Friday, June 10, 2016

GANGGUAN KEPRIBADIAN; Schizoid Personality Disorder



BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG
Gangguan kepribadian menurut Rusdi Malim (1998) yang merujuk pada PPGDJ-III (Pedoman Penggolongan diagnose Gangguan Jiwa III) adalah paranoid, schizoid, emosional tak stabil tipe implusif dan ambang, historic, anankastik, cemas (menghindar), dependen, khas lainnya yang tidak tergolongkan.
Gangguan Kepribadian adalah istilah umum untuk suatu jenis penyakit mental di mana cara berpikir, memahami situasi, dan berhubungan dengan orang lain tidak berfungsi. Sedangkan gangguan kepribadian menurut Kaplan dan Saddock adalah suatu varian dari sifat karakter tersebut yang diluar rentang yang ditemukan pada sebagian besar orang. Hanya jika sifat kepribadian tidak fleksibel dan maladaptif dan dapat menyebabkan gangguan fungsional yang bermakna atau penderitaan subyektif maka dimasukkan sebagai kelas gangguan kepribadian.
Dalam makalah kelompok kami, kami akan membahas tentang Schizoid Personality Disorder. Gangguan kepribadian skizoid merupakan suatu karakter yang sifatnya menetap dalam diri individu yang menghindari (withdrawal) kontak dari hubungan sosial. Individu dengan gangguan kepribadian skizoid (SPD) digambarkan sebagai individu yang tidak memiliki emosi dalam merespon pelbagai situasi. Kondisi ini seperti ketidakmampuan dalam menikmati pelbagai pengalaman-pengalaman hidup dalam pelbagai situasi yang terjadi.
1.2 RUMUSAN MASALAH
1.      Apa yang dimaksud dengan Schizoid personality disorder?
2.      Bagaimana gejala yang nampak pada seseorang yang mengalami Schizoid personality disorder?
3.      Berikan contoh dari kasus Schizoid personality disorder dan cara penanganannya!

1.3  TUJUAN PENULISAN
Tujuan penulisan makalah avoidant personality disorder adalah untuk :
1.      Mengetahui apa itu Schizoid personality disorder
2.      Mengetahui bagaimana gejala yang dialami seseorang yang mengidap Schizoi personality disorder.
3.      Mengetahui cara penanganan Schizoid personality disorder.

1.4  MANFAAT PENELITIAN
                  Dengan disusunnya makalah ini kelompok kami dapat memahami berbagai macam gangguan kepribadian yang terdapat dalam cabang psikologi. Lebih mengetahui berbagai macam permasalahan mengenai personality disorder . Personality disorder adalah sifat-sifat kepribadian yang merupakan pola-pola yang berkelanjutan dalam hal perceiving (mempersepsi atau menanggapi), berelasi, atau berpikir mengenai lingkungan dan dirinya sendiri sehingga ditampilkan dalam rentang yang luas mengenai konteks-konteks pribadi dan sosial yang penting.
















BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Definisi
                  Dulu istilah gangguan kepribadian (personality disorder) sering disebut sebagai psychopathy, artinya adalah adanya kekuranga atau gangguan dalam jiwa yang tampil dalam perilakunya sehari-hari. Kadang-kadang juga disebut dengan sociopathy, karena yang diperhitungkan adalah perilaku yang menimbulkan atau memberi dampak negatif terhadap masyarakat. Istilah psychopathy digunakan oleh masyarakat di Eropa sedangkan istilah sociopathy digunakan oleh masyarakat di Amerika. Personality disorder adalah gangguan-gangguan dalam perilaku yang memberikan dampak atau dinilai negatif oleh masyarakat. Pemahaman ini bersumber pada masalah perkembangan, yaitu bahwa manusia berkembang dari lahir dalam suatu proses dimana terjadi interaksi antara dirinya dengan lingkungannya. Proses inilah yang menyebabkan kondisi di dalam diri seseorang (inner world) menimbulkan adanya perkembangan kepribadian, termasuk didalamnya tugas-tugas perkembangan dan moralitas dalam berperilaku. Dalam personality disorder, kejadian yang tampil adalah bahwa pada suatu taraf usia tertentu individu berperilaku menurut pola perilaku anak-anak yang lebih muda atau jauh lebih muda dari usianya. Dengan kata lain pada orang tersebut, ia masih berorientasi pada diri sendiri atau kepentingannya sendiri.
                  Salah satu gangguan kepribadian adalah Schizoid. Schizoid menggambarkan adanya relasi sosial yang rusak atau kurang harmonis, misalnya tidak mampu dan mengalami kekurangan dalam keinginan –keinginan untuk membangun kedekatan dengan orang lain. Orang-orang dengan schizoid personality disorder kurang berhasrat untuk membentuk hubungan interpersonal dan secara emosional dingin dalam berinteraksi dengan orang lain. Mereka senang kesunyian dan cenderung menunjukkan sedikit emosi dalam berinteraksi dengan orang lain. Mereka memandang hubungan dengan orang lain sebagai hal yang tidak menyenangkan, kacau, dan mengganggu. Orang lain merasakan mereka sebagai orang yang membosankan, kurang memiliki minat, dan tidak senang bergurau (humoris).

2.2 Gejala dan faktor penyebab
                  Ahli-ahli teori psikoanalisis berpendapat bahwa schizoid personality disorder dibangun melalui hubungan ibu dan anak yang terganggu, dimana anak tidak pernah belajar untuk memberi atau menerima kasih sayang. Anak ini menunjukkan hubungan dan emosi-emosi sebagai hal yang berbahaya dan selanjutnya mereka berdua tetap jauh dari orang lain dan juga dari perasaan-perasaan mereka sendiri. Sedangkan para ahli teori kognitif menggambarkan gaya berpikir dari orang-orang schizoid sebagai orang yang tidak memperbaiki diri dan tidak respondif terhadap tanda-tanda yang mrenunjukkan emosi.
Gejala gejala pengidap gangguan schizoid personality disorder adalah sebagai berikut :
·         Lebih suka berada sendirian atau menyendiri
·         Merasa tidak mampu untuk mengalami kesenangan
·         Merasa bingung tentang bagaimana merespon isyarat sosial yang normal dan umumnya hanya sedikit untuk mengatakan
·         Kurangnya keinginan untuk hubungan seksual
·         Membosankan, acuh tak acuh atau emosional yang dingin
·         Merasa tidak termotivasi dan cenderung malas bekerja
                  Kasus gangguan kepribadian umumnya dimulai pada usia remaja dan saat memasuki usia dewasa. Ada beberapa faktor yang diduga dapat memicu atau meningkatkan risiko terjadinya kondisi ini, di antaranya:
·         Adanya kelainan pada struktur atau komposisi kimia di dalam otak.
·         Adanya riwayat gangguan kepribadian atau penyakit mental lainnya di dalam keluarga.
·         Menghabiskan masa kecil di dalam kehidupan keluarga yang kacau.
·         Perasaan diabaikan sejak kanak-kanak.
·         Mengalami pelecehan sejak kanak-kanak, baik dalam bentuk verbal maupun fisik.
·         Tingkat pendidikan yang rendah.
·         Hidup di tengah-tengah keluarga berekonomi sulit.

2.3 Kelompok  A
Berdasarkan DSM-IV gangguan kepribadian dibagi kedalam 3 kelompok besar yaitu:
1.      Kelompok A
                  Terdiri dari gangguan kepribadian paranoid, skizoid, dan skizopital. Individu pada ketiga gangguan ini menampilkan perilaku yang relatif sama yaitu eksentrik dan aneh
2.      Kelompok B
                  Terdiri dari gangguan kepribadian antisosial,boderline,histrionik, dan narsistik. Individu pada gangguan tersebut manampakkan perilaku yang dramatis atau berlebih-lebihan, emosional dan aneh
3.      Kelompok C
                  Terdiri dari gangguan kepribadian avoidant, dependent, dan obsesif-kompulsif. Individu dengan gangguan kepribadian semacam ini tampak selalu cemas dan ketakutan.
2.4 Kasus dan Analisi Kasus
                  John seorang pensiunan berusia 50 tahun, mencari penanganan selama beberapa minggu setelah anjingnya tertabrak dan mati. John merasa sedih dan lelah. Ia menjadi sulit berkonssentrasi dan sulit tidur. Ia tinggal sendiri dan lebih senang sendirian, membatasi kontak dengan orang lain dan hanya mengatakan “halo” dan “apa kabar?” sambil terus berlalu. Ia merasa percakapan social hanya membuang-buang waktu dan merasa canggung bila ada orang lain yang mencoba membina persahabatan dengannya. Meski ia hobi membaca surat kabar dan tetap mengikuti perkembangan dari peristiwa terkini, ia tidak memiliki minat yang nyata terhadap manusia. Ia bekerja sebagai penjaga keamanan dan digambarkan rekan kerjanya sebagai “penyendiri” dan “ikan yang dingin”. Satu-satunya hubungan yang ia miliki adalah dengan anjingnya, kerena ia merasa dapat berbagi perasaan yang lebih sensitif dan lebih hangat daripada ia berbagi dengan orang lain. Saat natal ia akan bertukar kado dengan anjingnya, membeli hadiah untuk anjingnya dan membungkus sebotol scoth untuk dirinya sendiri sebagai hadiah dari binatang tersebut. Satu-satunya peristiwa yang membuatnya sedih adalah saat ia kehilangan anjingnya. Sebaliknya, kehilangan orang tua nya tidak mampu membangkitkan suatu respon emosional. Ia merasa dirinya berbeda dari orang lain dan bingung dengan adanya emosionalitas yang ia lihat pada orang lain.
Analisi kasus :
                  Dari kasus diatas, dapat di lihat John adalah seorang pria yang menarik diri dari masyarakat sekitar dan lebih memilih hidup sendiri bersama anjingnya. Ketika anjingnya mati ia sangat sedih bahkan kesedihannya melebihi kesedihan ketika orang tuanya meninggal. Dari kasus diatas, kemungkinan ia mempunyai riwayat permasalahan dengan keluarganya. Ia semakin menarik diri ketika anjingnya mati dan merasa ia hanya akan hidup sendiri. Gejala yg jhon alami adalah tanda tanda seseorang yang mengidap penyakit schizoid. Pasien yang mengidap gangguan schizoid personality disorder dapat di obati atau di terapi dengan cara sebagai berikut :
·         Terapi Perilaku Kognitif.
                  Terapi ini bertujuan mengubah cara berpikir dan bertindak pasien ke arah yang positif. Terapi ini didasarkan kepada teori bahwa perilaku seseorang merupakan wujud dari cara berpikirnya. Artinya, jika pikiran orang tersebut negatif, maka perilakunya akan negatif, dan begitu pula sebaliknya.
·         Terapi Kelompok
                  Terapi kelompok merupakan salah satu treatment yang paling cepat dan efektif, meskipun demikian terapi kelompok tetap menemui kesulitan ketika individu ikut dalam partisipasi kelompok tersebut . Oleh karenanya individu diberikan kenyamanan dalam grupnya, terapi juga harus menjaga dari kritikan anggota lainnya. Terciptanya keakraban antar sesame anggota merupakan salah satu harapan dari terapi ini dengan menciptakan hubungan-hubungan sosial yang saling mendukung. Terapi kelompok akan memberi pengalaman-pengalaman sosial yang bermanfaat, saling mengerti sesame anggota, berkomunikasi sampai pada memahami orang lain.



·         Test Psikologi
                  Beberapa test psikologi yang dapat mendiagnosa adanya gangguan kepribadian skizoid;
― Minnesota Multiphasic Personality Inventory (MMPI-2)
― Millon Clinical Multiaxial Inventory (MCMI-II)
― Rorschach Psychodiagnostic Test
― Thematic Apperception Test (TAT)
Psikoterapi yang sering digunakan untuk gangguan kepribadian skizoid adalah cognitive-behavioral therapy (CBT), terapi keluarga dan terapi psikodinamika. Bila individu mempunyai pasangan hidup, terapi pasangan (couples therapy) dapat digunakan untuk membentuk komunikasi antar pasangan.
·         Terapi Individu.
                  Berhasilnya terapi pada individu dengan gangguan SPD membutuhkan waktu yang relatif lama, dibutuhkan kesabaran untuk mengubah persepsi yang salah terhadap cara memandang persahabatan untuk menciptakan hubungan interpersonal yang baik. Pada awal terapi, terapis akan menyuruh pasien/klien untuk mengungkapkan apa yang dibayangkan oleh individu menyangkut sebuah hubungan persahabatan dan ketakutan-ketakutan yang dirasakan oleh individu dalam menjalin hubungan dengan orang lain. Selanjutnya terapis akan menyusun langkah-langkah kedepan secara bersama dengan klien untuk penyembuhannya.





BAB III
PENUTUP
3.1  KESIMPULAN
                  Gangguan kepribadian schizoid adalah salah satu kelainan dimana terjadi suatu keterbatasan terhadap emosi dan pengalaman seseorang. Seseorang dengan gangguan ini mampu melakukan kegiatannya sehari-hari, tetapi tidak dapat membentuk suatu hubungan yang dekat dengan orang lain. Mereka suka menyendiri dan sangat sering melamunkan sesuatu secara berlebihan.

3.2 SARAN
                  Dalam lingkungan masyarakat seharusnya manusia lebih peka terhadap lingkungan sekitar. Jika ada orang yang mempunyai gejala schizoid, kita tidak boleh menghindarinya dan sebaliknya kita harus mengayomi orang tersebut. Jangan biarkan ia merasa sendiri di dunia ini. 











DAFTAR PUSTAKA
Hill.Nevid, Jeffrey S. (2005).Psikologi Abnormal, Ed.5 Jilid 1. Jakarta :Erlangga.
                  Nolen Susan, Hoeksema (2007). Abnormal Psychology Fourth Edition. New York:Higher Education.
            Carson, C.Robert; Butche, James N.1992. Abnormal Psychology and Modern Life.9thedition.Herper-Collin Publisher Inc.New York.

Kaplan & Sadok. 1997. Sinopsis Psikiatri Jilid 2. Jakarta : Binarupa Aksara medlineplus dan mayoclinic

No comments:

Post a Comment