“Lala,
aku sayang banget sama kamu, kita udah
deket sekitar 3 tahun lamanya. Aku ngerasa hari- hari aku indah banget sama
kamu. Makasih udah bisa ngerubah aku jadi cowok yang lebih baik lagi. La aku
sekarang ingin bertanya kepada kamu, mau gak kalau kamu jadi pacar aku?” .
Kata-kata itu yang membuat seakan detak jantung ini berhenti. Aku tidak pernah
menyangka Adam akan mengungkapkan perasaannya. Adam cowok yang aku taksir sejak
SMA. Dia adalah sahabat dan juga kakak bagiku. Aku tidak pernah tahu jika Adam
mempunyai perasaan yang sama terhadap ku. “kamu serius?” tanyaku. Adam mengeluarkan
buklet bunga mawar merah dari balik punggungnya. “Iya aku serius La, aku sayang
sama kamu dan aku harap kamu bisa terima aku dan mempunyai perasaan yang sama”.
Aku terdiam dan membisu. Jari tanganku kaku dan seluruh badanku terasa
bergetar. Apakah aku hanya mimpi?. “Aku mau kok nemenin kamu terus sampai
kapanpun, aku juga sayang sama kamu”jawab ku. Hari itu adalah hari yang tak
akan aku lupakan sampai kapanpun. Hari dimana Adam menyatakan cintanya. Adam
adalah pacar pertama ku, begitu pula sebaliknya. Kami saling mengasihi dan
mencintai.
Dua
tahun berlalu dan Adam masih menjadi pendampingku. Banyak kisah yang terjadi
saat dua tahun lamanya. Pertengkaran membumbui hubungan kami. Aku tahu apabila
aku terlalu egois dan ke kanak - kanakan. Dia selalu sabar dalam menghadapi
aku. Suatu hari Adam mengajak ku ke sebuah taman yang indah dan di kelilingi
oleh bunga mawar. Ternyata ia sengaja membuat taman rahasia untuk ku. Ia tahu
apabila bunga mawar adalah kesukaan ku. Ia memetikan satu tangkai bunga mawar
merah dan di berikan kepadaku. “Ini untukmu sayang”. Aku hanya terdiam membisu
sambil menatapnya. “Kamu kenapa?” tanya Adam dengan rasa khawatir. “Adam,
kenapa kau menyukaiku? Kenapa kau mencintaiku?” tanya ku sambil menatap
matanya. “Aku juga tidak tahu alasannya tetapi aku sangat menyukaimu, mencintai
kamu, sayang”. “Kamu jahat!. Kamu bahkan tidak bisa menyebutkan satu alasanpun
mengapa kamu mencintai aku. Kalau suatu saat nanti ada yang lebih cantik dari
aku pasti kamu akan meninggalkan aku. Bagaimana kau bisa bilang kau mencintai
aku jika kau tak tahu alasannya?” tanyaku yang mulai menangis. “Lala, aku
sungguh tak tahu mengapa, tapi bukankah perhatian, kasih sayang dan kehadiraku
dihidupmu telah membuktikan ketulusan cintaku?” sambil memegang tanganku. “
Bukti apa? Semua tidak membuktikan apapun. Aku hanya butuh alasan mengapa kamu
menyukaiku, mencintaiku?” ku lepaskan tangannya . Aku tersadar air mata ini
sudah jatuh dari pipiku. “La, jangan nangis aku gak suka lihat kamu sedih.
Baiklah akan aku coba cari alasanya. Emm karena kamu cantik, kamu punya suara
yang indah, kulitmu halus, rambutmu lembut.
Cukupkah alasanku?”.
Aku pun mengangguk dan menerima dengan senang hati bunga mawar itu. Aku dan
Adam memutuskan untuk pulang karena hari sudah semakin sore.
17
November 2015 adalah hari ulang tahun Adam. Aku sengaja pergi ke sebuah mall
untuk membeli kue coklat kesukaannya. Saat itu aku terburu-buru ingin memberi
sebuah kejutan untuk Adam. Tanpa aku sadari sebuah mobil yang melaju dengan
kencang menghantamku. Penglihatanku buram dan seketika aku tak sadarkan diri.
Semuanya terasa gelap bagiku. Aku tak tahu apa yang terjadi setelah itu. Cahaya
yang menyilaukan seakan membangunkanku. Ternyata aku tersadar dari koma. Sudah
2 hari aku tak sadarkan diri. Aku melihat Ayah dan Ibuku menangis. Aku bingung
apa yang terjadi. Aku merasakan nyeri yang teramat sakit d wajah dan kepala ku.
Aku ingin berbicara tetapi aku membisu dan bertanya mengapa suara ku hilang?. Aku
meraba seluruh tubuhku ternyata banyak luka dan jahitan di seluruh muka ku.
Rambutku yang indah harus digunting oleh dokter karena tersangkut oleh kerangka
mobil. Aku harus kehilangan suaraku sementara waktu karena pita suaraku rusak
akibat benturan keras yang terjadi. Aku terbaring tak berdaya dan hanya bisa
menangis. Aku pun tidak ingin bertemu dengan siapapun termasuk Adam.
Hari-hari
berat harus aku lalui sendiri. Aku menolak untuk bertemu siapapun. Ibuku masuk kedalam
kamarku dan memberikan secarik surat. Aku pun membacanya.
“kekasihku,
Karena
suaramu tak semerdu dulu, bagaimana aku bisa mencintaimu?
Dan
karena rambutmu kini sudah tak panjang dan lembut lagi, aku tidak bisa
membelainya. Aku juga tak bisa mencintaimu.
Apalagi
kini banyak jahitan di wajahmu yang dulu mulus.
Jika
benar cinta itu butuh alasan, kurasa aku benar- benar tak bisa mencintaimu lagi
sekarang.
Tetapi cintaku bukan cinta yang
palsu. Cintaku kepadamu tulus. Aku menyukai dirimu yang apa adanya. Aku tidak
jatuh cinta karena kau punya suara yang merdu, rambut yang lembut ataupun kulit
yang mulus. Aku mencintaimu tanpa alasan apapun. Sampai kapanpun, aku tetap
akan mencintaimu. Sekalipun nanti rambut putihmu mulai tumbuh , kulitmu mulai
menua dan keriput, aku selalu mencintaimu.
Menikahlah denganku...”
Aku
terdiam seakan selama ini sudah bertindak bodoh. Air mata yang terus membasahi
pipiku. Aku yang selama ini meragukanmu, Adam. Aku mencoba teriak sebisaku. Aku
menulis sebuah pesan kepada ibuku untuk memberi tahu Adam apabila aku ingin
bertemu. Aku sekarang yakin dan percaya kepadanya. Aku tidak akan pernah
meragukan kekuatan cinta yang tulus.
Cinta
tak pernah membutuhkan alasan. Ia juga akan hadir secara misterius. Datang
tanpa pernah di duga sebelumnya. Percayalah akan kekuatan cinta, karena kau
tidak akan pernah tahu seberapa besar ia akan membuat hidupmu bahagia.
No comments:
Post a Comment