Thursday, November 20, 2014

Tak Butuh Alasan


“Lala, aku sayang banget sama kamu, kita  udah deket sekitar 3 tahun lamanya. Aku ngerasa hari- hari aku indah banget sama kamu. Makasih udah bisa ngerubah aku jadi cowok yang lebih baik lagi. La aku sekarang ingin bertanya kepada kamu, mau gak kalau kamu jadi pacar aku?” . Kata-kata itu yang membuat seakan detak jantung ini berhenti. Aku tidak pernah menyangka Adam akan mengungkapkan perasaannya. Adam cowok yang aku taksir sejak SMA. Dia adalah sahabat dan juga kakak bagiku. Aku tidak pernah tahu jika Adam mempunyai perasaan yang sama terhadap ku. “kamu serius?” tanyaku. Adam mengeluarkan buklet bunga mawar merah dari balik punggungnya. “Iya aku serius La, aku sayang sama kamu dan aku harap kamu bisa terima aku dan mempunyai perasaan yang sama”. Aku terdiam dan membisu. Jari tanganku kaku dan seluruh badanku terasa bergetar. Apakah aku hanya mimpi?. “Aku mau kok nemenin kamu terus sampai kapanpun, aku juga sayang sama kamu”jawab ku. Hari itu adalah hari yang tak akan aku lupakan sampai kapanpun. Hari dimana Adam menyatakan cintanya. Adam adalah pacar pertama ku, begitu pula sebaliknya. Kami saling mengasihi dan mencintai.

Dua tahun berlalu dan Adam masih menjadi pendampingku. Banyak kisah yang terjadi saat dua tahun lamanya. Pertengkaran membumbui hubungan kami. Aku tahu apabila aku terlalu egois dan ke kanak - kanakan. Dia selalu sabar dalam menghadapi aku. Suatu hari Adam mengajak ku ke sebuah taman yang indah dan di kelilingi oleh bunga mawar. Ternyata ia sengaja membuat taman rahasia untuk ku. Ia tahu apabila bunga mawar adalah kesukaan ku. Ia memetikan satu tangkai bunga mawar merah dan di berikan kepadaku. “Ini untukmu sayang”. Aku hanya terdiam membisu sambil menatapnya. “Kamu kenapa?” tanya Adam dengan rasa khawatir. “Adam, kenapa kau menyukaiku? Kenapa kau mencintaiku?” tanya ku sambil menatap matanya. “Aku juga tidak tahu alasannya tetapi aku sangat menyukaimu, mencintai kamu, sayang”. “Kamu jahat!. Kamu bahkan tidak bisa menyebutkan satu alasanpun mengapa kamu mencintai aku. Kalau suatu saat nanti ada yang lebih cantik dari aku pasti kamu akan meninggalkan aku. Bagaimana kau bisa bilang kau mencintai aku jika kau tak tahu alasannya?” tanyaku yang mulai menangis. “Lala, aku sungguh tak tahu mengapa, tapi bukankah perhatian, kasih sayang dan kehadiraku dihidupmu telah membuktikan ketulusan cintaku?” sambil memegang tanganku. “ Bukti apa? Semua tidak membuktikan apapun. Aku hanya butuh alasan mengapa kamu menyukaiku, mencintaiku?” ku lepaskan tangannya . Aku tersadar air mata ini sudah jatuh dari pipiku. “La, jangan nangis aku gak suka lihat kamu sedih. Baiklah akan aku coba cari alasanya. Emm karena kamu cantik, kamu punya suara yang indah, kulitmu halus, rambutmu lembut.
Cukupkah alasanku?”. Aku pun mengangguk dan menerima dengan senang hati bunga mawar itu. Aku dan Adam memutuskan untuk pulang karena hari sudah semakin sore.

17 November 2015 adalah hari ulang tahun Adam. Aku sengaja pergi ke sebuah mall untuk membeli kue coklat kesukaannya. Saat itu aku terburu-buru ingin memberi sebuah kejutan untuk Adam. Tanpa aku sadari sebuah mobil yang melaju dengan kencang menghantamku. Penglihatanku buram dan seketika aku tak sadarkan diri. Semuanya terasa gelap bagiku. Aku tak tahu apa yang terjadi setelah itu. Cahaya yang menyilaukan seakan membangunkanku. Ternyata aku tersadar dari koma. Sudah 2 hari aku tak sadarkan diri. Aku melihat Ayah dan Ibuku menangis. Aku bingung apa yang terjadi. Aku merasakan nyeri yang teramat sakit d wajah dan kepala ku. Aku ingin berbicara tetapi aku membisu dan bertanya mengapa suara ku hilang?. Aku meraba seluruh tubuhku ternyata banyak luka dan jahitan di seluruh muka ku. Rambutku yang indah harus digunting oleh dokter karena tersangkut oleh kerangka mobil. Aku harus kehilangan suaraku sementara waktu karena pita suaraku rusak akibat benturan keras yang terjadi. Aku terbaring tak berdaya dan hanya bisa menangis. Aku pun tidak ingin bertemu dengan siapapun termasuk Adam.

Hari-hari berat harus aku lalui sendiri. Aku menolak untuk bertemu siapapun. Ibuku masuk kedalam kamarku dan memberikan secarik surat. Aku pun membacanya.

“kekasihku,
Karena suaramu tak semerdu dulu, bagaimana aku bisa mencintaimu?
Dan karena rambutmu kini sudah tak panjang dan lembut lagi, aku tidak bisa membelainya. Aku juga tak bisa mencintaimu.
Apalagi kini banyak jahitan di wajahmu yang dulu mulus.
Jika benar cinta itu butuh alasan, kurasa aku benar- benar tak bisa mencintaimu lagi sekarang.

Tetapi cintaku bukan cinta yang palsu. Cintaku kepadamu tulus. Aku menyukai dirimu yang apa adanya. Aku tidak jatuh cinta karena kau punya suara yang merdu, rambut yang lembut ataupun kulit yang mulus. Aku mencintaimu tanpa alasan apapun. Sampai kapanpun, aku tetap akan mencintaimu. Sekalipun nanti rambut putihmu mulai tumbuh , kulitmu mulai menua dan keriput, aku selalu mencintaimu.
Menikahlah denganku...”

Aku terdiam seakan selama ini sudah bertindak bodoh. Air mata yang terus membasahi pipiku. Aku yang selama ini meragukanmu, Adam. Aku mencoba teriak sebisaku. Aku menulis sebuah pesan kepada ibuku untuk memberi tahu Adam apabila aku ingin bertemu. Aku sekarang yakin dan percaya kepadanya. Aku tidak akan pernah meragukan kekuatan cinta yang tulus.

Cinta tak pernah membutuhkan alasan. Ia juga akan hadir secara misterius. Datang tanpa pernah di duga sebelumnya. Percayalah akan kekuatan cinta, karena kau tidak akan pernah tahu seberapa besar ia akan membuat hidupmu bahagia.


No comments:

Post a Comment