Saturday, September 27, 2014

Dia Untuknya


“SARAHHHH!!!!! Lo harus tau kalo tadi pagi Janson bilang hey ke gue HAHAHA, Yaampun gue mau mati saking gak tahan lihat  senyumannya itu loh Sar, aduh tolongggg!!!” Yap...begitulah kelakuan Valerie. Cewek cantik yang berbadan jenjang dan dikarunia wajah yang manis  dengan hebohnya mendatangi gue dan Stella di kantin. “Woy!! Kalo ngomong tuh nafas dulu dong Val! Emang bibir lo tuh gak capek apa buat ngomongin si Janson mulu yang tiap hari gak ada perubahan bilang hey ..hi ..hello sama lo? Gue rasa dia bilang hey ke semua siswi di sekolah ini Val, jadi lo gak usah kepedean dulu kali hahaha” ejek Stella. “Eh enak aja lo, Janson itu naksir gue ya jelas lah dia bakal say hay ke gue tiap hari, ah sirik aja kan lo gak ada yang bilang hay ke lo tiap pagi kayak gue ?” jengkel Valerie kepada Stella. Saking jengkelnya Valerie kepada Stella, Vall pun meninggalkan kami di kantin dan ia  menuju kelas dengan bibir yang terus mengoceh sepanjang jalan. Begitulah kelakuan para sahabatku , Valerie dan Stella . Mereka adalah sahabat terbaikku saat ini, Kita sudah bersahabat sejak awal SMA. Yap sudah 2 tahun kami bersahabat dan sudah 2 tahun pula kami merasakan suka duka bersama. Semua hal kita bicarakan bersama, dari guru killer yang tiap hari ngamuk karena kami tidak mengerjakan tugas – tugasnya, sampai  gebetan kita masing masing. Valerie adalah sahabatku yang paling cerewet dan lemot otaknya, tetapi dia juga yang paling cantik diantara kami bertiga, bukannya aku merendah tapi memang begitulah keadaannya. Stella adalah cewek blasteran Australia-Indonesia yang logat inggrisnya gak bisa hilang kalo ngomong. Dia itu cewek yang paling jail dan lucu diantara kami bertiga, Stella mempunyai lesung pipi yang setiap cewek melihatnya akan iri terhadapnya…bisa dibayangkan cantiknya Stella seperti apa. Oh iya dari tadi aku sibuk memperkenalkan sahabatku , tetapi aku lupa memperkenalkan diri ku.  Namaku Sarah, gadis biasa dan asli keturunan Indonesia. Mungkin aku tidak terlalu cantik dibandingkan dengan dua sahabatku , tetapi menurut mereka akulah yang paling baik dan penyabar diantara mereka. Menurut teman – temanku,  aku mempunyai senyum yang indah dan mata yang sangat coklat. Walaupun sedikit senyum –senyum karena penilaian mereka setidaknya ada sedikit yang bisa aku banggakan dari diriku. Pagi ini sudah dihiasi dengan sedikit kekacauan , Vall yang ngambek dan kembali ke kelas akhirnya benar – benar marah kepada Stella. Aku tau itu hanya upaya Vall agar bisa di comblangkan dengan Janson, cowok yang paling eksis di sekolah kami. Janson adalah cowok yang paling sering di bicarakan tiap cewek di sekolah kami. Dia adalah pemain basket sekaligus ketua Osis di sekolah kami , tentu saja semua cewek mau dekat dengannya. Selain itu Janson adalah kakak dari Stella, ya memang mereka kakak - beradik tetapi usia mereka hanya terpaut beberapa bulan saja. Upaya Vall yang ngambek terhadap Stella pun bisa di tepis dengan kejailan stella. Vall memang sedang berusaha mendekati Janson yang dari dulu terkenal ganteng dan………….masih jomblo sampe sekarang. Tapi aku rasa dia adalah satu – satunya cowok  yang tidak tertarik dengan kecantikan Valeri. “Kakak lo tuh normal kan Stell? Gue curiga dia itu….” “Enak aja lo kalo ngomong Vall! Janson tuh seratus persen normal dan dia single sampe sekarang itu ada maksutnya tau!.” Timpal Stella dengan kesal. “Tiga tahun yang lalu Janson pernah punya pacar, namanya Calista. Pacaranya itu baik banget terus lembut dan Janson sayang banget sama dia, sampe-sampe mereka janji mau nikah kalau sudah dewasa nanti. Delapan bulan mereka pacaran, Janson mulai ngerasa kalau Calista itu mulai menjauh dari dia. Akhirnya Janson cari tau kenapa Calista malah menjauh dari dia..Ternyata dia bukan menjauh, tetapi  selama ini Calista mengidap penyakit yang mengerikan yaitu kanker stadium III. Saat empat bulan mereka menjalain hubungan, Calista sudah mengira akan berakhir seperti ini tetapi dia tidak tega memberi tau Janson mengapa ia menjauhinya. Setelah meninggalnya Calista, Janson jadi dingin sama cewek, dan dia gak pernah deket sama cewek mana pun, dia gak mau masa lalunya menghantui lagi, jadi dia memutuskan untuk fokus belajar dan meningkatkan prestasi non-akademiknya. Makanya Vall lo jangan asal ngomong, Janson tuh bukan …….”  “Iya –iya Stell gue minta maaf bangeeeetttttt!!! Gue gak tau kalo Janson punya trauma percintaan yang parah gitu. Ah andai dulu dia ketemu gue duluan, pasti sampe sekarang kita udah bahagia banget ya Stell.” hahaha typical Vall, selalu lemot terhadap semua pembicaraan serius, tapi begitulah sahabatku, aku tak menyalahkan mereka yang begitu naïf dan juga kadang menjengkelkan tapi aku tidak menyalahkan diriku membiarkan mereka menjadi sahabatku, ya itulah kami…apa adanya.
“Stell , Vall gue kayaknya langsung pulang aja deh soalnya jam 2 gue ada les nih, gapapa  kan kalo gue tinggal duluan? Gue udah kena omel bokap gue nih karena gue kan udah bolos 3 kali dalam seminggu, ya lo taulah bokap gue gimana.. gue pulang duluan yah?” pinta ku kepada kedua sahabatku sambil memelas karena Stella ngotot minta aku untuk menemaninya membeli kado untuk pacar barunya. “Yah elah ngapain sih les, biasa cabut juga…eh tapi kalo gue ngebayangin muka bokap lu sih gue jadi pikir –pikir lagi buat nemenin Stella beli kado, yaudah deh lo pulang aja, tapi hati – hati ya Sar.” Ucap Valerie dengan nada dan tampang polosnya. Jam menunjukan pukul 13.30 dan sepertinya aku tidak sempat untuk pulang, jadi aku memutuskan untuk langsung menuju tempat les ku yang tidak terlalu jauh dari sekolah. Aku heran, sepertinya aku adalah siswi yang paling rajin di tempat les ini karna aku tidak melihat satupun murid yang datang, akhirnya aku memutuskan untuk duduk di tengah dan memainkan iPhone ku, ya walaupun aku tahu aku hanya mengeser layar iPhone ku ini. Pekerjaan yang tidak peting. Setelah bel berbunyi menandakan dimulainya pelajaran akhirnya sedikit demi sedikit teman -temanku datang.  Aku heran kenapa semakin hari semakin sesak kelas ini, atau memang jumlah murid di kelas ini bertambah, sudahlah aku pun tidak terlalu peduli dengan hal seperti itu. Aku memasang head-set ku di telinga dengan suara yg cukup keras. Musik yang membantuku melupakan hari yang penat ini. Tiba tiba seseorang mencolekku . “Gue duduk sini ya Sar, abis gue cuma kenal lo doang, boleh kan? Gue serem aja semua cewek disini ngeliat kearah gue, itu buat gue risih.” Aku terdiam. Jantung ku hampir berhenti karna Janson memanggilku dan ia ingin duduk di sebelahku. Aku tahu hampir 60 persen dari kelas ini adalah siswi perempuan, makanya Janson takut dan risih karna mereka pasti juga tergila – gila dengan pesona Janson. “Oh …………….oke duduk aja, lagian ini juga kosong kok …” Kataku dengan suara gemetar. “Gue dipaksa Bokap gue buat les disini, kalo gak karna delapan bulan lagi kita menghadapi Ujian Nasioanal gue juga gak mau deh les, mending dirumah main PS atau latihan basket. Ini lagi si Stella gue ajak les malah pergi ke mall dan milih tempat les yang beda dari gue, gaya banget sih dia!” guman Janson yang terlihat kesal. Sepertinya ini adalah hari buruk untuknya………tetapi hari baik untuk ku karena sepertinya dugaan ku salah mengenai Janson yang dingin. Sejak hari itu Janson selalu duduk disampingku saat sedang les. Aku tidak tau kenapa ia tidak mau pindah posisi dari bangku itu atau hanya aku yang berlebihan menganggap ia sengaja duduk disebelahku. Entahlah aku pun bingung dengan hal ini.
Jam dinding menunjukan pukul 22.30 dan aku seperti biasa terjaga di larut malam ini, tiba –tiba iPhone ku berbunyi dan menandakan adanya pesan singkat dari seseorang. Aku mengabaikan hal tersebut karena ku pikir itu hanya pesan singkat dari operator malam yang menjanjikan hadiah atau ringtone yang tidak jelas maksudnya. Nada pesan masuk pun berdering lagi, akhirnya ku buka pesan singkat yang dari tadi masuk. ”Sar, maaf ganggu malem-malem… lo udah tidur ya? –Janson.” Betapa terkejutnya aku ketika membaca pesan itu. Tak ku sangka itu adalah pesan singkat dari Janson. Mengapa ia mengirimkan dan bertanya seperti itu? Dari mana Janson tau nomer handphone ku? Semua pertanyaan itu muncul di kepala ku dan aku tetap terkejut ternyata pesan singkat itu dari Janson. “Gue belum tidur kok, ada apa?” balasku kepadanya dengan mata yang tak berpaling dari layar hp ku menunggu sebuah balasan. “Oh gue Cuma iseng aja soalnya gak bisa tidur nih, yaudah gue sms lo deh, gue gak ganggu gak Sar? hehe oh iya lo lagi apa Sar?”…. Balasan pesan itu. Aku terheran mengapa Janson begitu asik diajak ngobrol walaupun dia agak sedikit pemalu dan dingin tetapi aku tak manyangka ia adalah cowok yang paling asik dan bijaksana. Sejak saat itu kami semakin dekat. Awalnya aku mengira ini adalah sebuah persahabatan yang baik dengannya, tetapi aku mulai sedikit memiliki perasaan yang lebih untuknya. Cara bicaranya, tatapan matanya, cara ia tersenyum padaku, cara ia membalas pesan singkat ku, semua cara yang ia lakukan membuatku semakin terpesona olehnya. Aku menyadari hal tersebut. Jantungku berdekup kencang saat Janson tersenyum padaku. Aku menyukai nya. Ya sepertinya aku berharap ia memiliki perasaan yang sama denganku.
“Semalem gue chat Janson aja di whatsapp abisnya gue penasaran sama dia. Eh ternyata di bales juga. Aduh Stell kakak lo tuh perfect banget ya! Udah ganteng, baik, bijaksana pula. Ah makin suka gue sama dia” ucap Valerie kepada Stella dengan nada suara yang cukup keras. “what lo ngedeketin kakak gue lagi? Gila pantang menyerah banget hahaha oke oke lanjutkan Vall!” aku yang mendengar respon Stella kepada Valerie pun sedikit kecewa. Aku tak  seharusnya kecewa. Siapa aku untuk Janson. Dia hanya sahabat rahasiaku. Hanya aku dan dirinya  yang tau soal kedekatan kami..sebagai sahabat. Satu bulan berlalu banyak rumor mengatakan Janson dan Valerie sudah berpacaran. Selama satu bulan Janson tidak pernah mengirimkan ku pesan singkat seperti dulu. Tidak ada cerita lucu darinya atau kabar darinya. Ia pun juga jarang masuk les. Aku kehilangannya. Sahabat rahasiaku. Aku memutuskan untuk mengirimkan pesan singkat untuknya, hanya untuk sekedar basa-basi agar tau mengapa ia tidak pernah memberiku kabar lagi. “Janson lo kemana aja kok gak pernah les?”. Aku mengirimkan pesan itu kepadanya, tetapi tak kunjung ada balasan darinya. Sepertinya ia benar – benar menjauhiku tanpa tau apa salahku. “Hey Sar, maaf gue baru bales soalnya tadi gak bawa hp, oh iya Sar gue kangen banget nih cerita sama lo. Gue mau cerita sesuatu nih Sar sama lo, mau ngasih tau sesuatu yang paling rahasia. Gue tunggu di café biasa ya.” Lagi –lagi pesan singkat yang memberikan harapan. Apa maksud dari ingin memberi tahu rahasia penting kepadaku? Atau Janson ingin menembakku dengan mengatakan ia menghilang karna ia mencintai ku? Ah itu hanya pikiran aneh ku saja. Aku yang buru – buru ke café tempat biasa kami bertemu pun tak sabar ingin mendengar rahasia terpenting Janson. Aku penasaran apa yang ingin ia beri tahu kepadaku. “Hey Sar duduk sini. Nih udah gue pesenin greentea late kesukaan lo hehe. Oh iya Sar  gimana kabar lo? Maaf gue gak pernah sms lagi, abis gue sibuk akhir –akhir ini”. Aku tersenyum padanya. Aku bingung mengapa ia terlalu bersemangat ingin menceritakan rahasia terpenting di hidupnya. “Janson…sebenarnya ada apa sih kok lo kayaknya seneng banget hari ini? Emang ada apa sih?.” Tanyaku dengan penuh kebingungan dan rasa heran. “Oh iya haha gue lupa. Jadi selama sebulan ini gue itu sibuk sama sesuatu Sar. Sebulan yang lalu gue deket sama sesorang gitu…..” “Apa? Lo deket sama cewek? kok gak cerita ke gue? wah siapa?”. Jantungku berdetak kencang. Ini pasti mimpi. Janson sedang dekat dengan seorang cewek . Hatiku sakit mendengar itu. “Iya Sar, jadi sebulan yang lalu gue deket sama Valerie. Ituloh sahabat lo yang cantik itu. Awalnya dia chat gue, trus gue ngerasa nyaman sama dia, setelah beberapa minggu ngobrol lewat chat akhirnya gue ajak dia nonton. Trus gue dapet feel gitu sama dia. Gue nyaman sama dia.” Aku terdiam. Sakit rasanya mendengar rahasia terbesar Janson. Hatiku hancur. “gue ngerasa nyaman sama dia dan kayaknya…” “Janson!!!” teriaku. “Udah gak usah dilanjutin.” Air mataku jatuh dan wajahku memerah . “ Sar lo kenapa? Kok malah nangis sih? Gue salah ya?”. “Gak ada yang salah kok , yang salah gue. Harusnya gue gak berharap lebih.” “maksud lo berharap lebih apa Sar? gue gak ngerti.” “Selama ini gue kira kita itu spesial. Senyuman lo, tatapan mata lo, dan cara lo ke gue itu …yang buat gue berharap. Tapi gue salah… lo Cuma anggap gue sahabat lo doang kan ?” tangisan ku pun menjadi. “lo pergi gak ada kabar trus balik dengan ngasih tau ini semua? Gue suka sama lo, apa semua perlakuan gue gak membuat lo sadar?.” Aku menangis dan wajah ku memerah. “Sar………udah beberapa bulan ini kita emang deket, tapi gue menganggap itu hanya sebuah persahabatan. Gue anggap lo sebagai adik gue sendiri. Gue sayang sama lo sebagai sahabat. Kata kata itu..aku terdiam membisu. Aku tak tau harus berbuat apa. Janson mulai memeluku dan menenangkan ku. Aku tak tahu sekarang harus bagaimana. Tangisanku makin menjadi . “Maafin gue Sar gue emang bodoh, gue gak peka apa yang lo rasain ke gue, tapi gue minta maaf kalo…” “Janson”. Aku memotong ucapannya. “Gue emang sayang sama lo tapi bukan berarti lo harus mencintai gue juga. Gue emang salah. Gue terlalu terbawa perasaan. Tapi gue seneng akhirnya orang yang gue sayang juga sayang sama sahabat gue. Gue janji gak akan sedih atau galau karna lo lebih milih Vall. Kalian berdua adalah sahabat terbaik gue. Jangan pernah berfikiran untuk tinggalin gue disini ya, dan lo gak boleh nyakitin Vall tau bikin dia nangis kayak lo lakuin ini ke gue hehe.” Ucapku kepadanya sambil tersenyum.

Setelah kejadian itu, aku memutuskan untuk membuang perasaan kagum dan sayangku kepadanya. Aku memutuskan untuk menjadi sahabatnya. Yap sahabat yang sesungguhnya. Aku tau semua ini memberikanku nilai kehidupan. Mungkin ia bukan yang terbaik untuk ku sekarang. Aku pantas mendapatkan yang lebih baik darinya. Janson, Valerie, Stella mereka akan tetap menjadi sahabatku dan akan selalu menjadi saudaraku. Dan janson sudah ku anggap seperti kakak bagiku dan bagian dari masa lalu ku. 

No comments:

Post a Comment