Tuesday, November 29, 2016

KEPEMIMPINAN

NAMA         : HENY KURNIATI
KELAS        : 3PA02
NPM            :14514924


Kita pasti sudah tidak asing lagi dengan kata kepemimpinan, didalam kehidupan kita sehari-hari kadang kita tidak menyadari bahwa segala sesuatu ada hubungannya dengan kepemimpinan. Didalam rumah kita sendiri saja sudah ada pemimpin, yaitu sosok ayah atau suami yang menjadi kepala rumah tangga. Ayah atau suami yang menjadi kepala rumah tangga didalam rumah kita adalah pemimpin bagi keluarga yang berada dalam rumah tersebut. Berikut ini adalah beberapa definisi kepemiminan menurut beberapa tokoh :

1. George R. Terry (yang dikutip dari Sutarto, 1998 : 17)
Kepemimpinan adalah hubungan yang ada dalam diri seseorang atau pemimpin, mempengaruhi orang lain untuk bekerja secara sadar dalam hubungan tugas untuk mencapai tujuan yang diinginkan.

2. Ordway Tead (1929)
Kepemimpinan sebagai perpaduan perangai yang memungkinkan seseorang mampu mendorong pihak lain menyelesaikan tugasnya.

3. Rauch & Behling (1984)
Kepemimpinan adalah proses mempengaruhi aktifitas-aktifitas sebuah kelompok yang diorganisasi ke arah pencapaian tujuan.

4. Katz & Kahn (1978)
Kepemimpinan adalah peningkatan pengaruh sedikit demi sedikit pada, dan berada diatas kepatuhan mekanis terhadap pengarahan-pengarahan rutin organisasi.

5. Hemhill & Coon (1995)
Kepemimpinan adalah perilaku dari seorang individu yang memimpin aktifitas-aktifitas suatu kelompok kesuatu tujuan yang ingin dicapai bersama (shared goal).

6. William G.Scott (1962)
Kepemimpinan adalah sebagai proses mempengaruhi kegiatan yang diorganisir dalam kelompok di dalam usahanya mencapai suatu tujuan yang telah ditentukan.

7. Stephen J.Carrol & Henry L.Tosj (1977)
Kepemimpinan adalah proses mempengaruhi orang-orang lain untuk melakukan apa yang kamu inginkan dari mereka untuk mengerjakannya.

8. Dr. Thomas Gordon “ Group Centered Leadership”. A way of releasing creative power of groups.


Kepemimpinan dapat dikonsepsualisasikan sebagai suatu interaksi antara seseorang dengan suatu kelompok, tepatnya antara seorang dengan anggota-anggota kelompok setiap peserta didalam interaksi memainkan peranan dan dengan cara-cara tertentu peranan itu harus dipilah-pilahkan dari suatu dengan yang lain. Dasar pemilihan merupakan soal pengaruh, pemimpin mempengaruhi dan orang lain dipengaruhi.

Jenis – jenis kepemimpinan
Pada proses kepemimpinan setiap orang akan menghasilkan gaya yang umumnya berbeda satu sama lainnya. Gaya kepemimpinan bisa lalim, diktator ataupun seratus persen individualistik juga bisa mau bekerja sama, terbuka dan berdasarkan pemikiran sehat.
Gaya kepemimpinan menjelaskan tentang bagaimana seseorang bertindak dalam konteks organisasi. Cara termudah untuk menggambarkan gaya kepemimpinan adalah dengan menggambarkan jenis organisasi atau situasi yang sesuai dengan gaya tertentu.
Dari gaya gaya kepemimpinan tersebut, maka terciptalah beberapa jenis kepemimpinan. Sehubungan dengan itu penulis akan mencoba mengemukakan 6 tipe kepemimpinan dalam kehidupan sehari-hari :
1.       Demokratis
Kepemimpinan demokratis adalah jenis  kepemimpinan dimana seorang  pemimpin memberikan wewenang secara luas kepada para bawahan. Jika ada permasalahan selalu mengikutsertakan bawahan sebagai suatu tim. Pemimpin memberikan banyak informasi tentang tugas serta tanggung jawab para bawahannya.

2.      Otokratis
Jenis kepemimpinan seperti ini akan tampak seperti dictator. Segala pembagian tugas dan tanggung jawab dipegang oleh si pemimpin yang otoriter tersebut, sedangkan para bawahan hanya melaksanakan tugas yang telah diberikan. Gaya ini ditandai dengan kebergantingan pada yang berwenang dan menganggap bahwa bawahan hanya akan melakukan sesuatu jika diperintah... Umumnya gaya kepemimpinan seperti ini dilaksanakan pada negara-negara yang menganut asas komunis.
3.      Partisipatif
Kepemimpinan dengan jenis seperti ini dipakai untuk memotifasi bawahan melalui pelibatan dalam pengambilan keputusan. Pemimpin mengharapkan agar karyawan mampu bekerja sama dalam pencapaian tujuan. Gaya kepemimpinan seperti cocok dilakukan pada perusahaan dimana keputusan harus dilaksanakan bersama.

4.      Birokratis
Jenis kepemimpinan seperti ini adalah gaya yang patuh terhadap peraturan. Para pemimpin dengan gaya kepemimpinan birokratis menganggap bahwa segala kesulitan akan dapat diatasi jika setiap orang mematuhi peraturan. Suatu sistem adalah hal yang mutlak ada pada gaya kepemimpinan seperti ini. Jika dikaitkan dengan dunia bisnis, gaya kepemimpinan yang umumnya menggunakan cara kepemimpinan birokratis adalah para birokrat yang berada pada perusahaan Negara.

5.      Permisif
Pemimpin yang mempunyai jenis kepemimpinan permisif akan selalu berkeinginan untuk membuat setiap orang yang berada dalam kelompok puas. Jenis kepemimpinan seperti ini menganggap bahwa bila orang-orang merasa puas dengan diri mereka sendiri dan orang lain, maka dengan demikian organisasi akan berfungsi. Pemimpin yang permisif menginginkn agar setiap orang merasa senang dalam organisasi.
6.      Bebas
Tipe kepemimpinan ini pada dasarnya berpandangan bahwa anggota organisasinya mampu mandiri dalam membuat keputusan atau mampu mengurus dirinya masing-masing, dengan sedikit mungkin pengarahan atau pemberian petunjuk dalam merealisasikan tugas pokok masing-masing sebagai bagian dari tugas pokok organisasi.
Jenis kepemimpinan seperti ini pada umumnya merupakan seseorang pemimpin yang berusaha mengelak atau menghindar dari tanggung jawab, sehingga apabila terjasi kesalahan atau penyimpangan, dengan mudah dan tanpa beban mengatakan bukan kesalahan atau tanggung jawabnya karena bukan keputusannya dan tidak pernah memerintahkan pelaksanaanya.
Factor – factor kepemimpinan
1.      Pemimpin adalah orang yang memimpin
2.      Anggota adalah orang – orang yang dipimpin
3.      Kekuasaan adalah kapasitas mempengaruhi perilaku individu atau kelompok
4.      Pengaruh adalah tindakan atau contoh perilaku yang menyebabkan mempengaruhi sikap atau perilaku individu atau kelompok
5.      Nilai adalah keyakinan dasar tentang sesuatu mempengaruhi perilaku atau cara bertindak individu atau kelompok
6.      Tujuan adalah sesuatu hasil atau sasaran yang ingin di capai

TRANSACTIONAL LEADERSHIP & TRANSFORMATIONAL LEADERSHIP
Menurut Burns, kepemimpinan itu dapat mengambil salah satu dari dua bentuk ini: Kepemimpinan transaksional (transactional leadership) dan kepemimpinan transformasional (transformational leadership). Yang disebutkan belakangan sangat erat berhubungan dengan kepemimpinan kharismatis.
  • Transactional Leadership.  

Kepemimpinan transaksional ini terwujud ketika para pemimpin dan para pengikut (konstituen) berada dalam sejenis hubungan pertukaran (exchange relationship) satu sama lain agar kebutuhan masing-masing pihak dipenuhi. Jadi, semacam “barter” (tukar-menukar). “Pertukaran” ini dapat berupa pertukaran yang bersifat ekonomis, politis atau psikologis, dan contoh-contohnya dapat mencakup “menukar” tenaga kerja yang disumbangsihkan dengan imbalan bayaran upah, memberi suara untuk memperoleh political favors (dalam suasana pemilu kita sekarang: memberi suara untuk uang yang diterima dari caleg atau tim suksesnya dslb.), bersikap setia agar dapat dipertimbangkan untuk promosi jabatan dalam perusahaan, dst. Ada contoh lagi dalam dunia bisnis:
Seorang pemimpin transaksional membantu para pengikutnya mencapai tujuan-tujuan mereka; jadi, para pengikutnya pun mengikuti sang pemimpin transaksional karena jelas-nyata inilah yang terbaik bagi mereka. Kepemimpinan transaksional adalah sesuatu yang sangat biasa kita temui dalam kehidupan sehari-hari, namun sifatnya tidaklah untuk jangka panjang – artinya transitoris -, tidak ada tujuan bersama yang perlu dipertahankan agar membuat kedua pihak itu terus-menerus “nempel-nempelan”, sekali transaksi dibuat. Burns juga mencatat, bahwa jenis kepemimpinan ini dapat cukup efektif, namun tidak akan berakibat dalam perubahan dalam organisasi atau masyarakat, malah cenderung untuk melestarikan dan melegitimasi status quo yang ada.

  • Transformational Leadership.

Kepemimpinan transformasional mencakup dua unsur yang bersifat hakiki, yaitu “relasional” dan “berurusan dengan perubahan riil”. Kepemimpinan transformasional terjadi ketika seorang (atau lebih) berhubungan dengan orang-orang lain sedemikian rupa sehingga para pemimpin dan pengikut saling mengangkat diri untuk sampai kepada tingkat-tingkat motivasi dan moralitas yang lebih tinggi (Burns, 1978, hal. 20).

Kepemimpinan transformasional ini adalah dalam rangka perubahan status quo lewat nilai-nilai yang dianut para pengikut (konstituen) dan pandangan mereka terkait dengan tujuan yang lebih tinggi. Seorang pemimpin transformasional mengartikulasikan masalah-masalah yang ada dalam sistem yang berlaku dan dia mempunyai visi yang sangat mendesak berkenan dengan apa dan bagaimanakah organisasi atau masyarakat yang baru itu. Visi baru tentang organisasi atau masyarakat ini secara erat terkait dengan nilai-nilai yang dianut oleh sang pemimpin dan para pengikutnya. Visi ini mewakilkan suatu ideal yang “sama dan sebangun” dengan sistem-sistem nilai mereka. Menurut Burns, kepemimpinan transformasional pada akhirnya merupakan suatu praktek moral dalam artian meningkatkan standar-standar perilaku manusia. Jadi, kepemimpinan transformasional mempunyai dimensi moral juga, karena mereka yang terlibat di dalamnya “dapat diangkat kepada  diri mereka yang lebih baik (Burns, 1978, hal. 462).  Artikulasi tentang dimensi moral ini dengan tajam membedakan kepemimpinan transformasional dari pandangan-pandangan kepemimpinan yang dipromosikan oleh para ahli manajemen. Hal ini berarti bahwa tes yang paling mendasar terhadap kepemimpinan transformasional dapat merupakan jawaban terhadap pertanyaan, “Apakah perubahan-perubahan yang diadvokasikan oleh sang pemimpin sungguh memajukan atau malah menghambat perkembangan organisasi atau masyarakat?” Seorang pemimpin transformasional juga cekatan dalam membingkai kembali isu-isu; mereka  menunjukkan bagaimana masalah-masalah atau isu-isu yang dihadapi para pengikutnya dapat dipecahkan apabila mereka mendukung dan mewujudkan visi sang pemimpin tentang masa depan. 
Seorang pemimpin transformasional juga mengajar para pengikutnya bagaimana mereka sendiri dapat menjadi pemimpin-pemimpin dan mendorong mereka untuk memainkan peranan yang aktif dalam gerakan perubahan. Contohnya adalah bagaimana seorang Nelson Mandela memimpin perubahan di Republik Afrika Selatan, dan merupakan presiden pertama negara itu yang dipilih secara demokratis (lihatlah tulisan saya yang berjudul, “Mengenang Seorang Pemimpin Besar: Nelson Mandela [1918-2013], dalam Kompasiana tanggal 5 Maret 2014). Bagi Burns, Mahatma Gandhi secara khusus merupakan gambaran ideal dari seorang pemimpin transformasional. Kepemimpinan Gandhi mengedepankan nilai “non-kekerasan” dan nilai-nilai lainnya yang bersifat egalitarian, nilai-nilai mana sungguh memberikan dampak perubahan dalam diri orang-orang dan lembaga-lembaga di India. Kepemimpinan Gandhi sungguh memiliki tujuan secara moral, karena tujuannya adalah memenangkan kemerdekaan pribadi bagi orang-orang sebangsanya dengan membebaskan mereka dari penindasan oleh pemerintah kolonial Inggris. Kepemimpinan Gandhi diangkat ke atas, dalam artian dia mengangkat para pengikutnya ke tingkat moral yang lebih tinggi dengan melibatkan mereka dalam aktivitas-aktivitas non-kekerasan guna mencapai keadilan sosial. Dengan melakukan begitu, Gandhi meminta pengorbanan dari para pengikutnya, bukannya sekadar mengobral janji-jani. Karya Burns ini mencerahkan kita supaya mampu melihat bahwa kepemimpinan pada dasarnya adalah mengenai transformasi. Kepemimpinan transformasional adalah suatu relasi antara para pemimpin dan para pengikut mereka di mana kedua pihak diangkat ke tingkat moral yang lebih tinggi. Kepemimpinan transformasional adalah tentang para pemimpin dan pengikut-pengikut mereka yang terlibat dalam proses perubahan. Memang kepemimpinan kharismatis saling berhubungan secara erat dengan kepemimpinan transformasional  (lihat tulisan saya mengenai hal ini dalam Kompasiana tanggal 13 Februari 2014). 
Pada dasarnya semua “transformational leaders” adalah “charismatic leaders”, namun tidak semua “charismatic leaders” adalah “transformational leaders” (lihat coretan saya pada bagian akhir tulisan saya yang berjudul “Sukarno !!!”, dalam Kompasiana tanggal 26 Januari 2014). Seorang pemimpin transformasional adalah kharismatis karena mereka mampu untuk mengartikulasikan visi masa depan yang terasa meyakinkan dan membentuk serta membangun kelekatan-kelekatan emosional dengan para pengikutnya. Akan tetapi, visi ini dan hubungan-hubungan ini disejajarkan dengan sistem-sistem nilai dari para pengikut dan menolong agar kebutuhan-kebutuhan mereka terpenuhi. Seorang pemimpin kharismatis yang bukan sekaligus seorang pemimpin transformasional dapat menyampaikan suatu visi dan membentuk ikatan-ikatan emosional dengan para pengikutnya, namun dia melakukan semua itu guna pemenuhan kebutuhan dirinya. Baik pemimpin kharismatis maupun pemimpin transformasional berupaya untuk tercapainya perubahan dalam organisasi atau masyarakat. Perbedaannya adalah apakah perubahan tersebut adalah untuk kepentingan sang pemimpin atau kepentingan para pengikutnya? Ada baiknya untuk dicatat, bahwa seorang pemimpin transformasional senantiasa merupakan seseorang yang kontroversial. Konflik mungkin timbul karena perbedaan-perbedaan dalam nilai-nilai yang dianut atau definisi-definisi terkait apa yang baik dalam arti sosial. Kontroversi ini juga timbul karena orang-orang yang berkemungkinan paling besar untuk merugi dalam sistem yang ada, merekalah yang paling kuat dalam hal resistensi atau melakukan perlawanan terhadap inisiatif perubahan transformasional. Tingkat-tingkat emosional dari mereka yang melakukan resistensi terhadap gerakan perubahan transformasional seringkali sama tingginya atau bobotnya dengan orang-orang yang mendukung gerakan perubahan transformasional tersebut, dan hal ini dapat membantu menjelaskan bagaimana Mahatma Gandhi, John F. Kennedy, Martin Luther King, Jr. atau bahkan Yesus Kristus sampai mati  dibunuh oleh lawan-lawan mereka. Menurut Burns, para pemimpin transformasional selalu terlibat dalam konflik dan perubahan, dan mereka harus bersedia untuk merangkul konflik (artinya bukan malah menghindarkan/melarikan diri dari konflik), membuat musuh-musuh, menunjukkan suatu tingkat pengorbanan-diri yang tinggi, berkulit tebal (maksudnya nggak sensi!) dan senantiasa fokus dalam mewujudkan cita-cita mereka.















Sumber :


Mulyono. 2009. Educational Leadership (Mewujudkan Efektivitas Kepemimpinan Pendidikan). Malang: UIN Malang Press.

Danim, Sudarwan. 2010. Kepemimpinan Pendidikan (Kepemimpinan Jenius (IQ+EQ), Etika, Perilaku Motivational dan Mitos). Bandung: Alfabeta.
Danim, Sudarwan. 2003. Menjadi Komunitas Pembelajar ( Kepemimpinan Transformasional dalam Komunitas Organisasi Pembelajaran). Jakarta: Bumi Aksara.
http://www.kompasiana.com/indrapradja/kepemimpinan-transformasional-transformational-leadership_54f7cb76a33311be208b4a4a

Thursday, October 20, 2016

Komunikasi dan Peran Psikologi Konsumen

A.    Pengertian Komunikasi
Komunikasi merupakan suatu proses sosial yang sangat mendasar dan vital dalam kehidupan manusia. Dikatakan mendasar karena setiap masyarakat manusia, baik yang primitif maupun yang modern, berkeinginan mempertahankan suatu persetujuan mengenai berbagai aturan sosial melalui komunikasi. Dikatakan vital karena setiap individu memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dengan individu – individu lainnya sehingga meningkatkan kesempatan individu itu untuk tetap hidup (Rakhmat, 1998:1).
Setiap saat semua orang selalu berbicara tentang komunikasi. Kata komunikasi sangat dikenal, tetapi banyak di antara kita yang kurang mengerti makna dari komunikasi walaupun kita selalu memperbincangannya dan melakukannya. Kata komunikasi atau communication dalam bahasa Inggris berasl dari bahasa Latin communis yang berarti “sama”, communico, communicatio, atau communicare yang berarti “membuat sama” (to make common). Istilah pertama (communis) adalah istilah yang paling sering sebagai asal usul komunikasi, yang merupakan akar dari kata-kata Latin lainnya yang mirip. Komunikasi menyarankan bahwa suatu pikiran, suatu makna, atau suatu pesan dianut secara sama (Mulyana, 2005 : 4).
Secara paradigmatis, komunikasi adalah proses penyampaian suatu pesan oleh seseorang kepada orang lain untuk memberi tahu atau mengubah sikap, pendapat, atau perilaku, baik langsung secara lisan maupun tal langsung melalui media (Effendy, 2006 : 5).
Pengertian komunikasi memang sangat sederhana dan mudah dipahami, tetapi dalam pelaksanaannya sangat sulit dipahami, terlebih lagi bila yang terlibat komunikasi memiliki referensi yang berbeda, atau di dalam komunikasi berjalan satu arah misalnya dalam media massa, tentunya untuk membentuk persamaan ini akan mengalami banyak hambatan (Wahyudi, 1986: 29).
Dari pengertian diatas dapat dilihat bahwa komunikasi merupakan suatu proses penyampaian pesan yang dapat berupa pesan informasi, ide, emosi, keterampilan dan sebagainya melalui simbol atau lambang yang dapat menimbulkan efek berupa tingkah laku yang dilakukan dengan media-media tertentu.

 Hasil gambar untuk psikologi komunikasi dalam management 

B. Dimensi Dimensi Komunikasi

1. Dimensi isi
Dimensi isi menunjukan isi dari komunikasi. Dimensi isi secara verbal, symbol atau pesan verbal adalah semua jenis symbol yang menggunakan satu kata atau lebih. Hampir semua rangsangan wicara yang kita sadari termasuk kedalam kategosi pesan verbal disengaja, yaitu usaha-usaha yang dilakukan secara sadar untuk berhubungan dengan orang lain secara lisan. Sedangkan bahasa verbal adalah sarana untuk menyatakan pikiran, perasaan, dan maksud kita.
2.       Dimensi Kebisingan
Kebisingan merupakan salah satu penyebab utama timbulnya gagasan kesehatan bagi para pekerja maupun masyarakat di sekitaran tempat kerja dan sering kali menimbulkan protes dan kemarahan warga yang bertempat tinggal di dekat sumber kebisingan. Sumber kebisingan dapat berasal dari kendaraan bermotor, kawasan industry atau pabrik , pesawat terbang, kereta api, tempat umum dan niaga.

Jenis – jenis kebisingan
1.      Study state – narrow band noise : kebisingan yang terus menerus dengan spectrum yang sepit seperti suara mesing.
2.      Non study state- narrow bund noise : kebisingan yang tidak terus menerus dengan sprektrum suara yang sempit seperti mesin gergaji, katup uap.
3.      Kebisingan intermite : kebisisngan yang terjadi sewaktu – waktu dan terputus seperti suara pesawat terbang, kereta api.
4.      Kebisigan impulsive : kebisingan impulsive yang berintensitas tinggi seperti ledakan bom dapat menyebabkan kerusakan pada alat pendengaran. Kerusakan dapat terjadi pada gendang atau tulang tulang halus telinga tengah.

3.      Dimensi Jaringan
Jaringan Organisasi terdiri dari beberapa orang yang tiap – tiapnya menduduki posisi atau peranan tertentu dalam organisasi. Ciptaan dan pertukaran pesan dari orang – orang ini sesamanya terjadi melalui suatu set jalan kecil yang dinamakan jaringan komunikasi.
4.      Dimensi Arah
a.       Komunikasi satu arah
Komunikasi satu arah adalah komunikasi dimana pencapaian idea idea, pendapat dan informasi hanya dilakukan satu pihak, sedangkan pihak lain pasif tidak memberikan reaksi atau respon sama sekali.
b.      Komunikasi dua arah

Komunikasi dua arah berarti kedua belah pihak aktif menyampaikan idea-idea, pendapat serta bahan informasi, dsb. Komunikasi dua arah tersebut akan berlangsung selama tidak ada yang pasif atau tertutup tidak bersedia berkomunikasi lagi. 


C.           Peran psikologi Management Dalam Organisasi
Menurut banyak teori, metode dan pendekatan Psikologi dapat dimanfaatkan di berbagai bidang dalam perusahaan.  Salah satu hasil riset yang dilakukan terhadap para manager HRD menunjukkan bahwa lebih dari 50% responden menyebutkan Psikologi Industri dan Organisasi memberikan peran penting pada area-area seperti pengembangan manajemen SDM (rekrutmen, seleksi dan penempatan, pelatihan dan pengembangan), motivasi kerja, moral dan kepuasan kerja. 30% lagi memandang hubungan industrial sebagai area kontribusi dan yang lainnya menyebutkan peran penting PIO pada disain struktur organisasi dan desain pekerjaan. Jadi psikologi manajemen dapat mempelajari perilaku manusia sebagai sumber daya dan manajement di dalam sebuah organisasi atau perusahaan. Adanya psikologi manajement dapat membantu, memudahkan dan mengembangkan suatu organisasi yang di dalamnya terdapat sumber daya manusia.





Daftar Pustaka
Sendjaja. 1994. Teori – Teori Komunikasi. Universitas Terbuka
Lehjana Effendy, Onong. 1990. Ilmu – Ilmu Komunikasi . Bandung. PT.Remaja Rosdakarya.

Setyobroto, Budipyo. 2004. Psikologi Komunikasi. Jakarta : Universitas Negri Jakarta. 

Tuesday, September 27, 2016

Sumber Daya Manusia, Kepemimpinan dan Organisasi Psikologi manajemen

1.1 Pengertian Sumber Daya Manusia
Menurut Sayuti Hasibuan (2000, p3), sumber daya manusia adalah semua manusia yang terlibat di dalam suatu organisasi dalam mengupayakan terwujudnya tujuan organisasi tersebut.
Menurut Malayu Hasibuan, sumber daya manusia merupakan kemampuan terpadu dari daya pikir dan daya fisik yang dimiliki individu. Kemampuan sumber daya manusia tidak dapat dilihat dari satu sisi saja, namun harus mencangkup keseluruhan dari daya pikir dan juga daya fisiknya.
Veithzal Rivai mendefinisikan sumber daya manusia sebagai seorang yang siap, mau dan mampu memberi sumbangan usaha pencapaian tujuan organisasi. Setiap organisasi atau perusahaan tentunya memiliki tujuan yang berbeda-beda, maka dari itu kemampuan sumber daya manusia yang dibutuhkan pun akan berbeda pada tiap-tiap perusahaan.
Pengertian sumber daya manusia menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah potensi manusia yang dapat dikembangkan untuk proses produksi. Potensi sumber daya manusia berbeda-beda pada tiap individu. Untuk bisa mengembangkan potensi sumber daya manusia yang berbeda-beda tersebut, dibutuhkan suatu sistem manajemen unik yang dinamakan manajemen sumber daya manusia.
Jadi, sumber daya manusia (SDM) adalah semua orang yang terlibat yang
bekerja untuk mencapai tujuan perusahaan

Pengertian Organisasi
Ada beberapa para ahli yang mengemukakan tentang pengertian organisasi, antara lain:
1. W.J.S. Poerwadarminta
Organisasi merupakan susunan dan aturan dari berbagai bagian (orang atau kelompok) sehingga menjadi satu kesatuan yang teratur dan tertata.
2. Janu Murdiyamoko & Citra Handayani
Organisasi merupakan sebuah sistem sosial yang mempunyai identitas kolektif secara tegas, progja yang jelas, prosedur dan cara kerja, serta daftar anggota yang secara terperinci.
3. Max Weber
Organisasi ialah suatu kerangka terstruktur yang di dalamnya berisikan wewenang, tanggung jawab dan pembagian kerja untuk menjalankan masing-masing fungsi tertentu.
4. James D. Mooney, Organisasi yaitu bentuk tiap-tiap perserikatan manusia untuk meraih tujuan berbarengan.
5. Chester I. Bernard, Menyebutkan kalau organisasi yaitu satu system kesibukan kerja sama yang dikerjakan oleh dua orang atau lebih.
6. Drs. H. Malayu S, P, Hasibuan, menurut dia pengertian organisasi yaitu sebagai sistem pemilihan, pengelompokan, serta penyusunan berbagai macam kesibukan yang dibutuhkan untuk meraih tujuan berbarengan.
a. Ciri-Ciri Organisasi Dengan cara umum
  • Memiki tujuan serta tujuan
  • Mempunyai komponen yakni atasan serta bawahan
  • Ada kerja sama yang terstruktur
  • Mempunyai pendegelasian wewenang serta koordinasi beberapa pekerjaan.
  • Mempunyai keterikatakan format serta tatat tertip yang perlu ditaati
b. Ciri-Ciri Organisasi Menurut Beberapa Pakar yakni Berelson serta Steiner
  • Normalitas, yaitu ciri organisasi sosial yang mengacu pada perumusan tercatat dari pada beberapa ketentuan,beberapa ketentuan prosedur, kebijaksanaan, tujuan, kiat dan sebagainya 
  • Hierarki, yaitu ciri organisasi yang merujuk pada pola kekuasaan serta kewenangan yang berupa piramida, berarti ada beberapa orang spesifik dengan kekuasaan serta kewenangan yang tinggi daripada orang umum dalam organisasi itu.
  • Besar serta Kompleksnya, yaitu ciri organisasi sosial yang mempunyai banyak anggota hingga jalinan sosial antar anggota yaitu tak segera (impersonal) yang umumnya ditujuan dengan ” tanda-tanda birokrasi “
  • Lamanya (Duration), yaitu ciri organisasi di mana eksistensi organisasi lebih lama daripada keanggotaan pada organisasi itu.
C. Ciri-Ciri Organisasi Modern
  • Organisasi jadi tambah besar
  • Pemakaian staf lebih intensif
  • Unsur-unsur organisasi lebih komplit
  • Pengelolaan data makin cepat
  • Ada prinsip-prinsip atau azas-asaz organisasi
  • Cenderung spesialisasi
D. Unsur-Unsur Dasar Organisasi
  • Personil atau anggota
  • Visi
  • Misi
  • Wewenang
  • Struktur
  • Jalinan
  • Formalitas
  • Sumber Daya
  • Sistem Aktivitas organisasi

Manfaat Organisasi

Mengikuti dan menjadi anggota dalam organisasi memiliki manfaat antara lain sebagai berikut…
  • Tercapainya sebuah tujuan
  • Melatih mental bicara di publik
  • Mudah memecahkan masalah
  • Melatih leadership
  • Memperluas pergaulan
  • Kuat dalam menghadapi tekanan
  • Meningkatkan wawasan dan pengetahuan
  • Membentuk karakteristik dengan seseorang
  • Mampu dalam mengatur waktu dengan baik
  • Sebagai ajang dalam pembelajaran kerja yang sebenarnya

                TEORI KEPEMIMPINAN
A.TEORI WATAK ATAU SIFAT
(Trait Theory)

Teori ini menekankan keberhasilan organisasi pada diri pemimpin. Studi tentang kepemimpinan didasarkan pada karakteristik pemimpin yang berhasil.

1.Menurut STOGDILL, Pemimpin yang berhasil adalah pemimpin yang memiliki :
a.Capacity
b.Achivement
c.Responsibility
e.Status
f.Participation

2.Menurut KEIRSEY
Watak pemimpin dipengaruhi oleh 2 hal :
a. Perbedaan Keinginan Setiap orang mempunyai : motif, dorongan, tujuan dan kebutuhan yang berbeda

b. Perbedaan Persepsi
Setiap orang memiliki : pemahaman dan cara berpikir yang berbeda

Pengertian Kepemimpinan menurut para ahli

Adapun beberapa pengertian kepemimpinan menurut para ahli yaitu:
Pengertian kepemimpinan menurut Hemhill dan Coons adalah perilaku dari seorang individu yang memimpin aktivitas-aktivitas suatu kelompok ke suatu tujuan yang ingin dicapai bersama (shared goals).
Pengertian kepemimpinan menurut Tannenbaum, Weschler dan Masarik menyatakan bahwa kepemimpinan adalah Pengaruh antar pribadi yang dijalankan dalam suatu situasi tertentu, serta diarahkan melalui proses komunikasi, ke arah pencapaian satu atau beberapa tujuan tertentu”.

Teori-teori kepemimpinan (Leadership theory)

·         Teori kepemimpinan yaitu teori genetis dimana menjelaskan bahwa seseorang akan dapat menjadi pemimpin karena ia telah dilahirkan untuk bisa menjadi pemimpin; dia telah memiliki bakat dan mempunyai pembawaan untuk bisa menjadi pemimpin. Menurut teori kepemimpinan seperti teori genetis ini mengasumsikan bahwa tidak setiap orang dapat menjadi pemimpin, hanya beberapa orang yang memiliki pembawaan dan bakat saja yang dapat menjadi pemimpin. Hal tersebut memunculkan “Pemimpin tidak hanya sekedar dibentuk tapi dilahirkan”.
·         Teori kepemimpinan yang kedua yaitu teori sosial yang menyatakan bahwa seseorang akan dapat menjadi pemimpin karena lingkungannya yang mendukung, keadaan dan waktu memungkinkan ia bisa menjadi pemimpin. Setiap orang dapat memimpin asal diberikan kesempatan dan diberikan pembinaan untuk  dapat menjadi pemimpin meskipun ia tidak memiliki pembawaan atau bakat.
·         Teori kepemimpinan yang ketiga yaitu teori ekologis, dalam teori kepemimpinan ekologis ini menyatakan bahwa gabungan dari teori genetis dan sosial, dimana seseorang akan menjadi pemimpin membutuhkan bakat dan bakat tersebut mesti selalu dibina agar berkembang. Kemungkinan untuk bisa mengembangkan bakat tersebut itu tergantung dari lingkungannya.
·         Teori kepemimpinan yang keempat yaitu teori situasi, dalam teori kepemimpinan situasi ini menyatkaan bahwa seseorang dapat menjadi pemimpin ketika berada dalam situasi tertentu karena dia memiliki kelebihan-kelebihan yang dibutuhkan dalam situasi tersebut. Akan tetapi pada situasi yang lainnya, kelebihannya tersebut tidak dibutuhkan, akhirnya ia tidak akan menjadi pemimpin lagi, bahkan bisa jadi menjadi pengikut saja.
Tipe dan Gaya kepemimpinan
Pemimpin itu memiliki sifat, kebiasaan dan watak serta kepribadian yang khas. Dari tingkah laku dan gayanya lah yang dapat membedakan dirinya dibanding orang lain. Gaya tentunya akan selalu dapat mewarnai perilaku dan tipe seseorang dalam pemimpin atau gaya kepemimpinan.
Adapun gaya-gaya kepemimpinan yaitu sebagai berikut :
  • ·    Gaya kepemimpinan otokrati 
Gaya ini terkadang disebut sebagai kepemimpinan yang terpusat pada diri pemimpin atau gaya direktif. Gaya otokratis ini ditandai dengan adanya petunjuk yang sangat banyak sekali yang berasal dari pemimpin dan tidak ada satupun peran para anak buah dalam merencanakan dan sekaligus mengambil suatu keputusan.
  • ·         Gaya Kepemimpinan Demokratis 
Gaya kepemimpinan demokratis adalah suatu kemampuan dalam mempengaruh orang lain agar dapat bersedia untuk bekerja sama dalam mencapai tujuan yang sudah ditetapkan dengan berbagai cara atau kegiatan yang dapat dilakukan dimana ditentukan bersama antara bawahan dan pimpinan.
  • ·         Gaya kepemimpinan delegatif 
Gaya kepemimpinan delegatif memiliki ciri-ciri yaitu pemimpin akan jarang dalam memberikan arahan, pembuat keputusan diserahkan kepada bawahan, dan anggota organisasi tersebut diharapkan bisa menyelesaikan segala permasalahannya sendiri. Gaya kepemimpinan delegatif ini memiliki ciri khas dari perilaku pemimpin didalam melakukan tugasnya sebagai pemimpin
  • ·         Gaya kepemimpinan birokratis. 
Gaya kepemimpinan birokratis ini dilukiskan dengan pernyataan “Memimpin berdasarkan adanya peraturan”. Perilaku memimpin yang ditandai dengan adanya keketatan pelaksanaan suatu prosedur yang telah berlaku untuk pemimpin dan anak buahnya. Pemimpin yang birokratis, secara umum akan membuat segala keputusan itu berdasarkan dari aturan yang telah berlaku dan tidak ada lagi fleksibilitas. Segala kegiatan mesti terpusat pada pemimpin dan sedikit saja diberikan kebebasan kepada orang lain dalam berkreasi dan bertindak, itupun tak boleh melepaskan diri dari ketentuan yang sudah berlaku.
  • ·         Gaya Kepemimpinan Laissez Faire 
Gaya ini akan mendorong kemampuan anggota dalam mengambil inisiatif. Kurang interaksi dan kontrol yang telah dilakukan oleh pemimpin, sehingga gaya tersebut hanya dapat berjalan jika bawahan mampu memperlihatkan tingkat kompetensi dan keyakinan dalam mengejar tujuan dan sasaran yangcukup tinggi.
  • ·        Gaya Kepemimpinan Otoriter / Authoritarian 
Adalah gaya pemimpin yang telah memusatkan segala keputusan dan kebijakan yang ingin diambil dari dirinya sendiri dengan secara penuh. Segala pembagian tugas dan tanggung jawab akan dipegang oleh si pemimpin yang bergaya otoriter tersebut, sedangkan para bawahan hanya sekedar melaksanakan tugas yang sudah diberikan


Kaitan antara SDM, Organisasi dan Kepemimpinan
Kepemimpinan merupakan faktor yang mempengaruhi keberhasilan organisasi dalam mencapai tujuannya. Pemimpin yang efektif dapat membawa organisasi mencapai tujuannya. Ciri-ciri pemimpin yang efektif adalah: (1) Strategist; (2)  Eksekutor; (3) Manajer Talenta; (4) Pengembang SDM; (5) Kecakapan Pribadi. Dengan memiliki kelima ciri tersebut, merupakan sebuah keniscayaan, seorang pemimpin dapat membawa organisasinya mencapai visi dan misi yang sudah ditetapkan.
Kepemimpinan merupakan komponen yang sangat vital dalam suatu organisasi. Robbins (1994) pada Masana Sembiring (2012) mengemukakan bahwa “organisasi adalah kesatuan (entity) sosial yang dikoordinasikan secara sadar, dengan sebuah batasan yang relatif dapat diindentifikasi, yang bekerja atas dasar yang relatif terus menerus untuk mencapai tujuan bersama atau sekelompok tujuan”.
Dengan demikian organisasi adalah struktur atau kesatuan sosial dimana orang-orang didalamnya diatur, digerakkan dan dikoordinasikan secara formal untuk mencapai tujuan bersama. Supaya organisasi dapat mencapai tujuannya, maka organisasi harus digerakkan oleh pemimpin (leader). Organisasi bukan tujuan tetapi alat untuk mencapai tujuan. Peran kepemimpinan sangat menentukan keberhasilan dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan bersama, tanpa adanya kepemimpinan sangat berat kiranya tujuan yang telah ditetapkan dapat dicapai. 

Bagaimana seorang pemimpin efektif mengembangkan SDM organisasinya?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut kita bisa belajar dari pemimpin perusahaan besar mengembangkan SDMnya. Untuk memahami bagaimana perusahaan-perusahaan besar bisa efektif dalam mengembangkan dan mengelola SDM, dilakukan studi terhadap beberapa perusahaan besar, seperti alibaba.com, Bosera fund management, dan Mary Kay.
Ternyatasemua perusahaan besar dan kuat memiliki filosofi yang kuat juga dalam hal pengelolaan SDM, mereka mengharapkan banyak dari para pekerja dan melakukan investasi besar pula untuk mendukung pekerja menjadi sukses (give a lot, get a lot)
Dari praktik perusahaan-persusahaan besar tersebut, ada kiat-kiat khusus yang bisa kita pelajari sehingga menjadi sukses, yaitu:
  1. Managemen talenta berdasarkan falsafah “mutual investment”
  2. Membangun strategi manajemen talenta berdasarkan nilai yang khas.  
Dalam dimensi apa yang “perusahaan berikan” dan apa yang “perusahaan dapatkan”  filosofi pengeloaan SDM dapat dibagi  menjadi 4 kategori :
  1. Econiomic Exchange (job focused): Perusahaan tidak berharap terlalu banyak dari pekerjanya, demikian juga pekerja tidak berharap dari perusahaannya. Hubungannya hanya sebatas “anda kerjakan tugas anda dan kami akan bayar gaji anda”. Contoh dari hubungan klasik macam ini adalah pekerja kontrak dan sub kontrak
  2. Under Investment, perusahaan mengharapkan pekerja memberikan kontribusi maksimal, namun hanya memberikan imbal balik yang kecil (dalam hal gaji, keamanan kerja, pelatihan, dan lain-lain). Biasanya pada perusahaan-perusahaan dengan laba kecil maupun perusahaan yang mengalami persaingan sengit
  3. Over Estimate. Perusahaan relatif tidak menuntut terlalu besar dari pekerja, namun memberikan fasilitas yang lebih dari memadai untuk para pekerja seperti gaji, keamanan kerja, dan lain-lain. Namun saat ini sedikit sekali perusahaan yang memiliki filosofi seperti ini.
  4. Mutual Investment (organization focused) Perusahaan mengharapkan pekerja memberikan kontribusi yang besar, sebagai asset penting bagi pertumbuhan perusahaan. Pekerja diharapkan mampu bekerja lebih baik dan lebih cepat dari waktu ke waktu untuk memenuhi target. Di lain pihak, perusahaan juga memberikan imbal balik maksimal, bukan hanya dari segi pendapatan namun juga sosial dan psikologi pekerja, seperti pengembangan karir, pelatihan-pelatihan dan lingkungan kerja yang nyaman.
Perusahaan-perusahaan besar seperti Portman ritz-Carlton, Mary-Kay, Alibaba dan Bosera memiliki filosofi yang berfokus pada organisasi dan SDM, seperti pada poin nomor empat. Filosofi yang keempat ini tentunya tidak hanya cocok untuk perusahaan-perusahaan privat, tapi bagi organisasi publik seperti organisasi pemerintah tentunya bisa dilaksanakan. Sumber daya manusia merupakan elemen utama organisasi dibandingkan dengan elemen lain seperti modal, teknologi, dan uang, sebab manusia itu sendiri yang mengendalikan yang lain. Sumber`daya`manusia akan bertumbuh dan berkembangan dalam organisasi. 


Contoh :

Ir. H. Aburizal Bakrie atau yang biasa dipanggil  Ical mencuat ke pentas nasional berawal dari dunia bisnis. Dia adalah putra sulung pengusaha H Achmad Bakrie, kelahiran Jakarta 15 November 1946.
Kini, Ical memimpin Bakrie Grup, sebuah kelompok bisnis yang dirintis mendiang ayahnya. Grup bisnis yang dirintis ayahnya bermula dari perdagangan rempah-rempah dan hasil perkebunan, khususnya dari Provinsi Lampung. Ical pernah disebut-sebut sebagai orang terkaya se-Asia Tenggara. Dia pengusaha yang terbilang paling gemilang pada sepuluh tahun reformasi di Indonesia. Selain bisa keluar dari krisis ekonomi yang mengancam perusahaannya, Bakrie Grup, justru bisa menduduki posisi penting di pemerintahan.
Hanya dalam tempo setahun, kekayaan keluarga Aburizal Bakrie melejit hampir lima kali lipat dari angka tahun lalu menjadi US$ 5,4 miliar atau sekitar Rp 50,2 triliun! Berkat prestasi ini, Aburizal langsung menggusur lima taipan papan atas sekaligus. Bos Grup Raja Garuda Mas, Sukanto Tanoto, yang tahun lalu dinobatkan sebagai orang terkaya, kini turun satu peringkat ke urutan runner-up.
Grup Bakrie memang sedang mujur. Menurut seorang bankir investasi, kelompok usaha ini diuntungkan dua berkah sekaligus:
Grup Bakrie banyak mendirikan perusahan hingga Universitas yang dinamai oleh namanya yaitu universitas Bakrie. H.aburizal Bakrie adalah salah satu contoh pemimpin yang mampu membuat organisasinya utuh dan berkualitas dan hingga Group Bakrie saat ini juga membuat SDM di Indonesia bisa lebih berkualitas.










Daftar Pustaka :

http://www.bppk.kemenkeu.go.id/publikasi/artikel/168-artikel-pengembangan-sdm/21071-pentingnya-peran-pemimpin-efektif-dalam-pencapaian-tujuan-organisasi