NAMA : HENY KURNIATI
KELAS : 3PA02
NPM :14514924
Kita pasti sudah tidak asing lagi dengan kata kepemimpinan, didalam kehidupan kita sehari-hari kadang kita tidak menyadari bahwa segala sesuatu ada hubungannya dengan kepemimpinan. Didalam rumah kita sendiri saja sudah ada pemimpin, yaitu sosok ayah atau suami yang menjadi kepala rumah tangga. Ayah atau suami yang menjadi kepala rumah tangga didalam rumah kita adalah pemimpin bagi keluarga yang berada dalam rumah tersebut. Berikut ini adalah beberapa definisi kepemiminan menurut beberapa tokoh :
KELAS : 3PA02
NPM :14514924
Kita pasti sudah tidak asing lagi dengan kata kepemimpinan, didalam kehidupan kita sehari-hari kadang kita tidak menyadari bahwa segala sesuatu ada hubungannya dengan kepemimpinan. Didalam rumah kita sendiri saja sudah ada pemimpin, yaitu sosok ayah atau suami yang menjadi kepala rumah tangga. Ayah atau suami yang menjadi kepala rumah tangga didalam rumah kita adalah pemimpin bagi keluarga yang berada dalam rumah tersebut. Berikut ini adalah beberapa definisi kepemiminan menurut beberapa tokoh :
1. George R. Terry
(yang dikutip dari Sutarto, 1998 : 17)
Kepemimpinan adalah hubungan yang ada dalam diri seseorang atau pemimpin, mempengaruhi orang lain untuk bekerja secara sadar dalam hubungan tugas untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
2. Ordway Tead (1929)
Kepemimpinan sebagai perpaduan perangai yang memungkinkan seseorang mampu mendorong pihak lain menyelesaikan tugasnya.
3. Rauch & Behling (1984)
Kepemimpinan adalah proses mempengaruhi aktifitas-aktifitas sebuah kelompok yang diorganisasi ke arah pencapaian tujuan.
4. Katz & Kahn (1978)
Kepemimpinan adalah peningkatan pengaruh sedikit demi sedikit pada, dan berada diatas kepatuhan mekanis terhadap pengarahan-pengarahan rutin organisasi.
5. Hemhill & Coon (1995)
Kepemimpinan adalah perilaku dari seorang individu yang memimpin aktifitas-aktifitas suatu kelompok kesuatu tujuan yang ingin dicapai bersama (shared goal).
6. William G.Scott (1962)
Kepemimpinan adalah sebagai proses mempengaruhi kegiatan yang diorganisir dalam kelompok di dalam usahanya mencapai suatu tujuan yang telah ditentukan.
7. Stephen J.Carrol & Henry L.Tosj (1977)
Kepemimpinan adalah proses mempengaruhi orang-orang lain untuk melakukan apa yang kamu inginkan dari mereka untuk mengerjakannya.
8. Dr. Thomas Gordon “ Group Centered Leadership”. A way of releasing creative power of groups.
Kepemimpinan adalah hubungan yang ada dalam diri seseorang atau pemimpin, mempengaruhi orang lain untuk bekerja secara sadar dalam hubungan tugas untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
2. Ordway Tead (1929)
Kepemimpinan sebagai perpaduan perangai yang memungkinkan seseorang mampu mendorong pihak lain menyelesaikan tugasnya.
3. Rauch & Behling (1984)
Kepemimpinan adalah proses mempengaruhi aktifitas-aktifitas sebuah kelompok yang diorganisasi ke arah pencapaian tujuan.
4. Katz & Kahn (1978)
Kepemimpinan adalah peningkatan pengaruh sedikit demi sedikit pada, dan berada diatas kepatuhan mekanis terhadap pengarahan-pengarahan rutin organisasi.
5. Hemhill & Coon (1995)
Kepemimpinan adalah perilaku dari seorang individu yang memimpin aktifitas-aktifitas suatu kelompok kesuatu tujuan yang ingin dicapai bersama (shared goal).
6. William G.Scott (1962)
Kepemimpinan adalah sebagai proses mempengaruhi kegiatan yang diorganisir dalam kelompok di dalam usahanya mencapai suatu tujuan yang telah ditentukan.
7. Stephen J.Carrol & Henry L.Tosj (1977)
Kepemimpinan adalah proses mempengaruhi orang-orang lain untuk melakukan apa yang kamu inginkan dari mereka untuk mengerjakannya.
8. Dr. Thomas Gordon “ Group Centered Leadership”. A way of releasing creative power of groups.
Kepemimpinan dapat dikonsepsualisasikan sebagai suatu interaksi antara seseorang dengan suatu kelompok, tepatnya antara seorang dengan anggota-anggota kelompok setiap peserta didalam interaksi memainkan peranan dan dengan cara-cara tertentu peranan itu harus dipilah-pilahkan dari suatu dengan yang lain. Dasar pemilihan merupakan soal pengaruh, pemimpin mempengaruhi dan orang lain dipengaruhi.
Jenis – jenis kepemimpinan
Pada proses kepemimpinan setiap orang akan menghasilkan gaya yang
umumnya berbeda satu sama lainnya. Gaya kepemimpinan bisa lalim, diktator
ataupun seratus persen individualistik juga bisa mau bekerja sama, terbuka dan
berdasarkan pemikiran sehat.
Gaya kepemimpinan menjelaskan tentang bagaimana seseorang
bertindak dalam konteks organisasi. Cara termudah untuk menggambarkan gaya
kepemimpinan adalah dengan menggambarkan jenis organisasi atau situasi yang
sesuai dengan gaya tertentu.
Dari gaya
gaya kepemimpinan tersebut, maka terciptalah beberapa jenis kepemimpinan.
Sehubungan dengan itu penulis akan mencoba mengemukakan 6 tipe kepemimpinan
dalam kehidupan sehari-hari :
1. Demokratis
Kepemimpinan demokratis adalah jenis kepemimpinan dimana seorang pemimpin memberikan wewenang secara luas kepada para bawahan. Jika ada
permasalahan selalu mengikutsertakan bawahan sebagai suatu tim. Pemimpin
memberikan banyak informasi tentang tugas serta tanggung jawab para bawahannya.
2. Otokratis
Jenis kepemimpinan seperti ini akan tampak seperti dictator. Segala
pembagian tugas dan tanggung jawab dipegang oleh si pemimpin yang otoriter
tersebut, sedangkan para bawahan hanya melaksanakan tugas yang telah diberikan.
Gaya ini ditandai dengan kebergantingan pada yang berwenang dan menganggap
bahwa bawahan hanya akan melakukan sesuatu jika diperintah... Umumnya gaya kepemimpinan seperti ini dilaksanakan pada
negara-negara yang menganut asas komunis.
3. Partisipatif
Kepemimpinan
dengan jenis seperti ini dipakai untuk memotifasi
bawahan melalui pelibatan dalam pengambilan keputusan. Pemimpin mengharapkan
agar karyawan mampu bekerja sama dalam pencapaian tujuan. Gaya kepemimpinan
seperti cocok dilakukan pada perusahaan dimana keputusan harus dilaksanakan bersama.
4. Birokratis
Jenis kepemimpinan seperti ini adalah gaya yang patuh terhadap
peraturan. Para pemimpin dengan gaya kepemimpinan birokratis menganggap bahwa
segala kesulitan akan dapat diatasi jika setiap orang mematuhi peraturan. Suatu
sistem adalah hal yang mutlak ada pada gaya kepemimpinan seperti ini. Jika
dikaitkan dengan dunia bisnis, gaya kepemimpinan yang umumnya menggunakan cara
kepemimpinan birokratis adalah para birokrat yang berada pada perusahaan Negara.
5. Permisif
Pemimpin yang mempunyai jenis kepemimpinan
permisif akan selalu berkeinginan untuk membuat setiap orang yang berada dalam
kelompok puas. Jenis kepemimpinan seperti ini
menganggap bahwa bila orang-orang merasa puas dengan diri mereka sendiri dan
orang lain, maka dengan demikian organisasi akan berfungsi. Pemimpin yang
permisif menginginkn agar setiap orang merasa senang dalam
organisasi.
6. Bebas
Tipe kepemimpinan ini pada dasarnya berpandangan bahwa anggota
organisasinya mampu mandiri dalam membuat keputusan atau mampu mengurus dirinya
masing-masing, dengan sedikit mungkin pengarahan atau pemberian petunjuk dalam
merealisasikan tugas pokok masing-masing sebagai bagian dari tugas pokok
organisasi.
Jenis
kepemimpinan seperti ini pada umumnya merupakan seseorang pemimpin yang
berusaha mengelak atau menghindar dari tanggung jawab, sehingga apabila terjasi
kesalahan atau penyimpangan, dengan mudah dan tanpa beban mengatakan bukan
kesalahan atau tanggung jawabnya karena bukan keputusannya dan tidak pernah
memerintahkan pelaksanaanya.
Factor – factor kepemimpinan
1.
Pemimpin adalah orang yang memimpin
2.
Anggota adalah orang – orang yang
dipimpin
3.
Kekuasaan adalah kapasitas
mempengaruhi perilaku individu atau kelompok
4.
Pengaruh adalah tindakan atau contoh
perilaku yang menyebabkan mempengaruhi sikap atau perilaku individu atau
kelompok
5.
Nilai adalah keyakinan dasar tentang
sesuatu mempengaruhi perilaku atau cara bertindak individu atau kelompok
6.
Tujuan adalah sesuatu hasil atau
sasaran yang ingin di capai
TRANSACTIONAL
LEADERSHIP & TRANSFORMATIONAL LEADERSHIP
Menurut
Burns, kepemimpinan itu dapat mengambil salah satu dari dua bentuk ini:
Kepemimpinan transaksional (transactional leadership) dan kepemimpinan
transformasional (transformational leadership). Yang disebutkan belakangan
sangat erat berhubungan dengan kepemimpinan kharismatis.
- Transactional Leadership.
Kepemimpinan transaksional ini terwujud ketika para pemimpin
dan para pengikut (konstituen) berada dalam sejenis hubungan pertukaran
(exchange relationship) satu sama lain agar kebutuhan masing-masing pihak
dipenuhi. Jadi, semacam “barter” (tukar-menukar). “Pertukaran” ini dapat berupa
pertukaran yang bersifat ekonomis, politis atau psikologis, dan
contoh-contohnya dapat mencakup “menukar” tenaga kerja yang disumbangsihkan
dengan imbalan bayaran upah, memberi suara untuk memperoleh political favors (dalam
suasana pemilu kita sekarang: memberi suara untuk uang yang diterima dari caleg
atau tim suksesnya dslb.), bersikap setia agar dapat dipertimbangkan untuk
promosi jabatan dalam perusahaan, dst. Ada contoh lagi dalam dunia bisnis:
Seorang pemimpin transaksional membantu para pengikutnya
mencapai tujuan-tujuan mereka; jadi, para pengikutnya pun mengikuti sang
pemimpin transaksional karena jelas-nyata inilah yang terbaik bagi mereka.
Kepemimpinan transaksional adalah sesuatu yang sangat biasa kita temui dalam
kehidupan sehari-hari, namun sifatnya tidaklah untuk jangka panjang – artinya
transitoris -, tidak ada tujuan bersama yang perlu dipertahankan agar membuat
kedua pihak itu terus-menerus “nempel-nempelan”, sekali transaksi dibuat. Burns
juga mencatat, bahwa jenis kepemimpinan ini dapat cukup efektif, namun tidak
akan berakibat dalam perubahan dalam organisasi atau masyarakat, malah
cenderung untuk melestarikan dan melegitimasi status quo yang ada.
- Transformational Leadership.
Kepemimpinan transformasional mencakup dua unsur yang
bersifat hakiki, yaitu “relasional” dan “berurusan dengan perubahan riil”.
Kepemimpinan transformasional terjadi ketika seorang (atau lebih) berhubungan
dengan orang-orang lain sedemikian rupa sehingga para pemimpin dan pengikut saling
mengangkat diri untuk sampai kepada tingkat-tingkat motivasi dan moralitas yang
lebih tinggi (Burns, 1978, hal. 20).
Kepemimpinan transformasional ini adalah dalam rangka
perubahan status quo lewat nilai-nilai yang dianut para pengikut (konstituen) dan
pandangan mereka terkait dengan tujuan yang lebih tinggi. Seorang pemimpin
transformasional mengartikulasikan masalah-masalah yang ada dalam sistem yang
berlaku dan dia mempunyai visi yang sangat mendesak berkenan dengan apa dan
bagaimanakah organisasi atau masyarakat yang baru itu. Visi baru tentang
organisasi atau masyarakat ini secara erat terkait dengan nilai-nilai yang
dianut oleh sang pemimpin dan para pengikutnya. Visi ini mewakilkan suatu ideal
yang “sama dan sebangun” dengan sistem-sistem nilai mereka. Menurut Burns,
kepemimpinan transformasional pada akhirnya merupakan suatu praktek moral dalam
artian meningkatkan standar-standar perilaku manusia. Jadi, kepemimpinan
transformasional mempunyai dimensi moral juga, karena mereka yang terlibat di dalamnya
“dapat diangkat kepada diri mereka yang lebih baik (Burns, 1978, hal.
462). Artikulasi tentang dimensi moral ini dengan tajam membedakan
kepemimpinan transformasional dari pandangan-pandangan kepemimpinan yang
dipromosikan oleh para ahli manajemen. Hal ini berarti bahwa tes yang paling
mendasar terhadap kepemimpinan transformasional dapat merupakan jawaban
terhadap pertanyaan, “Apakah perubahan-perubahan yang diadvokasikan oleh sang
pemimpin sungguh memajukan atau malah menghambat perkembangan organisasi atau
masyarakat?” Seorang pemimpin transformasional juga cekatan dalam membingkai
kembali isu-isu; mereka menunjukkan bagaimana masalah-masalah atau
isu-isu yang dihadapi para pengikutnya dapat dipecahkan apabila mereka
mendukung dan mewujudkan visi sang pemimpin tentang masa depan.
Seorang
pemimpin transformasional juga mengajar para pengikutnya bagaimana mereka
sendiri dapat menjadi pemimpin-pemimpin dan mendorong mereka untuk memainkan
peranan yang aktif dalam gerakan perubahan. Contohnya adalah bagaimana seorang
Nelson Mandela memimpin perubahan di Republik Afrika Selatan, dan merupakan
presiden pertama negara itu yang dipilih secara demokratis (lihatlah tulisan
saya yang berjudul, “Mengenang Seorang Pemimpin Besar: Nelson Mandela
[1918-2013], dalam Kompasiana tanggal 5 Maret 2014). Bagi Burns, Mahatma Gandhi
secara khusus merupakan gambaran ideal dari seorang pemimpin transformasional.
Kepemimpinan Gandhi mengedepankan nilai “non-kekerasan” dan nilai-nilai lainnya
yang bersifat egalitarian, nilai-nilai mana sungguh memberikan dampak perubahan
dalam diri orang-orang dan lembaga-lembaga di India. Kepemimpinan Gandhi
sungguh memiliki tujuan secara moral, karena tujuannya adalah memenangkan
kemerdekaan pribadi bagi orang-orang sebangsanya dengan membebaskan mereka dari
penindasan oleh pemerintah kolonial Inggris. Kepemimpinan Gandhi diangkat ke
atas, dalam artian dia mengangkat para pengikutnya ke tingkat moral yang lebih
tinggi dengan melibatkan mereka dalam aktivitas-aktivitas non-kekerasan guna mencapai
keadilan sosial. Dengan melakukan begitu, Gandhi meminta pengorbanan dari para
pengikutnya, bukannya sekadar mengobral janji-jani. Karya Burns ini mencerahkan
kita supaya mampu melihat bahwa kepemimpinan pada dasarnya adalah mengenai
transformasi. Kepemimpinan transformasional adalah suatu relasi antara para
pemimpin dan para pengikut mereka di mana kedua pihak diangkat ke tingkat moral
yang lebih tinggi. Kepemimpinan transformasional adalah tentang para pemimpin
dan pengikut-pengikut mereka yang terlibat dalam proses perubahan. Memang
kepemimpinan kharismatis saling berhubungan secara erat dengan kepemimpinan
transformasional (lihat tulisan saya mengenai hal ini dalam Kompasiana
tanggal 13 Februari 2014).
Pada dasarnya semua “transformational leaders”
adalah “charismatic leaders”, namun tidak semua “charismatic leaders” adalah
“transformational leaders” (lihat coretan saya pada bagian akhir tulisan saya
yang berjudul “Sukarno !!!”, dalam Kompasiana tanggal 26 Januari 2014). Seorang
pemimpin transformasional adalah kharismatis karena mereka mampu untuk
mengartikulasikan visi masa depan yang terasa meyakinkan dan membentuk serta
membangun kelekatan-kelekatan emosional dengan para pengikutnya. Akan tetapi,
visi ini dan hubungan-hubungan ini disejajarkan dengan sistem-sistem nilai dari
para pengikut dan menolong agar kebutuhan-kebutuhan mereka terpenuhi. Seorang
pemimpin kharismatis yang bukan sekaligus seorang pemimpin transformasional
dapat menyampaikan suatu visi dan membentuk ikatan-ikatan emosional dengan para
pengikutnya, namun dia melakukan semua itu guna pemenuhan kebutuhan dirinya.
Baik pemimpin kharismatis maupun pemimpin transformasional berupaya untuk
tercapainya perubahan dalam organisasi atau masyarakat. Perbedaannya adalah
apakah perubahan tersebut adalah untuk kepentingan sang pemimpin atau
kepentingan para pengikutnya? Ada baiknya untuk dicatat, bahwa seorang pemimpin
transformasional senantiasa merupakan seseorang yang kontroversial. Konflik
mungkin timbul karena perbedaan-perbedaan dalam nilai-nilai yang dianut atau
definisi-definisi terkait apa yang baik dalam arti sosial. Kontroversi ini juga
timbul karena orang-orang yang berkemungkinan paling besar untuk merugi dalam
sistem yang ada, merekalah yang paling kuat dalam hal resistensi atau melakukan
perlawanan terhadap inisiatif perubahan transformasional. Tingkat-tingkat
emosional dari mereka yang melakukan resistensi terhadap gerakan perubahan
transformasional seringkali sama tingginya atau bobotnya dengan orang-orang
yang mendukung gerakan perubahan transformasional tersebut, dan hal ini dapat
membantu menjelaskan bagaimana Mahatma Gandhi, John F. Kennedy, Martin Luther
King, Jr. atau bahkan Yesus Kristus sampai mati dibunuh oleh lawan-lawan
mereka. Menurut Burns, para pemimpin transformasional selalu terlibat dalam
konflik dan perubahan, dan mereka harus bersedia untuk merangkul konflik
(artinya bukan malah menghindarkan/melarikan diri dari konflik), membuat
musuh-musuh, menunjukkan suatu tingkat pengorbanan-diri yang tinggi, berkulit
tebal (maksudnya nggak sensi!) dan senantiasa fokus dalam mewujudkan cita-cita
mereka.
Sumber :
Sumber :
Mulyono. 2009. Educational Leadership (Mewujudkan Efektivitas Kepemimpinan Pendidikan). Malang: UIN Malang Press.
Danim, Sudarwan. 2010. Kepemimpinan Pendidikan (Kepemimpinan Jenius (IQ+EQ), Etika, Perilaku Motivational dan Mitos). Bandung: Alfabeta.
Danim, Sudarwan. 2003. Menjadi Komunitas Pembelajar ( Kepemimpinan Transformasional dalam Komunitas Organisasi Pembelajaran). Jakarta: Bumi Aksara.
http://www.kompasiana.com/indrapradja/kepemimpinan-transformasional-transformational-leadership_54f7cb76a33311be208b4a4a
