“SARAHHHH!!!!! Lo harus tau kalo tadi pagi Janson
bilang hey ke gue HAHAHA, Yaampun gue mau mati saking gak tahan lihat senyumannya itu loh Sar, aduh tolongggg!!!” Yap...begitulah
kelakuan Valerie. Cewek cantik yang berbadan jenjang dan dikarunia wajah yang
manis dengan hebohnya mendatangi gue dan
Stella di kantin. “Woy!! Kalo ngomong tuh nafas dulu dong Val! Emang bibir lo
tuh gak capek apa buat ngomongin si Janson mulu yang tiap hari gak ada
perubahan bilang hey ..hi ..hello sama lo? Gue rasa dia bilang hey ke semua
siswi di sekolah ini Val, jadi lo gak usah kepedean dulu kali hahaha” ejek Stella.
“Eh enak aja lo, Janson itu naksir gue ya jelas lah dia bakal say hay ke gue
tiap hari, ah sirik aja kan lo gak ada yang bilang hay ke lo tiap pagi kayak
gue ?” jengkel Valerie kepada Stella. Saking jengkelnya Valerie kepada Stella,
Vall pun meninggalkan kami di kantin dan ia
menuju kelas dengan bibir yang terus mengoceh sepanjang jalan. Begitulah
kelakuan para sahabatku , Valerie dan Stella . Mereka adalah sahabat terbaikku
saat ini, Kita sudah bersahabat sejak awal SMA. Yap sudah 2 tahun kami
bersahabat dan sudah 2 tahun pula kami merasakan suka duka bersama. Semua hal
kita bicarakan bersama, dari guru killer yang tiap hari ngamuk karena kami
tidak mengerjakan tugas – tugasnya, sampai gebetan kita masing masing. Valerie adalah
sahabatku yang paling cerewet dan lemot otaknya, tetapi dia juga yang paling
cantik diantara kami bertiga, bukannya aku merendah tapi memang begitulah
keadaannya. Stella adalah cewek blasteran Australia-Indonesia yang logat
inggrisnya gak bisa hilang kalo ngomong. Dia itu cewek yang paling jail dan
lucu diantara kami bertiga, Stella mempunyai lesung pipi yang setiap cewek
melihatnya akan iri terhadapnya…bisa dibayangkan cantiknya Stella seperti apa.
Oh iya dari tadi aku sibuk memperkenalkan sahabatku , tetapi aku lupa
memperkenalkan diri ku. Namaku Sarah,
gadis biasa dan asli keturunan Indonesia. Mungkin aku tidak terlalu cantik
dibandingkan dengan dua sahabatku , tetapi menurut mereka akulah yang paling
baik dan penyabar diantara mereka. Menurut teman – temanku, aku mempunyai senyum yang indah dan mata yang
sangat coklat. Walaupun sedikit senyum –senyum karena penilaian mereka
setidaknya ada sedikit yang bisa aku banggakan dari diriku. Pagi ini sudah
dihiasi dengan sedikit kekacauan , Vall yang ngambek dan kembali ke kelas
akhirnya benar – benar marah kepada Stella. Aku tau itu hanya upaya Vall agar
bisa di comblangkan dengan Janson, cowok yang paling eksis di sekolah kami.
Janson adalah cowok yang paling sering di bicarakan tiap cewek di sekolah kami.
Dia adalah pemain basket sekaligus ketua Osis di sekolah kami , tentu saja
semua cewek mau dekat dengannya. Selain itu Janson adalah kakak dari Stella, ya
memang mereka kakak - beradik tetapi usia mereka hanya terpaut beberapa bulan
saja. Upaya Vall yang ngambek terhadap Stella pun bisa di tepis dengan kejailan
stella. Vall memang sedang berusaha mendekati Janson yang dari dulu terkenal
ganteng dan………….masih jomblo sampe sekarang. Tapi aku rasa dia adalah satu –
satunya cowok yang tidak tertarik dengan
kecantikan Valeri. “Kakak lo tuh normal kan Stell? Gue curiga dia itu….” “Enak
aja lo kalo ngomong Vall! Janson tuh seratus persen normal dan dia single sampe
sekarang itu ada maksutnya tau!.” Timpal Stella dengan kesal. “Tiga tahun yang
lalu Janson pernah punya pacar, namanya Calista. Pacaranya itu baik banget
terus lembut dan Janson sayang banget sama dia, sampe-sampe mereka janji mau
nikah kalau sudah dewasa nanti. Delapan bulan mereka pacaran, Janson mulai
ngerasa kalau Calista itu mulai menjauh dari dia. Akhirnya Janson cari tau
kenapa Calista malah menjauh dari dia..Ternyata dia bukan menjauh, tetapi selama ini Calista mengidap penyakit yang mengerikan
yaitu kanker stadium III. Saat empat bulan mereka menjalain hubungan, Calista
sudah mengira akan berakhir seperti ini tetapi dia tidak tega memberi tau
Janson mengapa ia menjauhinya. Setelah meninggalnya Calista, Janson jadi dingin
sama cewek, dan dia gak pernah deket sama cewek mana pun, dia gak mau masa
lalunya menghantui lagi, jadi dia memutuskan untuk fokus belajar dan
meningkatkan prestasi non-akademiknya. Makanya Vall lo jangan asal ngomong,
Janson tuh bukan …….” “Iya –iya Stell
gue minta maaf bangeeeetttttt!!! Gue gak tau kalo Janson punya trauma
percintaan yang parah gitu. Ah andai dulu dia ketemu gue duluan, pasti sampe
sekarang kita udah bahagia banget ya Stell.” hahaha typical Vall, selalu lemot
terhadap semua pembicaraan serius, tapi begitulah sahabatku, aku tak
menyalahkan mereka yang begitu naïf dan juga kadang menjengkelkan tapi aku
tidak menyalahkan diriku membiarkan mereka menjadi sahabatku, ya itulah
kami…apa adanya.
“Stell , Vall gue kayaknya langsung pulang aja deh
soalnya jam 2 gue ada les nih, gapapa
kan kalo gue tinggal duluan? Gue udah kena omel bokap gue nih karena gue
kan udah bolos 3 kali dalam seminggu, ya lo taulah bokap gue gimana.. gue
pulang duluan yah?” pinta ku kepada kedua sahabatku sambil memelas karena
Stella ngotot minta aku untuk menemaninya membeli kado untuk pacar barunya. “Yah
elah ngapain sih les, biasa cabut juga…eh tapi kalo gue ngebayangin muka bokap
lu sih gue jadi pikir –pikir lagi buat nemenin Stella beli kado, yaudah deh lo
pulang aja, tapi hati – hati ya Sar.” Ucap Valerie dengan nada dan tampang
polosnya. Jam menunjukan pukul 13.30 dan sepertinya aku tidak sempat untuk
pulang, jadi aku memutuskan untuk langsung menuju tempat les ku yang tidak
terlalu jauh dari sekolah. Aku heran, sepertinya aku adalah siswi yang paling
rajin di tempat les ini karna aku tidak melihat satupun murid yang datang,
akhirnya aku memutuskan untuk duduk di tengah dan memainkan iPhone ku, ya
walaupun aku tahu aku hanya mengeser layar iPhone ku ini. Pekerjaan yang tidak
peting. Setelah bel berbunyi menandakan dimulainya pelajaran akhirnya sedikit
demi sedikit teman -temanku datang. Aku
heran kenapa semakin hari semakin sesak kelas ini, atau memang jumlah murid di
kelas ini bertambah, sudahlah aku pun tidak terlalu peduli dengan hal seperti
itu. Aku memasang head-set ku di telinga dengan suara yg cukup keras. Musik
yang membantuku melupakan hari yang penat ini. Tiba tiba seseorang mencolekku .
“Gue duduk sini ya Sar, abis gue cuma kenal lo doang, boleh kan? Gue serem aja
semua cewek disini ngeliat kearah gue, itu buat gue risih.” Aku terdiam.
Jantung ku hampir berhenti karna Janson memanggilku dan ia ingin duduk di
sebelahku. Aku tahu hampir 60 persen dari kelas ini adalah siswi perempuan,
makanya Janson takut dan risih karna mereka pasti juga tergila – gila dengan
pesona Janson. “Oh …………….oke duduk aja, lagian ini juga kosong kok …” Kataku
dengan suara gemetar. “Gue dipaksa Bokap gue buat les disini, kalo gak karna delapan
bulan lagi kita menghadapi Ujian Nasioanal gue juga gak mau deh les, mending
dirumah main PS atau latihan basket. Ini lagi si Stella gue ajak les malah
pergi ke mall dan milih tempat les yang beda dari gue, gaya banget sih dia!”
guman Janson yang terlihat kesal. Sepertinya ini adalah hari buruk
untuknya………tetapi hari baik untuk ku karena sepertinya dugaan ku salah mengenai
Janson yang dingin. Sejak hari itu Janson selalu duduk disampingku saat sedang
les. Aku tidak tau kenapa ia tidak mau pindah posisi dari bangku itu atau hanya
aku yang berlebihan menganggap ia sengaja duduk disebelahku. Entahlah aku pun
bingung dengan hal ini.
Jam dinding menunjukan pukul 22.30 dan aku seperti
biasa terjaga di larut malam ini, tiba –tiba iPhone ku berbunyi dan menandakan
adanya pesan singkat dari seseorang. Aku mengabaikan hal tersebut karena ku
pikir itu hanya pesan singkat dari operator malam yang menjanjikan hadiah atau
ringtone yang tidak jelas maksudnya. Nada pesan masuk pun berdering lagi,
akhirnya ku buka pesan singkat yang dari tadi masuk. ”Sar, maaf ganggu
malem-malem… lo udah tidur ya? –Janson.” Betapa terkejutnya aku ketika membaca
pesan itu. Tak ku sangka itu adalah pesan singkat dari Janson. Mengapa ia
mengirimkan dan bertanya seperti itu? Dari mana Janson tau nomer handphone ku?
Semua pertanyaan itu muncul di kepala ku dan aku tetap terkejut ternyata pesan
singkat itu dari Janson. “Gue belum tidur kok, ada apa?” balasku kepadanya
dengan mata yang tak berpaling dari layar hp ku menunggu sebuah balasan. “Oh
gue Cuma iseng aja soalnya gak bisa tidur nih, yaudah gue sms lo deh, gue gak
ganggu gak Sar? hehe oh iya lo lagi apa Sar?”…. Balasan pesan itu. Aku terheran
mengapa Janson begitu asik diajak ngobrol walaupun dia agak sedikit pemalu dan
dingin tetapi aku tak manyangka ia adalah cowok yang paling asik dan bijaksana.
Sejak saat itu kami semakin dekat. Awalnya aku mengira ini adalah sebuah
persahabatan yang baik dengannya, tetapi aku mulai sedikit memiliki perasaan
yang lebih untuknya. Cara bicaranya, tatapan matanya, cara ia tersenyum padaku,
cara ia membalas pesan singkat ku, semua cara yang ia lakukan membuatku semakin
terpesona olehnya. Aku menyadari hal tersebut. Jantungku berdekup kencang saat
Janson tersenyum padaku. Aku menyukai nya. Ya sepertinya aku berharap ia
memiliki perasaan yang sama denganku.
“Semalem gue chat Janson aja di whatsapp abisnya gue
penasaran sama dia. Eh ternyata di bales juga. Aduh Stell kakak lo tuh perfect
banget ya! Udah ganteng, baik, bijaksana pula. Ah makin suka gue sama dia” ucap
Valerie kepada Stella dengan nada suara yang cukup keras. “what lo ngedeketin
kakak gue lagi? Gila pantang menyerah banget hahaha oke oke lanjutkan Vall!”
aku yang mendengar respon Stella kepada Valerie pun sedikit kecewa. Aku tak seharusnya kecewa. Siapa aku untuk Janson. Dia
hanya sahabat rahasiaku. Hanya aku dan dirinya yang tau soal kedekatan kami..sebagai sahabat.
Satu bulan berlalu banyak rumor mengatakan Janson dan Valerie sudah berpacaran.
Selama satu bulan Janson tidak pernah mengirimkan ku pesan singkat seperti
dulu. Tidak ada cerita lucu darinya atau kabar darinya. Ia pun juga jarang
masuk les. Aku kehilangannya. Sahabat rahasiaku. Aku memutuskan untuk
mengirimkan pesan singkat untuknya, hanya untuk sekedar basa-basi agar tau
mengapa ia tidak pernah memberiku kabar lagi. “Janson lo kemana aja kok gak
pernah les?”. Aku mengirimkan pesan itu kepadanya, tetapi tak kunjung ada
balasan darinya. Sepertinya ia benar – benar menjauhiku tanpa tau apa salahku. “Hey
Sar, maaf gue baru bales soalnya tadi gak bawa hp, oh iya Sar gue kangen banget
nih cerita sama lo. Gue mau cerita sesuatu nih Sar sama lo, mau ngasih tau
sesuatu yang paling rahasia. Gue tunggu di café biasa ya.” Lagi –lagi pesan
singkat yang memberikan harapan. Apa maksud dari ingin memberi tahu rahasia
penting kepadaku? Atau Janson ingin menembakku dengan mengatakan ia menghilang
karna ia mencintai ku? Ah itu hanya pikiran aneh ku saja. Aku yang buru – buru
ke café tempat biasa kami bertemu pun tak sabar ingin mendengar rahasia
terpenting Janson. Aku penasaran apa yang ingin ia beri tahu kepadaku. “Hey Sar
duduk sini. Nih udah gue pesenin greentea late kesukaan lo hehe. Oh iya
Sar gimana kabar lo? Maaf gue gak pernah
sms lagi, abis gue sibuk akhir –akhir ini”. Aku tersenyum padanya. Aku bingung
mengapa ia terlalu bersemangat ingin menceritakan rahasia terpenting di hidupnya.
“Janson…sebenarnya ada apa sih kok lo kayaknya seneng banget hari ini? Emang
ada apa sih?.” Tanyaku dengan penuh kebingungan dan rasa heran. “Oh iya haha
gue lupa. Jadi selama sebulan ini gue itu sibuk sama sesuatu Sar. Sebulan yang
lalu gue deket sama sesorang gitu…..” “Apa? Lo deket sama cewek? kok gak cerita
ke gue? wah siapa?”. Jantungku berdetak kencang. Ini pasti mimpi. Janson sedang
dekat dengan seorang cewek . Hatiku sakit mendengar itu. “Iya Sar, jadi sebulan
yang lalu gue deket sama Valerie. Ituloh sahabat lo yang cantik itu. Awalnya
dia chat gue, trus gue ngerasa nyaman sama dia, setelah beberapa minggu ngobrol
lewat chat akhirnya gue ajak dia nonton. Trus gue dapet feel gitu sama dia. Gue
nyaman sama dia.” Aku terdiam. Sakit rasanya mendengar rahasia terbesar Janson.
Hatiku hancur. “gue ngerasa nyaman sama dia dan kayaknya…” “Janson!!!” teriaku.
“Udah gak usah dilanjutin.” Air mataku jatuh dan wajahku memerah . “ Sar lo
kenapa? Kok malah nangis sih? Gue salah ya?”. “Gak ada yang salah kok , yang
salah gue. Harusnya gue gak berharap lebih.” “maksud lo berharap lebih apa Sar?
gue gak ngerti.” “Selama ini gue kira kita itu spesial. Senyuman lo, tatapan
mata lo, dan cara lo ke gue itu …yang buat gue berharap. Tapi gue salah… lo
Cuma anggap gue sahabat lo doang kan ?” tangisan ku pun menjadi. “lo pergi gak
ada kabar trus balik dengan ngasih tau ini semua? Gue suka sama lo, apa semua
perlakuan gue gak membuat lo sadar?.” Aku menangis dan wajah ku memerah.
“Sar………udah beberapa bulan ini kita emang deket, tapi gue menganggap itu hanya
sebuah persahabatan. Gue anggap lo sebagai adik gue sendiri. Gue sayang sama lo
sebagai sahabat. Kata kata itu..aku terdiam membisu. Aku tak tau harus berbuat
apa. Janson mulai memeluku dan menenangkan ku. Aku tak tahu sekarang harus
bagaimana. Tangisanku makin menjadi . “Maafin gue Sar gue emang bodoh, gue gak
peka apa yang lo rasain ke gue, tapi gue minta maaf kalo…” “Janson”. Aku
memotong ucapannya. “Gue emang sayang sama lo tapi bukan berarti lo harus
mencintai gue juga. Gue emang salah. Gue terlalu terbawa perasaan. Tapi gue
seneng akhirnya orang yang gue sayang juga sayang sama sahabat gue. Gue janji
gak akan sedih atau galau karna lo lebih milih Vall. Kalian berdua adalah
sahabat terbaik gue. Jangan pernah berfikiran untuk tinggalin gue disini ya,
dan lo gak boleh nyakitin Vall tau bikin dia nangis kayak lo lakuin ini ke gue
hehe.” Ucapku kepadanya sambil tersenyum.
Setelah kejadian itu,
aku memutuskan untuk membuang perasaan kagum dan sayangku kepadanya. Aku
memutuskan untuk menjadi sahabatnya. Yap sahabat yang sesungguhnya. Aku tau
semua ini memberikanku nilai kehidupan. Mungkin ia bukan yang terbaik untuk ku
sekarang. Aku pantas mendapatkan yang lebih baik darinya. Janson, Valerie,
Stella mereka akan tetap menjadi sahabatku dan akan selalu menjadi saudaraku.
Dan janson sudah ku anggap seperti kakak bagiku dan bagian dari masa lalu ku.