sama ibu kalaupun kita kekurangan ini bukan salah ibu, ibu jangan salahin diri ibu sendiri.” ucapku sambil memeluk ibuku yang mulai menangis. Rasanya aku pun ingin menangis jika mengingat susahnya kehidupanku dengan ibu, tapi aku harus kuat demi ibuku.“Udah ya bu, Ratih berangkat ke sekolah dulu ibu jangan sedih lagi.” ucapku sambil mencium tangan ibu.“Iya Tih, kamu hati-hati ya di jalan.” ucap ibu. Aku pun berangkat ke halte di depan gang rumahku, bus tiba dan aku pun langsung naik kedalamnya. Kenangan enam tahun lalu kembali berputar di kepalaku, kenangan paling pahit untuk keluargaku. Enam tahun lalu saat aku masih duduk di kelas 7 , kedua orang tuaku berpisah karna ayah tergoda oleh janda beranak 3 yang menggodanya. Janda itu membujuk ayahku untuk menceraikan ibu dan menikahinya. Dan bodohnya ayahku, ia benar-benar menceraikan ibuku dan memilih hidup bersama janda itu. Dulu ayah mengajakku untuk tinggal bersama keluarga barunya itu, tapi aku sudah cukup pintar untuk memilih mana yang baik untukku. Itulah yang membuat ibu merasa bersalah hingga saat ini karna menurutnya aku hidup menderita dalam kemiskinan dengannya. Padahal belum tentu aku akan hidup bahagia dengan ayah dan keluarga barunya itu mengingat aku adalah ‘anak tiri’ disana.
Aku sedang membaca buku tentang politik Amerika Serikat yang kupinjam dari perpustakaan saat Mita datang menghampiriku dengan sangat bersemangat seperti memenangkan undian. “ Ratihhhh!!! Gimana udah siap buat nerima penghargaan murid terbaik ‘lagi’?.” menekankan kata ‘lagi’ dalam pertanyaannya itu. Dia adalah sahabatku sekaligus teman sebangku-ku sejak aku kelas 10. “Pagi- pagi udah berisik banget lo Mit, lagian belum tentu semester ini gue yang dapet penghargaannya, sok tau dasar.” ucapku mengejeknya.“Terus kalo bukan lo siapa lagi tih, lo udah jadi murid teladan dari kelas 10. Mana ada yang nandingin lagi sih. oh iya nanti kalo pidato jangan lupa sebut nama gue ya tih hehe.” ucapnya sambil cengengesan. “Hahaha iya kalo itu sih gak bakal lupa, udah ritual setiap semester sebut nama lo dipidato gue.”  “Hehe thanks ya tih, sorry numpang eksis gitu.” “Iya gapapa, emang lo udah bantu gue banyak kok mit jadi emang nama lo pantes ada dipidato gue.” “Haha iya kita sama-sama saling bantu kok, eh udah yuk kita ke aula kayaknya acaranya udah mau dimulai deh.” ucapnya sambil menarik tanganku. Kami pun menuju ruang aula yang sudah mulai ramai dengan murid-murid lainnya, dan menemukan deretan bangku yang masih kosong dan memutuskan untuk duduk disana. Acara pun dimulai dengan sambutan bapak Kepala Sekolah, dilanjutkan dengan sambutan guru bidang kurikulum dan setelah itu baru diumumkan siapa murid teladan semester ini.
Setelah penantian yang cukup lama, akhirnya guru bidang kurikulum menyelesaikan sambutannya kemudian bapak Kepala Sekolah kembali naik ke podium untuk mengumumkan siapa yang menjadi murid teladan semester ini. “Bapak akan langsung umumkan siapa murid teladan di sekolah kita semester ini, dan yang menjadi murid teladan semester ini adalah…..”katanya sambil membuka amplop. Murid-murid kelas 10 dan 11 nampak sangat tertarik dengan pengumuman ini, berbeda dengan kelas 12 yang tidak tertarik sedikit pun tentang ini. “dan murid teladan semester ini adalah…. Raihan Rahman dari kelas 12 IPA 2, kepada Raihan silahkan naik keatas podium.” Aku terdiam, belum mampu mencerna kata-kata kepala sekolah tadi.”Tih…Ratih!!!.” ucap mita sambil menggoncangkan tubuhku “Bukan lo murid teladan semester ini, kok bisa sih?kok si raihan bisa jadi murid teladan sih?.” ucap mita gusar. Aku melihatnya laki-laki yang baru saja merebut gelar murid teladanku, ia naik ke atas podium mengucapkan terima kasih kepada guru-guru dan teman-temannya, sebelum ia turun dari podium dia melihat kearahku, pandangan kami bertemu dan dia tersenyum kepadaku bukan senyuman yang menyenangkan, lebih tepatnya senyuman yang menunjukan kemenangannya kepadaku, senyum penghinaan. Aku hanya bisa diam tidak tahu harus bereaksi apa.
“Tih….Ratih..”ucapan mita menyadarkanku dari lamunan.” Lo masih kepikiran penghargaan itu ya?udahlah jangan sedih gitu.” “Enggak kok mit gue gak sedih cuma rada bingung aja, Raihan itu siapa sih? Kok gue familiar banget liat muka dia.“ucapku pada mita yang langsung memasang ekspresi kaget di wajahnya “Ratih!!! Lo amnesia apa gimana sih? Raihan kan satu kelas sama kita pas kelas 10 sama 11 masa lo lupa sih?.”ucap Mita tidak percaya “Hah serius lo?masa sih?.”Tanyaku tidak percaya dengan kata-kata Mita barusan .“Iya Ratih! Dia duduk sama Bayu pas kelas 10 sama 11 yang suka nyanyi di belakang kelas kalo pas pelajaran kosong itu, udah inget belum?.” “Oh iya iya, gue baru inget, yang dulu lo suka kan? Kok dia bisa jadi murid teladan ya?.”ucapku masih tidak percaya, anak yang kerjanya hanya bercanda dengan teman-temannya saat jam kosong, yang sering keluar masuk kesiswaan karna kenakalannya bersama teman-temannya itu, benar-benar sulit dipercaya.
“Tih gak usah disebut lagi itu kan jaman dulu, sekarang juga udah gak suka kok.”ucapnya dengan wajah cemberut. ”Tapi dulu pas kelas 10 sama 11 dia lumayan kok nilainya gak jelek-jelek banget, cuma karna dia bandel jadi guru-guru gak suka sama dia.”tambahnya lagi. “Iya kali ya, gue gak pernah merhatiin dia jadi gue gak tau apa-apa.”ucapku dengan nada mengejek pada Mita. “Ratih! ih ngeselin banget sih.”ucapnya sambil mencubit lenganku.
Liburan tengah semester pun dimulai, saat liburan yang kulakukan hanyalah membaca buku yang kupinjam dari perpustakaan, membantu ibu membersihkan rumah, dan mengerjakan tugas-tugas liburanku. Entah mengapa saat aku sedang membaca aku teringat acara pengumuman murid teladan itu, saat Raihan melihat kearahku dan memberikan senyum menyebalkan itu kepadaku “Huh, dia pikir dia siapa berani meledekku seperti itu, lihat saja semester depan aku akan mengambil kembali gelar yang dia rebut itu.” janjiku dalam hati, tapi kalau Mita tidak memberi tahu bahwa kami sekelas dengannya selama 2 tahun aku tidak akan sadar. Aku kembali mengingat-ingat kejadian-kejadian di kelas 10 dan 11 mungkin aku bisa mengingatnya, tapi nihil aku tetap tidak bisa mengingat apapun tentang Raihan mungkin memang benar aku tidak pernah memperhatikannya.Saat itu kami selesai pelajaran olahraga, aku dan Mita pergi ke kamar mandi untuk mengganti baju olahraga kami selama perjalanan kekamar mandi Mita sangat sibuk dengan handphonenya aku tidak tahu apa yang dia lakukan jadi aku memutuskan untuk tetap diam dan berjalan disampingnya, perhatianku teralihkan saat kami akan melewati kelas 12 IPA 2 mengingat bahwa si “pencuri gelar”-ku ada dikelas itu, aku penasaran bagaimana dia kalau dikelas jadi untuk memastikannya aku berjalan lebih lambat dan mengintip dari jendela untuk melihatnya, saat itu sedang pelajaran fisika. Aku berusaha mencari tapi tidak menemukannya tapi saat aku melihat kebangku paling belakang dia disana dengan tenangnya tidur dimeja. Mita yang sudah sadar bahwa ia meninggalkanku dibelakang kemudian menghampiriku. “Tih,lo ngapain disini?Ayo ganti baju nanti keburu bel masuk.”ucapnya sambil menarikku ke kamar mandi. “Tadi lo ngapain sih di depan kelas 12 IPA 2.?”Tanya Mita saat kami selesai ganti baju. “Liat Raihan Mit, masa dia tidur pas pelajarann fisika.”ucapku “Serius?ah aneh tuh anak udah gak usah dipikirin.”ucap mita kepadaku, aku pun mengangguk. Mita terlihat kembali sibuk dengan handphonenya “Mit lo ngapain sih?dari tadi sibuk banget meganging Hp” ucapku sedikit kesal.”Hehe, gue lagi sms-an Tih.” “Sama siapa?.” “Sama Jordi”ucapnya sambil tersenyum malu.”Jordi siapa?.” “Anak SMA tetangga, gue ketemu dia pas liburan ganteng banget Tih.” “Oh ya?jadi ceritanya lagi PDKT nih?.”“Hehe, iya Tih, anaknya baik banget, nanti deh gue kenalin.” “Sip, janji ya.”ucapku senang. Suatu hari sepulang sekolah, aku dipanggil oleh pak Surya guru matematika kami ke ruangan beliau, jadi aku kesana dan begitu melihatku pak Surya terlihat begitu senang. “Ratih, akhirnya kamu datang juga. Bapak mau minta tolong sama kamu, kamu bisa tolong bapak?.” “Minta tolong apa pak?kalo saya bisa pasti saya bantu pak.” “Begini, anak bapak masuk rumah sakit dia nangis-nangis minta bapak temani, tapi bapak harus bikin soal untuk ulangan harian adik kelas kamu, kamu bisa bantu bapak bikin soal untuk mereka?Tolong ya nak bapak gak tau minta bantuan ke siapa lagi selain sama kalian.” “Oh iya pak gapapa nanti saya bantu.”ucapku tidak segan jika menolak permintaan pak Surya. “Terima kasih ya nak, kamu kerjakan di ruang bapak, 50 soal saja gak usah banyak-banyak, nanti bapak bilang ke penjaga sekolah biar jangan dikunci dulu, oh iya itu buku kelas 11 buat contoh-contoh soalnya ya.“kata pak Surya. Aku mengangguk dan tiba-tiba ada seseorang yang masuk ke ruangan pak Surya, dia Raihan. Aku sedikit kaget apa yang dia lakukan disini pikirku. “ Ah Raihan akhirnya kamu datang juga, kamu sudah tau kan tugas kamu, sekarang kamu kerjakan yang sama Ratih, kamu buat soal untuk kelas 10 . Bapak tinggal dulu ya kalian”ucap pak Surya sambil keluar dari ruangannya.Untuk beberapa saat aku hanya diam menatapnya dan memutuskan untuk langsung menyelesaikan tugasku secepat mungkin begitupula dengannya dia langsung duduk disampingku dan mulai membuat soal. Aku tak tahu berada di ruangan ini bersamanya membuatku merasa aneh, aku merasa gugup. Aku melihat kearahnya dan melihat soal yang dia buat, dia sudah membuat 19 soal sedangkan aku baru membuat 3 soal aku memutuskan untuk kembali fokus ke pekerjaanku. Membuat soal jauh lebih sulit daripada mengerjakan soal, aku sudah membaca buku yang diberikan pak Surya tapi tetap tidak memiliki gambaran soal yang harus kubuat, tiba-tiba Raihan yang duduk disampingku berdiri dan melihat kearahku.“Gue udah selesai, lo udah selesai belum?.”tanyanya kepadaku. “Belum.”jawabku gugup “Yaudah, gue pulang duluan ya udah malem, bye.”ucapnya cuek. Aku baru sadar kalau ini sudah jam setengah tujuh malam saat dia bilang seperti itu, tiba-tiba terbayang dipikiranku aku disini sendirian dan ini sudah malam, aku merasa sedikit takut. “Han, tungguin gue dong.”ucapku sedikit takut saat dia sedang merapikan tasnya, dia melihat kearah kertasku lalu melihat kearahku.“30 menit bisa selesai gak sisanya?.”tanyanya “mmm…bisa kok bisa.” jawabku. Dia kemudian kembali duduk dan aku kembali mengerjakan tugasku itu, tapi tak lama kemudian aku kembali diam, bingung harus membuat soal seperti apa lagi. “Kok berenti? bingung?.”Tanyanya kepadaku. Aku pun mengangguk kemudian dia mengambil kertasku dan mengerjakannya. Dia benar-benar hebat, mungkin dia memang pintar aku salah menilainya pikirku.“Lo pasti benci sama gue?.” ucapnya tiba-tiba sambil tetap melihat kearah kertasnya. “Hah?enggak kok, gue gak benci sama lo.”jawabku bingung “Yakin?gue kan udah ngerebut gelar “murid teladan”-lo?.” ucapnya sambil melihat kearahku. “Oh itu, awalnya emang iya tapi sekarang liat lo yang ngerjain tugas gue dari pak Surya ini gue percaya kok kalo lo emang pantes dapet gelar itu”ucapku tulus “Tapi lo beneran hebat deh, padahal dulu lo kan biasa aja, pasti lo rajin banget belajar”ucapku sedikit menyindirnya. Dia melihatku kemudian tersenyum yang membuatku sedikit bingung. “Gue cuma beruntung kok, Tuhan ngasih gue otak yang lumayan encer.”ucapnya sedikit sombong. “Pinter maksudnya? Kalo gitu harusnya lo bisa jadi murid teladan dari dulu dong.”tanyaku sewot. “Gue bosen jadi anak baik , pengen coba jadi anak bandel”ucapnya sambil tersenyum. “Terus kenapa sekarang jadi anak baik lagi?”tanyaku penasaran “Karna kalo gue jadi bandel ada seseorang yang gak pernah liat gue tapi saat gue jadi anak baik,orang itu ngeliat gue bahkan perhatiin gue banget”jawabnya sambil tertawa kecil. “Lo kan kapten basket, jago lagi mainnya,mana ada yang gak kenal sama lo?.”ucapku terbawa suasana. “Ada kok.” “Siapa?.” Tanyaku penasaran. “Lo, tih, lo orangnya.” katanya sambil melihatku. “Kok gue?”tanyaku sedikit ragu. “Ya karena lo beda dari semua cewek di sekolah ini, disaat cewek-cewek lain cari cara buat dapet perhatian dari gue, lo malah sibuk sama buku-buku lo itu. Itu yang buat gue suka sama lo, tapi nyatanya lo gak pernah liat gue”ucapnya. Aku hanya terdiam, Raihan laki-laki yang banyak di idolakan teman-temanku ini bisa menyukaiku gadis yang bisa dibilang sangat biasa sepertiku.”Lo pasti kaget, tenang aja gue gak maksud nembak lo kok, gue cuma pengen lo tau aja tentang perasaan gue.”ucapnya sambil melihat kearahku dengan tatapan yang membuatku terpesona. “Udah selesai nih tugasnya, pulang yuk.” ajaknya kepadaku, aku pun mengangguk. Malam itu dia mengantarkanku pulang kerumah.
Sejak saat itu kami mulai mengenal dengan baik, sifatnya yang sebenarnya sangat jauh berbeda dengan yang aku kira selama ini. Mita yang awalnya bingung dengan kedekatanku dengan Raihan akhirnya mengerti setelah aku menceritakannya. Dia bahkan sangat mendukungku dengan Raihan.

Suatu hari setelah pulang sekolah, saat itu aku pulang sendiri karena Raihan harus mengawasi anggota basket yang sedang latihan untuk turnamen minggu depan. Saat aku melewati lapangan basket sebuah bola basket menggelinding kearahku, aku pun mengambilnya dan bermaksud untuk mengembalikannya tapi ketika aku melihat kearah lapangan, Disana Raihan sudah berdiri dengan teman-teman basketnya ia melihatku sambil tersenyum, sesaat kemudian dia memberikan aba-aba kepada teman-temannya yang serentak langsung berbaris dan menghadap kebelakang yang langsung memperlihatkan serangkaian kata. “Ratih! Lo mau gak jadi pacar gue?.” Raihan berteriak kepadaku sambil memegang bunga mawar merah. Seketika suasana menjadi ramai karena para siswa yang melihat kejadian itu langsung bersorak “Terima!!! Terima!!.” Aku pun langsung mengangguk menjawab pertanyaan Raihan itu, Raihan yang melihat jawabanku langsung berlari kearahku dan memberikan bunga yang ia bawa kepadaku. “Thanks Tih, Gue sayang banget sama lo.” Ucapnya sambil tersenyum “Gue juga Han” jawabku. Dan sekarang dia menjadi saingan sekaligus kekasihku.

Karya : Siti Chairani
Note : saya mempublikasi cerpen ini karena menurut saya hasil karya sahabat saya bagus.Tidak ada maksud untuk copycat atau penjiplakan  karena saya sudah meminta izin kepada pihak yang bersangkutan.