Tuesday, July 18, 2017

Psikiterapi Psikoanalisi (Asosiasi Bebas)

Psikoanalisis adalah sebuah model perkembangan kepribadian, filsafat tentang sifat manusia dan metode psikoterapi. Psikoanalisis berasal dari uraian tokoh psikoanalisa yaitu Sigmund Freud yang mengatakan bahwa gejala neurotic pada seseorang timbul karena tertahannya ketegangan emosi yang ada, ketegangan yang ada kaitannya dengan ingatan yang ditekan, ingatan mengenai hal-hal yang traumatic dari pengalaman seksual pada masa kecil. Selain itu, Freud juga mengatakan bahwa perilaku manusia ditentukan oleh kekuatan irasional yang tidak disadari dari dorongan biologis dan dorongan naluri psikoseksual tertentu pada masa lima tahun pertama dalam kehidupannya.
Konsep-konsep utama terapi psikoanalisis ;
  1. Struktur kepribadian  
  • Id (tidak memiliki kontak yang nyata dengan dunia nyata, id berfungsi untuk memperoleh kepuasan sehingga disebut sebagai prinsip kesenangan)
  • Ego (disebut juga sebagai prinsip kenyataan. Ego berhubungan langsung dengan duni nyata, ego juga memiliki peran untuk mengambil keputusan dalam kepribadian. Ego menjadi penengah/penyeimbang antara id dan superego)
super ego (disebut sebagai prinsip ideal. Kepribadian yang terlalu didominasi oleh super ego akan merasa selalu bersalah, rasa inferiornya yang besar) 

2. Kesadaran maupun ketidaksadaran. 

Konsep ketidaksadaran
  • mimpi yang merupakan pantulan dari kebutuhan, kenginan dan konflik yang terjadi dalam diri
  • salah ucap / lupa
  • sugesti pasca hipnotik
  • materi yang berasal dari teknik asosiasi bebas
  • materi yang berasal dari teknik proyektif
3. Kecemasan 
Adalah suatu keadaan tegang atau takut yang mendalam akan peristiwa yang akan terjadi/belum terjadi. Kecemasan juga timbul akibat konflik dari id, ego, dan superego. Kecemasan terdiri dari 3 jenis yaitu kecemasan neurosis yaitu cemas akibat bahaya yang belum diketahui, kecemasan moral yaitu cemas akibat konflik antara kebutuhan nyata/realistis dan perintah superego, dan yang ketiga adalah kecemasan realistis yaitu kecemasan yang terkait dengan rasa takut misalnya kecemasan akan bahaya.

Tujuan terapi :
Mengungkapkan konflik-konflik yang dianggap mendasari munculnya ketakutan yang ekstrem dan reaksi menghindar yang menjadi karakteristik gangguan ini.
Membentuk kembali struktur karakter individu dengan membuat pasien sadar akan hal yang selama ini tidak disadarinya. Focus pada upaya mengalami kembali pengalaman masa anak-anak.

Peran terapis :
Membantu pasien dalam mencapai kesadaran diri, kejujuran, keefektifan dalam melakukan hubungan personal dalam menangani kecemasan secara realistis.
Membangun hubungan kerja dengan pasien, dengan banyak mendengar & menafsirkan
Terapis memberikan perhatian khusus pada penolakan-penolakan pasien
Mendengarkan kesenjangan & pertentangan pada cerita pasien

Salah satu contoh dari terapi psikoanalisis adalah asosiasi bebas.
Asosiasi Bebas merupakan teknik utama dalam psikoanalisis. Terapis meminta klien agar membersihkan pikirannya dari pikiran-pikiran dan renungan-renungan sehari-hari, serta sedapat mungkin mengatakan apa saja yang muncul dan melintas dalam pikiran. Cara yang khas adalah dengan mempersilakan klien berbaring di atas balai-balai, sementara terapis duduk dibelakangnya sehingga tidak mengalihkan perhatian klien pada saat-saat asosiasinya mengalir dengan bebas. Asosiasi bebas merupakan suatu metode pemanggilan kembali pengalaman-pengalaman masa lampau dan pelepasan emosi-emosi yang berkaitan dengan situasi traumatis masa lalu, yang kemudian dikenal dengan katarsis. Kartarsis hanya menghasilkan perbedaan sementara atas pengalaman-pengalaman menyakitkan pada klien, tetapi tidak memainkan peran utama dalam proses treatment

Berikut contoh video tentang terapi psikoanalisis asosiasi bebas :

Analisis Video

Pertama kali saat client masuk, konselor meminta client untuk duduk. Lalu konselor melakukan rapport seperti menanyakan bagaimana perjalanan client dan bagaimana kabar client. Lalu secara perlahan lahan client menjelaskan kabar client dan masalah yang client hadapi. Konselor menawarkan untuk adanya terapi asosiasi bebas kepada client yaitu client diminta untuk berbaring dengan relaks kemudian client dapat mengutarakan apa yang client rasakan dan pikirkan benar atau salah, baik atau buruk client bisa mengatakan semuanya tetapi konselor tetap meghargai apa yang konselee ingin atau tidak ingin lakukan. Teknik ini nanti akan dilakukan jika client bersedia menggunakan teknik ini. Setelah itu client bersedia melakukan teknik asosiasi bebas. Kemudian client dipersilahkan untuk berbaring se-relaks mungkin dan konselor meminta client untuk mengatur nafas agar relaks dan memberitahu jikaclient dapat mengatakan apa yang ingin client sampaikan dan ceritakan.



Client menceritakan masalahnya yaitu masalah tentang rumah tangga client. Client bercerita jika suami client jarang pulang ke rumah dan sering memukuli client. Client berusaha menutupi masalah yg client hadapi kepada anak dan keluarga besar tetapi kelakuan suami client malah makin menjadi. Client kecewa dengan kelakuan suami client. Ternyata client dulu dijodohkan oleh suami client. Awal pernikahan, sikap suami client  sangat manis dan baik tetapi ketika mempunyai anak sikap suami client berubah. Suami client sering keluar malam dan bertengkar dengan diri client. Client sudah tidak tahan dengan sikap suami client dan merasa di dustai oleh suami client.  Client merasa ingin membunuh sang suami karena merasa di dustai. Balasan atau timbal balik yang client dapatkan dari sang  suami tidak ada padahal client sudah berusaha memenuhi dan melayani suami client.  



Setelah client selesai bercerita, konselor bertanya apakah ada yang ingin client ungkapkan lagi. Lalu setelah selesai bercerita konselor meminta client untuk duduk di tempat semula dan konselor mulai memberikan konseling.



Konselor mencatat poin penting : yaitu pertama client benci dengan orang tua client karenakan dijodohkan oleh suami client Konselor bertanya bagaimana client bisa membenci tetapi mengapa client tdk bisa menolak perjodohan tersebut?. Lalu client bercerita awal bertemu dengan suami client . Suami client  sebelum menikah sikapnya sangat manis dan baik, dan orang tuanya sangat senang dengan lelaki tersebut dan client ingin membahagiakan orang tua client.  Lalu konselor memberitahu jika client sendiri yg ingin membahagiakan orangtua client jadi tidak perlu ada kebencian terhadap org tua client. Poin kedua yaitu "client ingin membunuh dan mencekik client, maksudnya membunuh seperti apa?"Lalu client bercerita jika ia masih mencintai sang suami dan tidak mungkin membunuh raga dari suami client. Client hanya ingin membunuh karakter dan sifat yang buruk terhadap client.



Lalu setelah konseling selesai, client berterimakasih kepada konselor karena sudah mau mendengarkan cerita dan keluh kesah masalah client dan terapi dengan asosiasi bebas telah selesai. 



eist, J., & Feist, G. J. (2009). Theories of Personality (7th ed.). New York: McGraw-Hill.
Gunarsa, S.D. (1996). Konseling dan Psikoterapi. Jakarta : Gunung Mulia
http://indryawati.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/21332/TERAPI+PSIKOANALISIS.doc