Thursday, November 20, 2014

SINOPSIS NOVEL ANGKATAN ‘66

Judul: “ZIARAH”
Pengarang: Iwan Simatupang
Angkatan: 1966
Penerbit: Djambatan
Tebal: 148 Halaman

SINOPSIS
Di sebuah negeri yang bernama Kotapraja, terdapat seorang pelukis terkenal di seluruh negeri yang dibuat terkapar tidak berdaya alias shock dan trauma setelah ditinggal mati istrinya yang sangat dia cintai, istri yang dia kawini dalam perkawinan secara tiba-tiba. Suatu ketika Pelukis mencoba bunuh diri karena ketenaran karya lukisnya yang memikat semua orang dijagat bumi ini yang mengakibatkan ia memiliki banyak uang dan membuat dia bingung. Karena kebingungannya ini sang pelukis berniat bunuh diri dari lantai hotel dan ketika terjun dia menimpa seorang gadis cantik. Dan tanpa diduga pula sang pelukis langsung mengadakan hubungan jasmani dengan si gadis di atas jalan raya. Hal ini membuat orang-orang histeris dan akhirnya seorang brigadir polisi membawa mereka ke kantor catatan sipil dan mengawinkan mereka.

Pelukis merasa benar-benar kehilangan terutama saat dia tahu bahwa istrinya mati, pelukis pun langsung pergi ke kantor sipil guna mengurusi penguburan istrinya tetapi tak ada tanggapan positif dari pengusaha penguburan. Itu terjadi karena pelukis tak tahu apa-apa tentang istrinya. Yang dia tahu hanyalah kecintaannya pada istrinya. Sehingga mayat istrinya terkatung-katung karena tak memiliki surat penguburan yang sah. Pelukis pun menghilang ketika dicari walikota (diangkat menjadi walikota setelah walikota pertama gantung diri karena tak bisa memecahkan masalah mengundang pelukis saat akan ada kunjungan tamu asing) yang ikut menghadiri penguburan Istri pelukis.

Sampai akhirnya pengusaha penguburan itu menyesali perbuatannya dan dengan keputusan walikota akhirnya mayat istri pelukis dikuburkan. Sampai penguburan usai, sang pelukis tak kelihatan. Saat kembali ke gubuknya, dia melihat wanita tua kecil yang ternyata adalah ibu kandung dari istrinya. Bercerita panjang tentang masa lalunya yang suram dan sampai saat terakhir dia bertatapan dengan anaknya yang justru membuat dilema bagi si anak. Dan sesaat kemudian pelukis memandangi keadaan sekitar yang penuh karangan bunga, membuang bunga-bunga tersebut ke laut kemudian membakar gubuknya sampai habis. Beberapa bunga yang masih tersisa ia bawa ke kuburan istrinya. Ia titipkan karangan bunga pada centeng perkuburan. Ziarah tanpa melihat makam istrinya.

Setelah itu hidup pelukis semakin tak tentu arah. Ia seolah tak pernah percaya bahwa istrinya telah mati. Pagi harinya hanya digunakan untuk menunggu istrinya di tikungan entah tikungan mana dan malam harinya di tuangkan arak ke perutnya, memanggil Tuhannya, meneriakkan nama istrinya, menangis dan kemudian tertawa keras-keras. Hingga akhirnya datang opseter perkuburan yang meminta dia mengapur tembok perkuburan Kotapraja yang sebelumnya telah berbekas pamplet-pamplet polisi bahwa dia dicari.

Pelukis menerima tawaran itu dan esoknya ia mulai bekerja mengapur tembok perkuburan Kotapraja itu 5 jam berturut-turut tiap harinya, sedangkan opseter perkuburan mengintip dari rumah dinasnya. Pekerjaan baru Pelukis ini membawa perubahan tingkah laku pelukis sehingga membuat seluruh negeri geger. Hingga Walikota akan memberhentikan opseter perkuburan. Tetapi ketika mengantar surat pemberhentian kerja itu, Walikota malah mati sendiri karena kata-kata opseter tentang proporsi. Sebelumnya juga pernah terjadi kekacauan di negeri karena opseter pekuburan memakai rasionalisme dalam kerjanya dan hanya memberi instruksi kerja pada selembar kertas pada pegawainya.

Setelah beberapa hari pelukis mengapur tembok perkuburan, pada suatu hari dia bergegas pulang sebelum 5 jam berturut-turut. Opseter perkuburan heran kemudian mendatanginya dan ternyata pelukis ingin berhenti bekerja. Opseter kebingungan tetapi pelukis menjelaskan bahwa dia tahu maksud opseter memperkerjakannya. Bahwa selain untuk kepentingan opseter sendiri, opseter ingin pelukis menziarahi istrinya yang sudah tiada itu. Keesokan harinya opseter ditemukan gantung diri. Pekuburan geger, tetapi hanya sedikit sekali empati dari pegawai-pegawai pekuburan. Penguburan opseter berlangsung cepat. Setelah penguburan, pelukis bertemu maha guru dari opseter yang kemudian menceritakan riwayat opseter.

Pada akhirnya pelukis pergi ke balai kota untuk melamar menjadi opseter pekuburan agar ia dapat terus-menerus berziarah pada mayat-mayat manusia terutama pada mayat istrinya.
UNSUR INTERINSIK
Tema: trauma seorang suami yang berprofesi sebagai pelukis saat istrinya meninggal
Latar belakang: kota, kantor walikota, gubuk, tepi laut, studio lukis, perkuburan
Waktu: pagi hingga malam
Alur: maju mundur dalam artian flashback
Gaya bahasa: konotasi dan majas-majas personifikasi, agak sulit dipahami oleh orang awam karena mengajak pembaca untuk sedikit berpikir karena banyak sentuhan filsafat
Amanat: bahwa kematian tidak perlu ditakuti, sebab kematian adalah abadi. Pastilah itu yang terbaik.
Sediakanlah tempat yang layak untuk orang-orang yang sudah mati agar ada tempat untuk dikunjungi dan dikenang, karena sebagai manusia puncak tertinggi dari kehidupan adalah kematian.


RESENSI
Kekurangan: Alur dalam novel ini memang sedikit membingungkan pembaca, pengarang sengaja menggunakan alur “Flash Back”. Pembaca diajak untuk mengernyitkan dahi karena cerita di awal novel bukanlah awal cerita, melainkan awal cerita baru diceritakan di bagian berikut dalam novel. Alias pembaca diajak ke waktu sebelumnya oleh pengarang dengan sentuhan filsafat

Ini jelas terlihat di awal novel saat disebutkan sang pelukis begitu kehilangan setelah ditinggal mati istrinya, tetapi di bagian belakang malah pembaca diajak untuk mengikuti kisah pertemuan pelukis dengan istri, kehidupan mereka yang mengundang banyak pesona, dan saat-saat terakhir istrinya mati. Bukan hanya pelukis dan istri saja, tetapi pengarang juga mengajak pembaca untuk mengikuti kisah balik kehidupan opseter sebelum menjadi opseter.

Kelebihan: merupakan tipe novel sastra karena pengarang banyak menggunakan ungkapan-ungkapan ataupun konotasi,dan majas-majas terutama majas personifikasi serta terdapat juga istilah-istilah berbau filsafat yang diolah menjadi kesatuan kalimat yang benar-benar membawa pembaca ke arah pemikiran-pemikiran logis dan membenamkan pembaca dalam novel yang memiliki keindahan ilmu filsafat dari pengarang sendiri.

Bahasa dalam novel ini sangat penuh dengan ungkapan-ungkapan dan majas-majas sehingga menimbulkan keindahan bahasa

Tak Butuh Alasan


“Lala, aku sayang banget sama kamu, kita  udah deket sekitar 3 tahun lamanya. Aku ngerasa hari- hari aku indah banget sama kamu. Makasih udah bisa ngerubah aku jadi cowok yang lebih baik lagi. La aku sekarang ingin bertanya kepada kamu, mau gak kalau kamu jadi pacar aku?” . Kata-kata itu yang membuat seakan detak jantung ini berhenti. Aku tidak pernah menyangka Adam akan mengungkapkan perasaannya. Adam cowok yang aku taksir sejak SMA. Dia adalah sahabat dan juga kakak bagiku. Aku tidak pernah tahu jika Adam mempunyai perasaan yang sama terhadap ku. “kamu serius?” tanyaku. Adam mengeluarkan buklet bunga mawar merah dari balik punggungnya. “Iya aku serius La, aku sayang sama kamu dan aku harap kamu bisa terima aku dan mempunyai perasaan yang sama”. Aku terdiam dan membisu. Jari tanganku kaku dan seluruh badanku terasa bergetar. Apakah aku hanya mimpi?. “Aku mau kok nemenin kamu terus sampai kapanpun, aku juga sayang sama kamu”jawab ku. Hari itu adalah hari yang tak akan aku lupakan sampai kapanpun. Hari dimana Adam menyatakan cintanya. Adam adalah pacar pertama ku, begitu pula sebaliknya. Kami saling mengasihi dan mencintai.

Dua tahun berlalu dan Adam masih menjadi pendampingku. Banyak kisah yang terjadi saat dua tahun lamanya. Pertengkaran membumbui hubungan kami. Aku tahu apabila aku terlalu egois dan ke kanak - kanakan. Dia selalu sabar dalam menghadapi aku. Suatu hari Adam mengajak ku ke sebuah taman yang indah dan di kelilingi oleh bunga mawar. Ternyata ia sengaja membuat taman rahasia untuk ku. Ia tahu apabila bunga mawar adalah kesukaan ku. Ia memetikan satu tangkai bunga mawar merah dan di berikan kepadaku. “Ini untukmu sayang”. Aku hanya terdiam membisu sambil menatapnya. “Kamu kenapa?” tanya Adam dengan rasa khawatir. “Adam, kenapa kau menyukaiku? Kenapa kau mencintaiku?” tanya ku sambil menatap matanya. “Aku juga tidak tahu alasannya tetapi aku sangat menyukaimu, mencintai kamu, sayang”. “Kamu jahat!. Kamu bahkan tidak bisa menyebutkan satu alasanpun mengapa kamu mencintai aku. Kalau suatu saat nanti ada yang lebih cantik dari aku pasti kamu akan meninggalkan aku. Bagaimana kau bisa bilang kau mencintai aku jika kau tak tahu alasannya?” tanyaku yang mulai menangis. “Lala, aku sungguh tak tahu mengapa, tapi bukankah perhatian, kasih sayang dan kehadiraku dihidupmu telah membuktikan ketulusan cintaku?” sambil memegang tanganku. “ Bukti apa? Semua tidak membuktikan apapun. Aku hanya butuh alasan mengapa kamu menyukaiku, mencintaiku?” ku lepaskan tangannya . Aku tersadar air mata ini sudah jatuh dari pipiku. “La, jangan nangis aku gak suka lihat kamu sedih. Baiklah akan aku coba cari alasanya. Emm karena kamu cantik, kamu punya suara yang indah, kulitmu halus, rambutmu lembut.
Cukupkah alasanku?”. Aku pun mengangguk dan menerima dengan senang hati bunga mawar itu. Aku dan Adam memutuskan untuk pulang karena hari sudah semakin sore.

17 November 2015 adalah hari ulang tahun Adam. Aku sengaja pergi ke sebuah mall untuk membeli kue coklat kesukaannya. Saat itu aku terburu-buru ingin memberi sebuah kejutan untuk Adam. Tanpa aku sadari sebuah mobil yang melaju dengan kencang menghantamku. Penglihatanku buram dan seketika aku tak sadarkan diri. Semuanya terasa gelap bagiku. Aku tak tahu apa yang terjadi setelah itu. Cahaya yang menyilaukan seakan membangunkanku. Ternyata aku tersadar dari koma. Sudah 2 hari aku tak sadarkan diri. Aku melihat Ayah dan Ibuku menangis. Aku bingung apa yang terjadi. Aku merasakan nyeri yang teramat sakit d wajah dan kepala ku. Aku ingin berbicara tetapi aku membisu dan bertanya mengapa suara ku hilang?. Aku meraba seluruh tubuhku ternyata banyak luka dan jahitan di seluruh muka ku. Rambutku yang indah harus digunting oleh dokter karena tersangkut oleh kerangka mobil. Aku harus kehilangan suaraku sementara waktu karena pita suaraku rusak akibat benturan keras yang terjadi. Aku terbaring tak berdaya dan hanya bisa menangis. Aku pun tidak ingin bertemu dengan siapapun termasuk Adam.

Hari-hari berat harus aku lalui sendiri. Aku menolak untuk bertemu siapapun. Ibuku masuk kedalam kamarku dan memberikan secarik surat. Aku pun membacanya.

“kekasihku,
Karena suaramu tak semerdu dulu, bagaimana aku bisa mencintaimu?
Dan karena rambutmu kini sudah tak panjang dan lembut lagi, aku tidak bisa membelainya. Aku juga tak bisa mencintaimu.
Apalagi kini banyak jahitan di wajahmu yang dulu mulus.
Jika benar cinta itu butuh alasan, kurasa aku benar- benar tak bisa mencintaimu lagi sekarang.

Tetapi cintaku bukan cinta yang palsu. Cintaku kepadamu tulus. Aku menyukai dirimu yang apa adanya. Aku tidak jatuh cinta karena kau punya suara yang merdu, rambut yang lembut ataupun kulit yang mulus. Aku mencintaimu tanpa alasan apapun. Sampai kapanpun, aku tetap akan mencintaimu. Sekalipun nanti rambut putihmu mulai tumbuh , kulitmu mulai menua dan keriput, aku selalu mencintaimu.
Menikahlah denganku...”

Aku terdiam seakan selama ini sudah bertindak bodoh. Air mata yang terus membasahi pipiku. Aku yang selama ini meragukanmu, Adam. Aku mencoba teriak sebisaku. Aku menulis sebuah pesan kepada ibuku untuk memberi tahu Adam apabila aku ingin bertemu. Aku sekarang yakin dan percaya kepadanya. Aku tidak akan pernah meragukan kekuatan cinta yang tulus.

Cinta tak pernah membutuhkan alasan. Ia juga akan hadir secara misterius. Datang tanpa pernah di duga sebelumnya. Percayalah akan kekuatan cinta, karena kau tidak akan pernah tahu seberapa besar ia akan membuat hidupmu bahagia.