Hari ini pengumuman murid teladan di sekolahku, SMA
Harapan I. Acara yang diadakan setiap semester ini bertujuan untuk memberikan apresiasi kepada murid yang
memiliki prestasi baik, dan mungkin untuk memotivasi murid lainnya, begitulah
menurutku. Aku sedang menyusun buku-buku pelajaran ketika ibu
memanggilku dari dapur untuk sarapan. “ Ratih!!! Ayo sarapan dulu.” seru ibu “Iyaaa
bu.” jawabku, aku pun bergegas ke meja makan untuk sarapan bersama ibu. “ Ratih,
uang bulanan kamu masih ada? Ibu Retno belum bayar jahitan janjinya hari ini
mau dilunasi, kamu masih ada uang kan?.” tanya ibu “Iya bu, uangnya masih ada
kok ibu gak usah khawatir. “ ucapku “Maaf ya Tih, kamu jadi susah gini tinggal
sama ibu.” ibu terdiam sambil menatapku sedih.“Bu, udahlah kita udah bahas ini
ribuan kali, aku gak pernah nyesel tinggal sama ibu kalaupun kita kekurangan
ini bukan salah ibu, ibu jangan salahin diri ibu sendiri.” ucapku sambil
memeluk ibuku yang mulai menangis. Rasanya aku pun ingin menangis jika
mengingat susahnya kehidupanku dengan ibu, tapi aku harus kuat demi ibuku.“Udah
ya bu, Ratih berangkat ke sekolah dulu ibu jangan sedih lagi.” ucapku sambil
mencium tangan ibu.“Iya Tih, kamu hati-hati ya di jalan.” ucap ibu. Aku pun
berangkat ke halte di depan gang rumahku, bus tiba dan aku pun langsung naik
kedalamnya. Kenangan enam tahun lalu kembali berputar di kepalaku, kenangan paling
pahit untuk keluargaku. Enam tahun lalu saat aku masih duduk di kelas 7 , kedua
orang tuaku berpisah karna ayah tergoda oleh janda beranak 3 yang menggodanya.
Janda itu membujuk ayahku untuk menceraikan ibu dan menikahinya. Dan bodohnya
ayahku, ia benar-benar menceraikan ibuku dan memilih hidup bersama janda itu. Dulu
ayah mengajakku untuk tinggal bersama keluarga barunya itu, tapi aku sudah cukup
pintar untuk memilih mana yang baik untukku. Itulah yang membuat ibu merasa
bersalah hingga saat ini karna menurutnya aku hidup menderita dalam kemiskinan dengannya.
Padahal belum tentu aku akan hidup bahagia dengan ayah dan keluarga barunya itu
mengingat aku adalah ‘anak tiri’ disana.
Aku
sedang membaca buku tentang politik Amerika Serikat yang kupinjam dari
perpustakaan saat Mita datang menghampiriku dengan sangat bersemangat seperti
memenangkan undian. “ Ratihhhh!!! Gimana udah siap buat nerima penghargaan
murid terbaik ‘lagi’?.” menekankan kata ‘lagi’ dalam pertanyaannya itu. Dia
adalah sahabatku sekaligus teman sebangku-ku sejak aku kelas 10. “Pagi- pagi
udah berisik banget lo Mit, lagian belum tentu semester ini gue yang dapet
penghargaannya, sok tau dasar.” ucapku mengejeknya.“Terus kalo bukan lo siapa
lagi tih, lo udah jadi murid teladan dari kelas 10. Mana ada yang nandingin
lagi sih. oh iya nanti kalo pidato jangan lupa sebut nama gue ya tih hehe.”
ucapnya sambil cengengesan. “Hahaha iya kalo itu sih gak bakal lupa, udah
ritual setiap semester sebut nama lo dipidato gue.” “Hehe thanks ya tih, sorry numpang eksis gitu.”
“Iya gapapa, emang lo udah bantu gue banyak kok mit jadi emang nama lo pantes
ada dipidato gue.” “Haha iya kita sama-sama saling bantu kok, eh udah yuk kita
ke aula kayaknya acaranya udah mau dimulai deh.” ucapnya sambil menarik
tanganku. Kami pun menuju ruang aula yang sudah mulai ramai dengan murid-murid
lainnya, dan menemukan deretan bangku yang masih kosong dan memutuskan untuk
duduk disana. Acara pun dimulai dengan sambutan bapak Kepala Sekolah,
dilanjutkan dengan sambutan guru bidang kurikulum dan setelah itu baru
diumumkan siapa murid teladan semester ini.
Setelah
penantian yang cukup lama, akhirnya guru bidang kurikulum menyelesaikan
sambutannya kemudian bapak Kepala Sekolah kembali naik ke podium untuk
mengumumkan siapa yang menjadi murid teladan semester ini. “Bapak akan langsung
umumkan siapa murid teladan di sekolah kita semester ini, dan yang menjadi
murid teladan semester ini adalah…..”katanya sambil membuka amplop. Murid-murid
kelas 10 dan 11 nampak sangat tertarik dengan pengumuman ini, berbeda dengan
kelas 12 yang tidak tertarik sedikit pun tentang ini. “dan murid teladan
semester ini adalah…. Raihan Rahman dari kelas 12 IPA 2, kepada Raihan silahkan
naik keatas podium.” Aku terdiam, belum mampu mencerna kata-kata kepala sekolah
tadi.”Tih…Ratih!!!.” ucap mita sambil menggoncangkan tubuhku “Bukan lo murid
teladan semester ini, kok bisa sih?kok si raihan bisa jadi murid teladan sih?.”
ucap mita gusar. Aku melihatnya laki-laki yang baru saja merebut gelar murid
teladanku, ia naik ke atas podium mengucapkan terima kasih kepada guru-guru dan
teman-temannya, sebelum ia turun dari podium dia melihat kearahku, pandangan
kami bertemu dan dia tersenyum kepadaku bukan senyuman yang menyenangkan, lebih
tepatnya senyuman yang menunjukan kemenangannya kepadaku, senyum penghinaan.
Aku hanya bisa diam tidak tahu harus bereaksi apa.
“Tih….Ratih..”ucapan
mita menyadarkanku dari lamunan.” Lo masih kepikiran penghargaan itu ya?udahlah
jangan sedih gitu.” “Enggak kok mit gue gak sedih cuma rada bingung aja, Raihan
itu siapa sih? Kok gue familiar banget liat muka dia.“ucapku pada mita yang
langsung memasang ekspresi kaget di wajahnya “Ratih!!! Lo amnesia apa gimana
sih? Raihan kan satu kelas sama kita pas kelas 10 sama 11 masa lo lupa sih?.”ucap
Mita tidak percaya “Hah serius lo?masa sih?.”Tanyaku tidak percaya dengan
kata-kata Mita barusan .“Iya Ratih! Dia duduk sama Bayu pas kelas 10 sama 11
yang suka nyanyi di belakang kelas kalo pas pelajaran kosong itu, udah inget
belum?.” “Oh iya iya, gue baru inget, yang dulu lo suka kan? Kok dia bisa jadi
murid teladan ya?.”ucapku masih tidak percaya, anak yang kerjanya hanya
bercanda dengan teman-temannya saat jam kosong, yang sering keluar masuk
kesiswaan karna kenakalannya bersama teman-temannya itu, benar-benar sulit
dipercaya.
“Tih
gak usah disebut lagi itu kan jaman dulu, sekarang juga udah gak suka kok.”ucapnya
dengan wajah cemberut. ”Tapi dulu pas kelas 10 sama 11 dia lumayan kok nilainya
gak jelek-jelek banget, cuma karna dia bandel jadi guru-guru gak suka sama dia.”tambahnya
lagi. “Iya kali ya, gue gak pernah merhatiin dia jadi gue gak tau apa-apa.”ucapku
dengan nada mengejek pada Mita. “Ratih! ih ngeselin banget sih.”ucapnya sambil
mencubit lenganku.
Liburan
tengah semester pun dimulai, saat liburan yang kulakukan hanyalah membaca buku
yang kupinjam dari perpustakaan, membantu ibu membersihkan rumah, dan
mengerjakan tugas-tugas liburanku. Entah mengapa saat aku sedang membaca aku
teringat acara pengumuman murid teladan itu, saat Raihan melihat kearahku dan
memberikan senyum menyebalkan itu kepadaku “Huh, dia pikir dia siapa berani
meledekku seperti itu, lihat saja semester depan aku akan mengambil kembali
gelar yang dia rebut itu.” janjiku dalam hati, tapi kalau Mita tidak memberi
tahu bahwa kami sekelas dengannya selama 2 tahun aku tidak akan sadar. Aku
kembali mengingat-ingat kejadian-kejadian di kelas 10 dan 11 mungkin aku bisa
mengingatnya, tapi nihil aku tetap tidak bisa mengingat apapun tentang Raihan
mungkin memang benar aku tidak pernah memperhatikannya.Saat itu kami selesai
pelajaran olahraga, aku dan Mita pergi ke kamar mandi untuk mengganti baju
olahraga kami selama perjalanan kekamar mandi Mita sangat sibuk dengan
handphonenya aku tidak tahu apa yang dia lakukan jadi aku memutuskan untuk
tetap diam dan berjalan disampingnya, perhatianku teralihkan saat kami akan melewati
kelas 12 IPA 2 mengingat bahwa si “pencuri gelar”-ku ada dikelas itu, aku
penasaran bagaimana dia kalau dikelas jadi untuk memastikannya aku berjalan
lebih lambat dan mengintip dari jendela untuk melihatnya, saat itu sedang
pelajaran fisika. Aku berusaha mencari tapi tidak menemukannya tapi saat aku
melihat kebangku paling belakang dia disana dengan tenangnya tidur dimeja. Mita
yang sudah sadar bahwa ia meninggalkanku dibelakang kemudian menghampiriku. “Tih,lo
ngapain disini?Ayo ganti baju nanti keburu bel masuk.”ucapnya sambil menarikku
ke kamar mandi. “Tadi lo ngapain sih di depan kelas 12 IPA 2.?”Tanya Mita saat
kami selesai ganti baju. “Liat Raihan Mit, masa dia tidur pas pelajarann fisika.”ucapku
“Serius?ah aneh tuh anak udah gak usah dipikirin.”ucap mita kepadaku, aku pun
mengangguk. Mita terlihat kembali sibuk dengan handphonenya “Mit lo ngapain
sih?dari tadi sibuk banget meganging Hp” ucapku sedikit kesal.”Hehe, gue lagi
sms-an Tih.” “Sama siapa?.” “Sama Jordi”ucapnya sambil tersenyum malu.”Jordi
siapa?.” “Anak SMA tetangga, gue ketemu dia pas liburan ganteng banget Tih.”
“Oh ya?jadi ceritanya lagi PDKT nih?.”“Hehe, iya Tih, anaknya baik banget,
nanti deh gue kenalin.” “Sip, janji ya.”ucapku senang. Suatu hari sepulang sekolah,
aku dipanggil oleh pak Surya guru matematika kami ke ruangan beliau, jadi aku
kesana dan begitu melihatku pak Surya terlihat begitu senang. “Ratih, akhirnya kamu datang juga. Bapak mau minta tolong sama kamu, kamu
bisa tolong bapak?.” “Minta tolong apa pak?kalo saya bisa pasti saya bantu pak.”
“Begini, anak bapak masuk rumah sakit dia nangis-nangis minta bapak temani,
tapi bapak harus bikin soal untuk ulangan harian adik kelas kamu, kamu bisa
bantu bapak bikin soal untuk mereka?Tolong ya nak bapak gak tau minta bantuan
ke siapa lagi selain sama kalian.” “Oh iya pak gapapa nanti saya bantu.”ucapku
tidak segan jika menolak permintaan pak Surya. “Terima kasih ya nak, kamu
kerjakan di ruang bapak, 50 soal saja gak usah banyak-banyak, nanti bapak
bilang ke penjaga sekolah biar jangan dikunci dulu, oh iya itu buku kelas 11
buat contoh-contoh soalnya ya.“kata pak Surya. Aku mengangguk dan tiba-tiba ada
seseorang yang masuk ke ruangan pak Surya, dia Raihan. Aku sedikit kaget apa
yang dia lakukan disini pikirku. “ Ah Raihan akhirnya kamu datang juga, kamu
sudah tau kan tugas kamu, sekarang kamu kerjakan yang sama Ratih, kamu buat
soal untuk kelas 10 . Bapak tinggal dulu ya kalian”ucap pak Surya sambil keluar
dari ruangannya.Untuk beberapa saat aku hanya diam menatapnya dan memutuskan
untuk langsung menyelesaikan tugasku secepat mungkin begitupula dengannya dia
langsung duduk disampingku dan mulai membuat soal. Aku tak tahu berada di
ruangan ini bersamanya membuatku merasa aneh, aku merasa gugup. Aku melihat
kearahnya dan melihat soal yang dia buat, dia sudah membuat 19 soal sedangkan aku
baru membuat 3 soal aku memutuskan untuk kembali fokus ke pekerjaanku. Membuat
soal jauh lebih sulit daripada mengerjakan soal, aku sudah membaca buku yang
diberikan pak Surya tapi tetap tidak memiliki gambaran soal yang harus kubuat,
tiba-tiba Raihan yang duduk disampingku berdiri dan melihat kearahku.“Gue udah
selesai, lo udah selesai belum?.”tanyanya kepadaku. “Belum.”jawabku gugup “Yaudah,
gue pulang duluan ya udah malem, bye.”ucapnya cuek. Aku baru sadar kalau ini
sudah jam setengah tujuh malam saat dia bilang seperti itu, tiba-tiba terbayang
dipikiranku aku disini sendirian dan ini sudah malam, aku merasa sedikit takut.
“Han, tungguin gue dong.”ucapku sedikit takut saat dia sedang merapikan tasnya,
dia melihat kearah kertasku lalu melihat kearahku.“30 menit bisa selesai gak
sisanya?.”tanyanya “mmm…bisa kok bisa.” jawabku. Dia kemudian kembali duduk dan
aku kembali mengerjakan tugasku itu, tapi tak lama kemudian aku kembali diam,
bingung harus membuat soal seperti apa lagi. “Kok berenti? bingung?.”Tanyanya
kepadaku. Aku pun mengangguk kemudian dia mengambil kertasku dan
mengerjakannya. Dia benar-benar hebat, mungkin dia memang pintar aku salah
menilainya pikirku.“Lo pasti benci sama gue?.” ucapnya tiba-tiba sambil tetap
melihat kearah kertasnya. “Hah?enggak kok, gue gak benci sama lo.”jawabku
bingung “Yakin?gue kan udah ngerebut gelar “murid teladan”-lo?.” ucapnya sambil
melihat kearahku. “Oh itu, awalnya emang iya tapi sekarang liat lo yang
ngerjain tugas gue dari pak Surya ini gue percaya kok kalo lo emang pantes
dapet gelar itu”ucapku tulus “Tapi lo beneran hebat deh, padahal dulu lo kan
biasa aja, pasti lo rajin banget belajar”ucapku sedikit menyindirnya. Dia
melihatku kemudian tersenyum yang membuatku sedikit bingung. “Gue cuma
beruntung kok, Tuhan ngasih gue otak yang lumayan encer.”ucapnya sedikit
sombong. “Pinter maksudnya? Kalo gitu harusnya lo bisa jadi murid teladan dari
dulu dong.”tanyaku sewot. “Gue bosen jadi anak baik , pengen coba jadi anak
bandel”ucapnya sambil tersenyum. “Terus kenapa sekarang jadi anak baik
lagi?”tanyaku penasaran “Karna kalo gue jadi bandel ada seseorang yang gak
pernah liat gue tapi saat gue jadi anak baik,orang itu ngeliat gue bahkan
perhatiin gue banget”jawabnya sambil tertawa kecil. “Lo kan kapten basket, jago
lagi mainnya,mana ada yang gak kenal sama lo?.”ucapku terbawa suasana. “Ada kok.”
“Siapa?.” Tanyaku penasaran. “Lo, tih, lo orangnya.” katanya sambil melihatku. “Kok
gue?”tanyaku sedikit ragu. “Ya karena lo beda dari semua cewek di sekolah ini,
disaat cewek-cewek lain cari cara buat dapet perhatian dari gue, lo malah sibuk
sama buku-buku lo itu. Itu yang buat gue suka sama lo, tapi nyatanya lo gak
pernah liat gue”ucapnya. Aku hanya terdiam, Raihan laki-laki yang banyak di
idolakan teman-temanku ini bisa menyukaiku gadis yang bisa dibilang sangat
biasa sepertiku.”Lo pasti kaget, tenang aja gue gak maksud nembak lo kok, gue
cuma pengen lo tau aja tentang perasaan gue.”ucapnya sambil melihat kearahku
dengan tatapan yang membuatku terpesona. “Udah selesai nih tugasnya, pulang
yuk.” ajaknya kepadaku, aku pun mengangguk. Malam itu dia mengantarkanku pulang
kerumah.
Sejak
saat itu kami mulai mengenal dengan baik, sifatnya yang sebenarnya sangat jauh
berbeda dengan yang aku kira selama ini. Mita yang awalnya bingung dengan
kedekatanku dengan Raihan akhirnya mengerti setelah aku menceritakannya. Dia
bahkan sangat mendukungku dengan Raihan.
Suatu
hari setelah pulang sekolah, saat itu aku pulang sendiri karena Raihan harus
mengawasi anggota basket yang sedang latihan untuk turnamen minggu depan. Saat
aku melewati lapangan basket sebuah bola basket menggelinding kearahku, aku pun
mengambilnya dan bermaksud untuk mengembalikannya tapi ketika aku melihat
kearah lapangan, Disana Raihan sudah berdiri dengan teman-teman basketnya ia
melihatku sambil tersenyum, sesaat kemudian dia memberikan aba-aba kepada
teman-temannya yang serentak langsung berbaris dan menghadap kebelakang yang
langsung memperlihatkan serangkaian kata. “Ratih! Lo mau gak jadi pacar gue?.”
Raihan berteriak kepadaku sambil memegang bunga mawar merah. Seketika suasana
menjadi ramai karena para siswa yang melihat kejadian itu langsung bersorak
“Terima!!! Terima!!.” Aku pun langsung mengangguk menjawab pertanyaan Raihan
itu, Raihan yang melihat jawabanku langsung berlari kearahku dan memberikan
bunga yang ia bawa kepadaku. “Thanks Tih, Gue sayang banget sama lo.” Ucapnya
sambil tersenyum “Gue juga Han” jawabku. Dan sekarang dia menjadi saingan
sekaligus kekasihku.
Karya : Siti Chairani
Note : saya mempublikasi cerpen ini karena menurut saya hasil karya sahabat saya bagus.Tidak ada maksud untuk copycat atau penjiplakan karena saya sudah meminta izin kepada pihak yang bersangkutan.